“Gue nggak peduli seberapa kaya keluarga Danendra itu, Audrey. Kalau cowok itu bikin lu nangis begini, kita bertiga yang bakal hadapi dia!” Uap hangat membubung tipis dari secangkir teh chamomile yang disodorkan Monica ke jemari Audrey. Fajar baru saja menyingsing di atas langit Surabaya, membiaskan warna keemasan lembut yang menerobos masuk ke teras rumah sederhana milik Audrey. Audrey, yang sejak tiba dari penthouse hanya duduk melamun menatap lantai dengan mata sembap dan gaun malam yang belum sempat diganti, mendongak pelan. Di sebelahnya, Monica berdiri dengan kedua tangan bersedekap di d**a, matanya menyipit berang. Sementara itu, Leo duduk di kursi plastik di seberang mereka seraya menghela napas panjang, meremas jemarinya dengan raut wajah serba salah. “Mon, tenang dulu ...” bis

