Bab 7

1315 Kata
Seperti ajakan Viana tadi siang, aku dan teman-temanku pun sore ini jalan-jalan di bazar yang berada tak jauh dari pondok. Hari ini memang hari bebas, jadi semua santri bisa pergi kemana saja asal kembali sesuai waktu yang ditetapkan. Sebenarnya jika hari bebas seperti ini, paling seru kalau jalan-jalan ke kota, tapi karena ini akhir bulan, aku pun sadar harus membawa uang ini kemana agar cukup dan tidak kekurangan.  Suasana bazar sangat ramai, banyak penjual makanan berat, jajanan ringan, es sampai baju atau peralatan rumah tangga lainnya. Pengunjungnya pun kebanyakan santri pondok. "Nanti kita buka puasa di warung angkringan aja yuk," ajak Safa ketika kami berjalan diantara kerumunan bazar. "Bukannya enak kalau uang beli nasinya kita buat beli jajan aja ya? Biar dapet banyak jajannya?" Usul Lida.  "Tapi katanya warung angkringan itu enak banget loh, kita kan selama ini belum pernah nyobak. ayok dong sekali ajaaaa." Bujuk Safa pada Lida. "Iya, Lid. Kita makan di sana aja yuk, bosen juga sama menu buka puasa dipondok." Kali ini Viana turut membujuk Lida.  Aku hanya diam saja, karena sebenarnya aku tidak masalah dengan keduanya. Jika buka puasa di pondok ya ayok..buka puasa di angkringan ya ayok.. "Yauda, terus ngapain kita ke bazar kalau gitu?" Akhirnya Lida terpaksa setuju, sekalipun raut wajahnya kini masih cermberut. "Ya jalan-jalan aja. Liat-liat." Ucap Safa. "Ndelok-ndelok tok yo kecut, Saf." Lida mengucapkan kekesalannya. Dan kami berempat hanya bisa diam. "Yauda, ayo kita beli jajan. Biar aku yang bayarin." hingga malaikat Ani bersuara, dan Lida kembali ceria. Ani memang selalu baik, Sekalipun kisah cintanya selalu menjadi bulan-bulanan kami.  Akhinya kami pun membeli kue laba-laba, telur gulung, sempol dan pentol bakar. Setelah selesai, kami bergegas menuju warung angkringan yang berada tak jauh dari lokasi bazar. setiba di angkringan, kami cukup terkejut, karena keadaan angkringan yang sangat ramai. Untung saja, di dalam masih tersisa beberapa meja kosong, Kami pun menuju meja kosong itu, dan memilih beberapa menu masakan yang ada di sana. Setelah selesai, Safa membawa daftar pesanan kami ke meja kasir untuk dibayar.  Waktu berbuka puasa masih kurang dua puluh menit lagi. Kami pun mengisinya dengan bercerita. Hingga tiba-tiba Lida heboh sampai-sampai mengebrak meja yang ada di hadapannya. Untung saja, keadaan disana cukup ramai, membuat suara gebrakan itu tidak menjadi pusat perhatian. Kami semua saling bertukar tatap karena merasa heran dengan sikap Lida. ada apa? pikir kita semua. "Ada Gus Rifaat!!!" Bisik Lida pada kami sembari menatap ke arah belakangku. Aku pun sontak menatap ke belakang, dan bukannya menemukan Gus Rifat, aku menemukan Baihaqi. Cowok itu tengah sibuk berbicara dengan orang yang ada di hadapannya. Jantungku pun mendadak menjadi berdetak tak karuan. Apalagi jika mengingat surat yang kukasihkan padanya. "Gus Rifat siapa?"  "Mana? Yang mana?"  Ketika semua teman-temanku sibuk mencari sosok Gus Rifat, aku sudah tidak punya selera untuk turut penasaran. Karena kini, pikiranku hanya dipenuhi dengan Baihaqi. Apa surat dariku sudah ia baca? "Gus Rifat siapa si?" Ucap Safa. Dari tadi, cuma safa yang tidak tau siapa Gus rifat yang dimaksud Lida. "Anaknya Yai yang terakhir lo saf." Jelas Viana singkat. "Oalah, mana..mana..." ucap Safa. "Itu loh, yang ada dibelakang kalian. yang pakai jaket merah terus ada logo MU."  Viana, Safa, Ani pun sontak mencari sosok yang dimaksud Lida. Kemudian kesal, karena sosok itu malah membelakangi mereka sehingga mereka tidak bisa melihat wajahnya.  "Yaelah, percuma nggak keliatan." Ucap Viana. "Tapi itu yang sama Gus Rifat bukannya Baihaqi ya?" Kata Ani sembari menatapku. "Iya, itu emang dia." Jawabku singkat. "Terus gimana Ra tadi? Sudah kamu kasihkan suratmu ke Baihaqi?" Tanya Safa yang membuat semua temanku kecuali Viana menatapku penasaran. Aku memang belum cerita sama sekali selepas pulang sekolah. karena toh tidak ada yang perlu ceritakan kan? Aku saja sekarang masih tidak tau, apakah Baihaqi sudah membaca suratku atau belum. "Sudah, tapi kayaknya belum dibaca," Jawabku lesu. "Kok bisa nggak dibaca?" Tanya Lida kembali nyolot. "Nggak tau, pokoknya aku ndak liat dia baca surat sama sekali tadi waktu di kelas, Suratnya pun tadi langsung dimasukin Tas." Ucapku dengan lesu. "Aneh," Saut Ani. "Iya bener An, aneh banget kan? biasanya anak cowok kalau dapet surat bukannya seneng banget ya?' Ucap Viana. "Mungkin Baihaqi uda sering dapet surat gitu, makanya dia mikirnya itu hal yang biasa." Celetukan Safa kali ini mengusik pikiranku. Aku pun semakin resah gelisah, dan parahnya tak tau harus apa.  Aku pun kembali menatap ke belakang, yang sialnya ketika aku menoleh, Baihaqi juga menatapku. Membuat mata kami bertemu, namun anehnya, jika biasanya Baihaqi akan tersenyum jika kami tidak sengaja bertatapan. Kali ini, cowok itu memalingkan pandangannya begitu saja. Seolah aku dan dia tak saling mengenal.  Ya Allah, apakah memberi Baihaqi surat adalah sebuah kesalahan?  -o-  "Nanti waktu istirahat, coba bicara sama dia. tanyakan apakah surat yang kamu kasih sudah dibaca apa belum." Hari ini aku sudah mendengar ucapan Viana seperti itu kira-kira tiga kali. Ketika kami berangkat sekolah, ketika Baihaqi memasuki kelas dan saat ini, ketika pelajaran masih berlangsung.  Aku hanya mengangguk menanggapinya. Sembari melirik sosok Baihaqi yang tengah memperhatikan Bu Aminah dengan serius.  Tidak ada yang spesial ketika kami bertemu di warung angkringan kemarin, yang ada hanya sejuta kalimat tanya yang ingin aku lontarkan ketika Baihaqi mengabaikanku begitu saja padahal sudah kupanggil namanya berulang kali. Semua teman-temanku bahkan heran, kenapa Baihaqi seperti itu. Padahal, biasanya ia yang akan menyapaku terlebih dulu jika kami tidak sengaja bertemu. Ia bahkan tidak tersenyum, wajahnya dingin sedingin tatapannya pagi ini ketika menatapku. Bel istirahat pun sudah berbunyi, Viana mendorong tubuhku untuk segera menuju bangku Baihaqi sebelum cowok itu keluar. Aku ragu, tiba-tiba rasa takut itu bergelanyut dalam diriku. Aku takut, respon Baihaqi akan sama dengan kemarin, aku takut Baihaqi menjadi dingin seperti pagi ini.  "Ayo Ra, gpp. Biar semuanya jelas." Bisik Viana.  Aku masih diam ditempatku, sembari menatap Baihaqi yang tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.  "Lo nggak capek, bertanya-tanya terus?"  "Capek, Vi..capek, tapi sekarang aku takut hal buruk akan terjadi." Ucapku sembari menatap Viana. Aku ingin temanku itu tau, bahwa disini aku pun tersiksa.  "Gpp Ra, yang penting kan kamu sudah usaha. Biar nggak ada penyesalan di masa depan." Aku pun memberanikan diri, melangkah menuju bangku Baihaqi yang ada di deretan paling selatan. Setelah disana, Baihaqi masih tidak sadar, aku ada disana. Hingga Umam--teman sebangkunya, memberitahunya dan meninggalkan kami berdua. Suasana kelas pun tidak seramai tadi, hampir serparuh penghuninya meninggalkan kelas. Hanya tersisa aku, Baihaqi, Viana dan beberapa siswa yang lain.  Baihaqi menatapku sekilas, kemudian ia memalingkan tatapannya tanpa mengucapkan apapun. Ia tidak bertanya kenapa aku berdiri di hadapannya. Membuatku bingung, harus berbicara dari mana dulu. "Bai," dengan suara parau, aku memanggil namanya.  ".." Baihaqi masih sibuk dengan tasnya. Entahlah, apa yang ia cari, sedari tadi, ia sibuk dengan isi di dalam tasnya. Entah ia benar-benar sibuk atau ia ingin menghindariku. "Bai aku boleh bicara sebentar?"  Baihaqi menghentikan aktivitasnya. "Apa?" Ucapnya sekalipun tanpa melihatku. "Kamu sudah baca surat dariku?" Setelah diam lama, akhirnya aku berani mengucapkannya. "Sudah." "Sudah?" Ucapku terkejut, "Terus?"  "Terus?" Kali ini Baihaqi menatapku dengan alis yang terangkat. Ia seolah bingung dengan pertanyaanku. "Maksudnya terus?"  "Em..ya balasannya?"  "Maaf Ra."  Aku mengerjapkan mataku berulang kali, telingaku masih berfungsi dengan baikan? Kenapa Baihaqi bilang Maaf? Apa dia melakukan kesalahan? "Bai, maksudnya apa? Maaf buat apa?" "Nggak bisa balas suratnya." "Oh, gpp Bai. Aku tau kamu mungkin sibuk, jadi nggak usah dibalas suratnya. Yang penting--" "dan maaf aku juga nggak bisa balas perasaan kamu."  Mataku tiba-tiba memanas, ucapan Baihaqi kali ini benar-benar tepat sekali menembus ke ulu jantung. Membuatku merasakan sakit yang luar biasa. Apa katanya? ia tak bisa membalas perasaanku? Lalu apa selama ini? Perhatiannya, senyumnya, s**u coklat itu? Apa maksudnya? Apa itu hanya lelucon? Atau hanya aku yang telalu gr?  Lalu, mengapa teman-temanku salah? bukannya mereka bilang Baihaqi menykaiku? dan mereka bilang surat itu akan berhasil? Kenapa malah kini...ah, hanya dengan satu kedipan, air mata ini mungkin akan luruh. Sebelum itu terjadi, aku beranjak dari sana. Berlari menuju  ke luar kelas. Mengabaikan teriakan Viana yang memanggil namaku. Aku ingin pulang, dan melupakan perasaan gila ini.  tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN