"Jadi, lo nyuruh gue ke sini pagi-pagi banget cuma buat liat lo masak bubur gini?" Sheryl mendaratkan bokongnya di kursi sembari menatap Fani dengan jengkel. Maksudnya Fani itu apa coba, pagi-pagi sekali menghubungi Sheryl dengan suara tercekik nyaris histeris kalau saja gadis itu tidak menahannya. Entah saking bingungnya, saking senengnya, apa saking stressnya dia— sampai harus mengubungi Sheryl pagi buta pas mata masih enaknya buat merem. Terlalu panik dengan suara Fani dan ucapannya yang tak juga menjelaskan apa maksudnya, membuat pikiran Sheryl seketika meliar. Takut kalau Fani ada masalah serius. Untuk itu, ia segera meluncur ke rumah Fani dengan kilat. Melupakan ritual mandi paginya yang bisa sampai satu jam untuk memanjakan diri, begitu sampai di rumah Fani, justru yang ditemuiny

