Puzzles 24. Di Tepi Pantai Khayalan

2110 Kata
Arya dan Syila merasa lega setelah mereka keluar dari hutan belantara itu dan kembali melihat pantai yang sama seperti yang sebelumnya. Mereka bergegas menuruni tebing dengan sangat berhati-hati. “Aw!” Syila hampir terpeleset saat menuruni tebing dengan tanah berpasir yang sedikit labil. Untung saja Arya berjalan lebih dahulu di depan Syila, sehingga Arya dapat menangkap tubuh Syila yang hampir berguling. Tatapan keduanya beradu. Tanpa disadari petualangan mereka di dalam alam mimpi Syila, menumbuhkan benih-benih cinta yang bersemi di antara dua insan itu. Namun, keduanya memilih untuk memendam perasaan mereka masing-masing dan terus fokus mencari keberadaan keempat sahabat mereka, beserta satu asisten rumah tangga Raina yang masih tersesat di dalam dimensi pusaran mimpi Syila. “Hati-hati, Syila! Kamu nggak apa-apa?” Arya merasa sedikit khawatir melihat Syila yang hampir terjatuh. Dia kembali teringat bahwa Syila adalah kunci dari dimensi mimpinya itu. Arya mengemban tanggung jawab yang berat untuk menjaga Syila agar tetap terjaga dan bisa menjalankan misi sesuai dengan rencana mereka. “Aku baik-baik saja, Arya! Hanya saja aku sedikit terkejut saat terpeleset di sebelah sana. Makasih, ya, Arya! Sudah dengan sigap menangkapku, jadi aku tetap aman.” Syila yang tubuhnya masih sedikit gemetar merasa tetap aman setelah Arya menolongnya. Memang semua kejadian yang mereka alami hanya ada dalam dimensi mimpi Syila. Bahkan saat Syila terjatuh dari tebing itu pun, sesungguhnya tidak akan menyakiti fisik Syila. Tubuh Syila yang asli ada di dunia nyata. Dia sedang tertidur di lantai dua Villa milik kedua orang tua Raina. Namun, sesuatu hal yang Syila takutkan ketika dia membiarkan dirinya terjatuh dari tebing itu, saat dia terkejut, bisa saja Syila terbangun dari mimpinya. Kalau sampai hal itu terjadi, maka kemungkinan kecil semua sahabatnya bisa kembali ke dunia nyata. Itulah sebabnya Syila sangat berhati-hati ketika bertualang di dalam dimensi mimpinya bersama Arya. Arya sudah mengerti bagaimana konsekuensinya ketika Syila terbangun dari mimpinya itu. Hingga Arya benar-benar sangat menjaga Syila dari bahaya dan berusaha untuk tetap memberikan dukungan kepada Syila agar dirinya tetap terjaga. Sampai semua kembali ke tempat yang semestinya. Arya melepas dekapannya terhadap Syila. Dia tersadar dan kembali mempersiapkan dirinya dalam melanjutkan petualangan bersama Syila untuk mencari keberadaan Angga dan yang lainnya. Sejak saat itu, Arya selalu berada di garda terdepan untuk menjaga Syila. Arya membantu Syila menuruni tebing itu dengan memegangi tangan Syila. Awalnya Syila tertegun, merasa canggung ketika Arya memperlakukan dirinya bak seorang putri raja. Jantungnya berdebar-debar cukup kencang, tapi kembali lagi semua yang terjadi adalah sesuatu yang tidak disengaja. Syila juga merasa bersalah karena dirinya tidak dapat menahan kantuk ketika sedang bersenda gurau bersama sahabat-sahabatnya. Beruntungnya saat itu Arya mengetahui ada yang tidak beres di sana. Beruntungnya lagi, Arya mendapati Syila yang sudah berdiri di tepi balkon. Sedetik saja Arya terlambat, maka tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi. Semua orang akan menghilang bak ditelan Bumi. Namun, Arya ditakdirkan untuk menjadi sang penyelamat. Sebelum kejadian ini Arya sudah sering mendapati puzzle mimpi yang terus berulang mengenai peristiwa yang akan menimpa semua sahabatnya. Arya dan Syila memiliki perasaan yang sama, tapi semuanya harus dipendam dalam hati agar mereka fokus untuk terus melanjutkan petualangan mereka mencari sahabat mereka yang tersesat di dalam dimensi pusaran mimpi Syila. Syila masih menatap Arya dengan perasaan yang campur aduk. ‘Syila, ingat! Bukan saatnya untuk mengedepankan perasaan pribadi, melainkan fokus mencari semua sahabatmu,' ujarnya dalam hati, ketika dia merasa nyaman menatap Arya. “Arya, terima kasih, Untung saja kamu melihatku saat aku berada di tepi balkon, setidaknya kita masih punya kesempatan untuk mengembalikan semuanya pada keadaan yang semula. Kalau saja saat itu kamu ikut masuk ke dalam pusaran mimpiku, maka ....” “Tidak Syila, semua memang sudah ditakdirkan. Kalau saja kamu, Reno, dan Raina tidak mengerjaiku, mungkin saja saat ini semuanya sudah terlambat. Tapi karena takdir memang mengharuskan kita untuk berjuang demi keselamatan kita semua, makanya sekarang aku dan kamu ada di sini, demi sebuah tujuan, menemukan semua sahabat kita.” ucapan Arya sangat mengena di hati Syila. Gadis yang biasanya ceria itu memperlihatkan sifat aslinya yang tidak lain adalah seorang gadis yang kesepian dan sering murung. Syila juga memiliki masa lalu yang cukup membuatnya trauma, tapi setelah dia mengenal semua sahabatnya, ternyata dia merasa seperti menemukan oase di antara gurun pasir seperti yang ada di dalam dimensi mimpinya. “Baiklah! Lihat! Di sana adalah pantai yang menjadi tujuan kita untuk mencari Angga! Sebaiknya kita jangan buang-buang waktu! Kita harus segera menemukan Angga dan mengantarkannya kembali ke dunia nyata! Apa kamu sudah siap, Syila?” Arya kembali memberikan semangat kepada Syila yang mulai terbawa perasaan. “Ayo! kita lanjutkan perjalanan kita! Semoga firasat kamu benar, kalau Angga berada di pantai itu!” Syila tersenyum kepada Arya dan sekarang mereka memulai perjalanan menuruni bukit dari hutan itu. Walau semua adalah dunia khayalan yang terbentuk dari imajinasi Syila selama ini, tetapi mereka tetap harus berjuang untuk menemukan semua sahabatnya dan menerjang segala rintangan yang datang menghadang. *** Semilir angin yang terasa menyejukkan jiwa dan juga pikiran menerpa tubuh Arya dan Syila yang sudah sampai di tepi pantai sembari menikmati deburan ombak yang sesekali terdengar sangat mendebarkan. Tidak jauh dari sana, terlihat seseorang yang sedang berselancar di antara gulungan ombak pecah yang sangat indah dan juga menguji adrenalin bagi penikmatnya. Tatapan Arya dan Syila tertuju pada sosok yang masih terlihat samar agak jauh di depan sana. Namun, mereka yakin kalau dia adalah Angga, sahabat mereka. “Arya, lihat! Bukankah itu mirip dengan Angga?” Syila masih bertanya-tanya karena dirinya pun tidak yakin kalau itu benar-benar Angga atau hanya halusinasinya yang membuat Angga seolah berada di sana. “Menurutku dia memang Angga. Coba kamu lihat sekali lagi kamu fokus dan berusaha untuk mengingat Angga. Kalau dia memang benar-benar Angga dan bukan berasal dari imajinasi kamu, maka sosok itu akan tetap berada di sana. Tapi kalau dia hanyalah hasil imajinasi pikiran kamu, dalam sekejap sosok itu akan menghilang. Coba sekarang kamu fokuskan pikiran kamu untuk mengingat Angga. Tugasku mengawasi sosok yang mirip Angga itu. Apakah dia tetap berada di sana, atau akan menghilang.” Arya memberikan solusi kepada Syila agar semua menemui titik terang. “Baiklah, Arya aku akan fokus untuk mengingat Angga.” Syila mulai mengingat Angga tanpa harus menutup matanya. Ia kembali mendekap boneka beruang yang selalu menemaninya bertualang di dalam alam mimpinya. Arya mengawasi gerak-gerik sosok yang sedang berselancar di depan sana. Setelah beberapa menit kemudian, Syila melihat keberadaan sosok yang mirip dengan Angga. “Arya, bagaimana dengan sosok pemuda yang mirip Angga di depan sana? Apakah menghilang atau masih ada? Aku berharap dia memang benar-benar Angga bukan dari hasil imajinasiku.” Syila yang masih fokus mengingat Angga, menyempatkan diri untuk menanyakan hal itu kepada Arya. “Dia masih di sana, Syila! Itu berarti dia Angga, dia asli sahabat kita.” Arya begitu bersemangat ketika dirinya mendapati satu lagi sahabatnya yang berada di dalam dimensi pusaran mimpi Syila. Karena jika mereka berhasil membujuk Angga dan masuk ke dalam cahaya putih yang merupakan portal jalan pulang menuju kehidupan nyata, maka satu lagi misi mereka berhasil. Hanya saja sekarang tantangannya adalah meyakinkan Angga kalau dirinya berada di dalam dimensi lain. Syila yang begitu bersemangat terus melangkah bersama Arya menghampiri Angga yang sedang bermain surfing. Mereka terus berjalan mengikuti ke mana Angga meluncur. Syila dan Arya berteriak memanggil nama Angga. Memang tidak bisa dipungkiri lagi, kalau Angga cocok menjadi idola di kampusnya. Tubuh yang proporsional dengan warna kulit kecokelatan yang menambah kesan macho seorang pria. Wajahnya memiliki pahatan tegas dan tampan bak dewa Yunani, membuat setiap kaum hawa yang menatapnya mengakui dia adalah sosok pemuda yang gagah. “Hei! Angga!” “Angga ....” Arya dan Syila terus melambaikan tangan ke arah Angga yang sedang meluncur di antara gulungan ombak. Angga masih tetap dengan kegiatannya, tanpa memedulikan sekitarnya. Karena apa yang sedang Angga lakukan adalah sesuatu kegiatan yang ekstrem, membutuhkan konsentrasi penuh juga kewaspadaan. Sehingga Angga tidak menoleh ke arah mereka. “Yah, dia enggak nengok ke sini!” Syila menghela napas sembari berdiri di tepi pantai menatap Angga yang sedang melakukan surfing. ‘Kira-kira ... Syila naksir nggak yah sama Angga?’ tidak terasa Arya bergumam dalam hatinya, sembari melirik ke arah Syila. Raut wajah Arya sedikit terlihat kurang nyaman ketika Syila terus memanggil-manggil Angga sembari menatapnya. Karena Arya juga mengakui kalau Angga memang idola para remaja. ‘Arya! Mulai mikirin apa sih kamu? Ingat! Diwajibkan fokus biar semua kembali seperti semula! Buang jauh-jauh pikiran yang dapat menghambat semuanya!’ Arya menghela napas sembari mengatakan hal itu dalam benaknya. Ia kembali mengingat apa yang menjadi fokus dan tujuan utama mereka menempuh petualangan panjang ini. Arya juga masih memendam banyak pertanyaan mengenai masa lalu mereka yang pernah Arya selami dalam mimpinya. Memang benar tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari masa lalu ketiga sahabat Arya yang laki-laki. Namun, ketika Arya mulai menyelami masa lalu ketiga sahabatnya yang perempuan, sampai detik ini pun Arya masih penasaran dan terus mencoba mengungkapkan pesan yang tersirat saat Arya menyelami masa lalu Syila, Mikha, dan Raina. ‘Aku yakin, semuanya akan terkuak selama perjalanan panjang saat kami berusaha mengembalikan mereka ke dunia nyata. Aku harus menemukan jawaban yang masih mengganjal dalam benakku tentang masa lalu Mikha dan Raina. Karena gadis yang selalu membawa boneka beruang yang pernah menolongku saat aku tersesat dalam mimpi ternyata dia adalah Syila. Dia juga sang pemilik pusaran mimpi yang berwarna gelap dan sangat mengerikan bagai tornado. Aku pun sudah mengetahui dari cerita Syila mengenai masa lalunya yang membuatnya trauma sampai detik ini. Kesepian adalah awal dari segalanya. Kekuatan supranatural itu muncul pasca Syila mendapatkan donor mata. Lalu bagaimana masa lalu Mikha dan Raina yang juga mengandung sebuah teka-teki. Aku yakin akan menemukan jawabannya setelah kami menemukan mereka di sini, di dalam dimensi pusaran mimpi Syila,' batin Arya sembari menunduk menatap butiran pasir putih yang menyejukkan hati. “Hei!” sapa Syila sembari menepuk pundak Arya karena Syila melihat Arya melamun. “Eh iya!” Arya menoleh ke arah Syila setelah dirinya tersadar dari lamunan itu. “Kenapa?” Syila kembali menatap Arya yang terlihat lelah. “Ya, hanya sedikit capek aja sih! Lebih baik kita menunggu Angga di sini! Karena percuma kalau kita teriak-teriak pun, sudah pasti Angga enggak akan mendengar kita! Dengarkan saja suara deburan ombak itu. Apalagi Angga yang sedang berselancar di antara gulungan ombak pecah itu, iya kan?” Arya duduk di tepi pantai sembari melihat Angga yang sedang berselancar di sana. “Bener juga apa kata kamu! Baiklah kita beristirahat di sini saja!” Syila ikut duduk di samping Arya. Mereka berdua melihat bagaimana aksi Angga yang sedang serius berselancar menaklukkan gulungan ombak besar di sana. Arya dan Syila merasa terhibur melihat atraksi surfing yang disuguhkan oleh Angga di sana. Atraksi yang sangat memukau dengan ombak khayalan yang ada di dalam dimensi mimpi Syila. “Angga kelihatannya sangat menghayati banget ya?” Syila memberikan komentar setelah beberapa menit mereka menunggu Angga sembari melihat atraksinya saat melakukan surfing. “Ya ... seperti yang pernah aku lihat dalam mimpiku, saat aku menyelami masa lalu Angga. Dia sangat senang menjadi tour guide para turis yang berkunjung ke pantai di daerahnya. Terlebih ketika mereka ingin menjajal langsung, bermain bersama ombak yang ada di sana, pastinya hal itu sangat seru dan Angga sangat menikmati kegiatan itu.” Arya pun terhibur dan terpukau dengan penampilan Angga yang begitu keren saat dia melakukan surfing. “keren banget sih ya si Angga.” tanpa disadari kalimat yang terlontar dari bibir Syila membuat Arya sedikit menciut. ‘Yah! Syila kayaknya emang beneran ngefans sama Angga deh. Kalau aku harus saingan sama Angga, aku bukan apa apanya dong! Mana Aku cupu begini,' batin Arya ketika dia menyadari kalau Syila memerhatikan Angga. Terbersit sedikit rasa minder ketika Syila berkomentar terhadap penampilan Angga. Padahal Syila memang mengagumi Angga sebatas seorang sahabat yang selalu mendukung sahabatnya. Tidak lebih, tapi Arya dan Syila memutuskan untuk memendam perasaannya masing-masing. Maka sedikit saja kalimat yang terlontar dari mulut mereka yang menunjukkan rasa kagum pada lawan jenis, bisa jadi membuat baper mereka. Seperti yang baru saja Syila katakan. Ucapannya mampu membuat Arya menciut. Namun, keduanya kembali lagi fokus untuk menyelesaikan misi yang sedang mereka jalankan. Tak lama kemudian, Angga berjalan menuju ke tepian. Dari kejauhan Angga terlihat menyipitkan mata sembari melontarkan senyum kepada kedua sahabatnya. Hanya saja dalam benak Angga terbersit banyak pertanyaan, tentang kehadiran dua sahabatnya itu yang secara tiba-tiba ada di sana. “Hei! Kalian kok ada disini?” Angga kembali tersenyum dengan wajah yang menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya. *** Bersambung ... Apakah Angga akan mudah dibujuk dan disadarkan oleh Arya dan sila? Atau justru sulit mempercayai mereka? Karena di dalam dunia imajinasi mimpi, segala sesuatu yang nyata seakan khayal dan segala sesuatu yang khayal seakan nyata, bisa dengan cepat membolak-balikkan suasana hati karena sebenarnya dunia dalam pusaran mimpi Syila tidaklah nyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN