7. Waktu Itu

1298 Kata
Hari ini Naya pulang cepat. Tidak ada jadwal poli bedah dan hanya ada satu operasi yang harus dia lakukan. Rencananya, Naya ingin mampir ke mall untuk berbelanja. Sayang Farha dan Alma tidak bisa ikut bersamanya. Farha masih ada rapat dan Alma.... Hfft... Jangan pernah bertanya kesibukan pada dokter anestesi yang terkenal langka itu. Beberapa kali Naya mengangguk tiap ada yang menyapanya. Dulu dia residen di rumah sakit ini juga, jadi orang-orang di sini telah mengenal Naya dengan baik meski dia baru satu tahun jadi dokter bedah. Sampai di dekat lobi, Naya dibuat heran oleh Alder yang terlihat kebingungan. Dengan perlahan dia menghampiri lelaki yang usianya tujuh tahun di atasnya itu. "Kenapa, Dok?" tanya Naya begitu ia berada di dekat Alder. "Ada pasien kabur." "Hah? Kabur?" "Iya, anak perempuan enam tahun. Dia harusnya disuntik sekarang. Tapi pas ditinggal mamanya ke kamar mandi malah pergi sendiri." "Lho, suster nggak lihat dia pergi?" Naya ikut celingukan. "Nggak, Nay. Makanya sekarang kita bingung banget. Mana dia masih pakai infus. Takut kenapa-kenapa nantinya." "Profesor." Seorang suster datang dengan napas sedikit terengah. "Tadi saya udah cari sampai lantai tiga, tapi kayaknya nggak ada yang lihat anak perempuan jalan sendiri, Prof." Alder berdecak khawatir. Dia juga telah mencari dan hasilnya nihil. "Mamanya di mana?" "Kalau nggak salah tadi mamanya nyari ke kantin, Prof." Alder menoleh pada Naya yang telah menggunakan baju santai dan tas. "Kamu nggak lagi ngapa-ngapain, kan? Tolong bantu cari di taman, ya. Anak perempuan pakai bando namanya Arin. Suster kamu bantu mamanya di kantin biar saya ke bangsal lain." "Iya, Prof." Alder dan Narnia bergerak cepat sementara Naya hanya mengangguk dengan masih berdiam di tempatnya. "Mas Alder tuh pinter-pinter b**o, ya," monolog Naya. "Kenapa gitu nggak nyari lewat CCTV?" Naya menggeleng pelan. Berhubung dia tidak tahu wajah si anak, jadilah dia menuruti perintah Alder untuk mencari ke taman. Taman rumah sakit berada tak jauh dari apotek. Taman ini luas drngan banyak bangku dan meja. Biasanya, taman ini menjadi tempat pasien berjalan-jalan jika mereka bosan di kamar inap. Naya berjalan menuju ke toko kecil di ujung taman. Toko ini terpisah dari kantin lain, karena memang hanya melayani untuk orang-orang yang berada di taman. "Bu," panggil Naya pada Bu Eni sang penjaga warung. "Eh, kenapa, Dok?" "Lihat anak perempuan pakai bando, masih diinfus jalan sendirian?" Bu Eni mengernyit lalu menggeleng. "Saya nggak paham, Dok. Ini taman lagi lumayan ramai." Naya mengangguk, lalu berpamit setelah mengucap terima kasih. Ia lalu mengedarkan pandangan ke seluruh taman. Matanya mengerjap pelan saat mendapati laki-laki yang satu bulan ini absen dari pandangan Naya. Dean tampak berlutut di depan bangku taman. Naya dari arah samping mendekat, namun tetap berjarak. Ia sengaja ingin mendengar pembicaraan Dean dengan anak perempuan yang duduk di hadapannya. "Masa Elsa pernah disuntik?" Suara khas anak kecil ditambah ekspresi hiperbolanya membuat Naya gemas. "Iya, Arin. Semua orang kalau sakit terus dokter nyuruh disuntik pasti disuntik." Naya menggigit bibir saat melihat cara bicara Dean yang berubah. Matanya melebar dan kepalanya bergerak agar Arin memperhatikannya. "Aaah... Tapi nanti disuntik sakit nggak?" Arin menunjukkan wajah cemberut. "Sakit dong." Naya menaikkan alis mendengar jawaban Dean. "Tapi sakitnya nggak seberapa dibanding sakitnya Arin sekarang. Emangnya di rumah sakit terus dipakein infus gini enak?" Arin menggeleng cepat. "Nggak enak! Arin bosan, terus nggak ketemu Raja." "Raja?" "Iya, teman sekelas Arin yang ganteng." Jawaban Arin membuat Dean menahan napas. Naya sendiri tengah berusaha menahan rasa geli. "Makanya Arin mau disuntik, ya? Kalau Arin disuntik nanti cepat sembuh. Kalau Arin cepat sembuh, nanti bisa cepat-cepat ketemu Raja." "Huuufffttt." Wajah Arin kini sepenuhnya tertekuk. Pundaknya diturunkan dan kepalanya menunduk. Di satu sisi gadis kecil itu ingin segera bertemu Raja. Di sisi lain, dia takut disuntik! Kata mama dia disuntik jika nakal, berarti disuntik merupakan hukuman, bukan? "Ariiiiin." Naya berjalan riang menuju Arin dan Dean, lalu ikut berlutut di sebelah lelaki itu. Dean menatap Naya tak berkedip. Baru tidak bertemu satu bulan saja Naya makin cantik. "Kamu Arin, kan?" tanya Naya sembari menyingkirkan daun kecil di rambut Arin. "Iya aku Arin. Kamu siapa?" Arin menatap Naya heran. "Aku Dokter Naya, temannya dokter Alder. Arin kenal dokter Alder, kan?" Arin mengangguk semangat. Dokter itu yang mengawasinya selama ini. Arin suka pada Alder yang ramah dan sering memberinya hadiah. "Dokter Naya teman dekatnya Om Dean, lho." Arin mengerjap. Teman dekat? "Pacarnya?" "Bukan!" sergah Naya cepat. Ia tersenyum manis dan segera mengganti topik pembicaraan. "Tadi aku ketemu mamanya Arin, lho. Mamanya Arin khawatir karena kamu kabur. Arin kenapa lari? Nggak mau disuntik?" Arin mengangguk lesu. "Kalau suster yang nyuntik pasti sakit." "Terus Arin maunya disuntik siapa?" "Nggak mau disuntik," ucap Arin yang kini melipat tangan di depan d**a. Naya dan Dean berpandangan sejenak sebelum Naya segera memutus pandangan mereka. "Kalau disuntik dokter Alder mau?" Arin melirik mendengar tawaran Naya. "Biasanya anak-anak yang lain suka kalau disuntik sama dokter Alder. Dokter Alder kalau habis nyuntik pasti ngasih hadiah istimewa. Arin pernah dikasih hadiah sama dokter Alder?" "Pernah. Aku pernah dikasih boneka kecil sama bando ini." Tangan Arin memegang bando biru di kepalanya. "Tuh, kan! Berarti Arin harus mau disuntik dokter Alder biar dapet hadiah istimewa." "Tapi kata mama yang nyuntik aku suster." "Nanti biar aku bilangin supaya dokter Alder yang nyuntik. Gimana? Arin mau?" Meski setengah tidak rela, Arin akhirnya mengangguk setelah berpikir sejenak. Dean lalu menggendong Arin, sedangkan infus gadis itu dibawa oleh Naya. Bersama-sama mereka mengantar Arin ke kamar inapnya. Alder, Mama Arin, dan suster datang tak lama setelah mendapat kabar dari Naya. Tepat seperti ucapan Naya, Alder menjanjikan hadiah istimewa jika Arin mau disuntik. "Makasih ya, Nay," ucap Alder setelah keluar dari ruangan Arin. "Sama-sama, Mas. Lagian aku nggak nyari-nyari banget, kok. Kebetulan emang dianya lagi di taman." "Emm... Itu..." Alder memberi kode ke arah Dean. "Tadi dia nggak sengaja ngeliat Arin duduk sendiri." "Makasih, ya." Alder mengangguk ramah pada Dean. "Ya udah kalau gitu saya permisi dulu," pamit Alder. Sebelum pergi, ia sempat berkedip pada Naya yang dibalas decakan. "Nay," panggil Dean pelan membuat wanita itu berbalik. "Kamu udah mau pulang." "Iya." "Mau makan siang sama aku? Tapi kali ini aku yang mutusin tempatnya." Naya menatap Dean aneh. Belum juga dijawab eh sudah melunjak. Tapi Naya sedang tak ada niatan untuk menolak. "Oke." "Oke?!" seru Dean terkejut. Tumben sekali Naya mudah diajak makan bersama. Naya melihat ke arloji di pergelangan tangan. "Jam makan siangku bentar lagi habis. Sekarang atau nggak sama sekali." *** Sebuah restoran yang baru dibuka tiga hari yang lalu menjadi pilihan Dean. Meski hanya tiga kilometer dari rumah sakit, Naya tak tahu tentang pembukaan restoran ini. Naya duduk nyaman di sebuah balai yang dibangun di atas kolam ikan. Jumlah pengunjung di sini cukup ramai untuk jam makan siang yang telah lewat. "Kamu pasti suka makanan di sini," ucap Dean saat seorang pelayan membawa pergi pesanan mereka. "Nggak lihat pengumuman di depan? Orang baru dibuka tiga hari yang lalu. Tahu dari mana aku bakal suka?" "Ini restoranku, Nay." Naya menelan ludah. Jadi selain punya pabrik makanan, lelaki ini jug apunya restoran? "Oh. Aku nggak tau. Kirain kamu udah balik ke Amerika," ucap Naya ketus. "Habis kita makan nasi goreng itu, aku pergi ke Jogja. Aku ke rumahnya budhe Nia." Naya hanya mengangguk pelan. "Aku sengaja buka cabang di sini biar dekat sama rumah sakit kamu. Untungnya sih bangunan ini emang udah mau dijadiin restoran, jadi aku langsung beli bangunan jadi." "Nggak tanya." "Aku juga pindah rumah." Naya tampak tak tertarik. Dia malah sibuk melihat ke kolam ikan sampai sesuatu terlintas di pikirannya. "Aku mau nanya sesuatu." "Silahkan." Dean tersenyum manis pada Naya. "Waktu kamu di Amerika, setelah kamu lulus kuliah..." Naya menjeda kalimatnya sebentar. "Atau mungkin setelah kamu dapat kerja di sana. Kamu... Nggak pernah nyari aku?" Senyuman Dean berubah canggung. Pria itu menghela napas panjang. Ia meremas pelan ujung kaos yang tersembunyi di balik meja. "Waktu aku lulus kuliah... Aku... Sudah menikah, Nay." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN