"Lukanya bagus. Ners, nanti jam lima tolong diganti kassanya," ujar Naya seraya menutup luka pasien. Pasien perempuan bernama Hanum yang merupakan kakak Dean itu tersenyum. Bukannya sedih karena kecelakaan, dia malah senang karena bisa dirawat oleh Naya. "Dokter cantik, ya. Pantes aja adik saya... Aw!" Hanum meringis ketika Dean di samping brankar mencubit lengannya. Mata Dean melotot galak. Masalahnya, di ruangan ini juga ada dokter dan perawat lain. Bisa-bisa malah Naya makin ilfeel padanya. Naya hanya tersenyum canggung. Dia harus profesional di sini. Bagaimanapun, posisi dia sekarang adalah dokter dan Hanum adalah pasiennya. Naya menerima papan jalan dari salah satu koas, lalu membacanya dengan saksama. Sebisa mungkin Naya tidak mempedulikan Dean yang mencuri pandang padanya.

