Bab 3

2265 Kata
Dini hari ini acara telah selesai, aktivitas terakhir adalah tidur. Teni dan Seha sudah berada di tenda, keduanya benar-benar satu selimut di bawah penerangan lampu casan gantung (gaya perkemahan modern). Cahaya bulan sedikit cerah, memang ada polusi, mengingat daerah perkotaan selalu sibuk tiap harinya diramaikan mesin BBM. Mungkin bila kemah berada di perbukitan atau gunung maupun hutan, kecerahan Purnama di atas sana akan digaungkan kaum werewolf, manusia serigala. Tidak ada jam ronda. Sementara waktu makin beranjak, pukul 01:45. Dari siluetnya, bayangan Teni tampak sedang mengenakan bra setelah mengenakan jeansnya. Dan setelah selesai, dia memakai kaosnya kembali. Sayup-sayup desiran ombak masih setia menemani kemping mereka. Area ini bagian pesisir yang cukup lega, lapang terlihat pasca laut surut. Hawa lokasi dingin. Teni berpakaian tidak untuk keluar tenda, dirinya masih di sebelah Seha yang masih pulas. Teni sudah duduk bersila melipat kedua kaki, memejam pandangan, menaruh tangan di lututnya. Teni sudah fokus dalam ritual meditasinya ini, membiarkan tangan Seha terkulai di pangkuannya. Whhss! Half-truck kembali ke jalanan, kali ini dalam fajar, langitnya tersebut hanya tampak di ujung jalan karena arah pulang masih berlangit gelap. Entah, mobil ini pulang dari pantai Utara atau Selatan jawa, yang pasti Teni sudah membuang koin sesuai titah sang kakek. ". . seru juga anak-anak kelas ge. Kek-nya aktivis semua, pada ngisi jam kosong pake guru dadakan gitu," kata Teni memegang steer mobil, di kursi sopir. "Tiap jam kosong pasti pada nunjuk orang buat ke depan. Kalo lagi mapel Matematika yang diseret si Novi. Kalo kosong guru kimia yang ditunjuk si Asep. Para penguasa-penguasa." "Lo di mapel mana, Sar?" "Ng, gue mata pelajaran kantin." "Hhh-hh!" "Jadi tiap guru yaa gitu. Fokusnya kadang gak rata ke semua anak. Asalkan inceran dia paham, yaa udah. Anak lain, anak kontrakan. Cuma dia sama inceran yang di rumah." "Pada tau dari situ toh kalian nunjuk penguasa mapel?" "Iya. Kadang nilai ulangan juga nampakin nama si penguasa mapel itu, Net." "Kek-nya asik ya tiap pelajaran, murid yang nerangin, ngasih tutor. Gak jauh-jauh, ngasih pemahaman ke anak yang seumuran dia." "Udah jamannya kreator medsos khan?" "Iya. Tapi tuh beda, kreator sama anak sekolah. Satunya ngeburu duit, satunya lagi bibit. Kalo kita semua penguasa mapel sampe bangku kampusnya nih, bakal ada kemajuan bangsa." "Tapi ini pacaran sama gurunya tau gak sih?" "Ahah! Effort, biar semangat. Gimana emangnya?" "Gue sekolah buat dapet ijazah doang sih. Ikut arus aja." "Hhh-hh! Skill hidup gak lahir dari sono khan? Tapi dari kemauan tiap orang, kebiasaannya. Gue arep kebutuhan gue ntar gak ngerugiin orang len. Skill me-menejing diri sendiri. Gue juga suka baca hal-hal mistis, Sar. Novel indigo atau paranormal. Anehnya, gue juga seneng hal-hal yang nyangkut duit. Matre." "Lo punya endorse?" "Yang onlen nih belum sih. Ige juga udah jarang buka. Gue ada akun Orenshop doang cuma buat belanja. Kebanyakan cuma onlen buat hal-hal berbau psikis, mental. Khususnya jin qorin. Gue kepikiran, dunia lain tuh ada gak sih. Gitu." Sambil menyimak Teni, Seha mengambil hape di dashboard. Seha menaruhnya lagi, hanya melihat jam. Seha tak menimpali topik terakhir yang Teni geluti di jaringan. "Jam berapa sekarang?" "Jam lima tujuh belas." "Kita punya satu jam nganggur. Bel masuk setengah delapan. Ngamar lagi yuk?" "Hhh-hh! Kapan pun deh.. Gila banget kita. Bawaan gue jadinya pengen tidur terus kek gitu. Ngadem lama sama lo, Net." Teni senyum membiarkan pendapat yang ada. Sampai detik ini Seha masih bersamanya dan mendapat tanggapan dari yang betah. Di kamar Teni, di ruangan yang memiliki kasur lebar, tampak kedua gadis sudah berseragam lagi. Rok mereka sama putih, pun warna bajunya yang berkerah tanda X, kelas satu SMA. Teni sibuk menata rambutnya di depan lemari, membiarkan Seha keliling kamar mencari x. Di depan rak buku, pojokan ruang, Seha mengernyit dahi. Matanya mendapati satu judul di punggung buku itu. Terbaca; Gelas Terbang. Seha ambil buka kepo itu, yang ternyata ilustrasi sampulnya mahluk angkasa, bukan tentang KDRT. Seha menyelipkan kembali novel tersebut ke tempatnya. Sambil ngaca, Teni melirik ke arah rak buku. Diam-diam mengamati Seha sedari tadi, lebih tepat menunggu temannya bertanya. Karenanya Teni meneruskan acara, melepas ikat rambut dan menyisir-nyisir lagi. Seha tak menemukan x lain di rak setelah Gelas Terbang. Dari iseng melihat-lihat, matanya kini membaca satu per satu koleksi buku Teni, menyentuh dan menyeret jari telunjuk. Tampaknya Seha sedang mensurvey debu kamar, dan saat diraba jarinya masih bersih. Seha tak menemukan judul buku terkait KDRT saat dia bungkuk mencari di barisan buku bawah. "Nih rak bikin awet kuota Net. Gak mumet nyarinya. Bakal ada versi skripsinya nih lemari." Teni menengok, wajah cantiknya tampak menggigit karet rambut. Lalu dia abai monolog Seha, melanjutkan dandannya tersebut, segera mengikat rambutnya. "Nyari apa, Sayang? Rapor gue di lemari arsip. Dimuseumkan." Seha terus mencari dan membaca-baca tulang buku. Teni datang menghampiri dan langsung memperhatikan, sesampainya di sebelah Seha. "Ada muka lo, Sar." Teni mengambil satu buku barisan atas. Dia berikan pada Seha. Di sini Teni membuat mata Seha melemah, dia abai saat wangi tersebut diendus, hanya bergerak memeluk Seha dari belakang. "Gue nunggu lo mencet parfum Net. Malah ngasih buku." "Bukan parfum, kimia mesin cuci." "Oh detergen. Gue tetep mikir nih masih di khayangan. Ada baunya." "Mirip lo khan?" tanya Teni yang menempeli punggung Seha, matanya tertuju pada sampul yang tengah Seha pegang. "Alam tak bertuan?" "Harusnya gimana? Salon di surga?" "Hhh-hh! Gue siapa sih sampe pasaran gini tampang," komen Seha mengamati wajah seorang gadis seumur mereka pada buku itu, terkepo-kepo atas wajahnya sendiri. Teni mengecup pipi temannya. Cupp! Teeet..! Bel istirahat bunyi pada waktunya. Di ruang B/X ini serta merta penghuninya langsung bahagia, sudah penat menuliskan semua yang ada di white board, simbol-simbol yang tidak mereka pahami. Pria berkacama membereskan peralatan; segita kayu, mistar kayu, jangka spidol, dan buku-bukunya di meja. Murid-murid masih duduk, sibuk menyimpan buku tulis mereka ke dalam tas. "Hari ini Bapak tidak akan memberi pe-er. Tapi tolong perbanyak lagi latihan soal di pokok bahasan trigonometri. Pada test kemarin belum semuanya paham. Ingat, lingkaran, lingkaran, dan lingkaran.. berkaitan dengan lingkaran. Terimakasih." Usai berpesan, pria ini berjalan meninggalkan meja guru menenteng sekaligus mengapitkan di ketiak, pergi membawa alat-alat perangnya. Tampaknya seorang pekerja keras. "Aaa.. ah lapaaar," kata siswa ini setelah sang guru pergi, entah bicara pada siapa, berdiri mengeliat. "He.. Berisik lo Knalpot," timpal siswa yang sebangku dengan si lapar. "Miara cacing?" "Woy! Sebelum jajan biasakan dong, inget kas!" seru gadis ini melihat semua temannya sudah berdiri keluar bangku di mana hendak meninggalkan kelas. "Lo juga berisik Galon Pecah. Mari ngantin." "Eh Monyong sopan dong. Dorong-dorong kepala orang." Si teman cuek melenggang. "Warsiaaah! Banguuun! Ada kebakaraaan!" Brugh! Brugh..! Siswi ini mengebuk-gebuk meja untuk teman sebangkunya. "Kalian tolong ya, sisain uang jajannya! Kalo gak, gue doain sakit perut!" "Kas. Kas. Kaas. Ada proyek apa sih emang? Pinjol noh bejibun." "Beli perabot g****k! Lo pikir penyapu jalan mau minjemin lidi-nya?!" "Selow lu. Gue mau ntraktir elu Mpir," anak ini lalu duduk cengesan di sebelah Mpir. "Mwehe" "Siah! Banguuun! Woy..! Sahuuur!" Brugh-brugh..! "Ih, apaan? Orang pede ajak aja tuh tiang bendera, jangan cewek orang." "Hehe. Mpir, gue udah jadi mantan lo ya? Okelah. Masih ada Sorga Kelas kok. Yuk Ten, nungguin gue khan?" Dari Mpir yang menolak, siswa ini beralih ke bangku tetangga di mana Teni tengah duduk asyik manteng hape. Brugh! Brugh! "Banguun! Siaaah..!" "Sayang banget elo Rul. Gue udah ada temen. Sori ya Ganteeng. Gue acciupied." "Jiah. Apes gue. Lo misi utama, Ten. Masa iya gue harus sisain uang jajan?" Teni sudah menurunkan badannya, kursinya mudah digeser ke belakang karena bangku Teni memang di ujung. Seha merapatkan kedua bahu mendengar jeritan kelas yang didatanginya. "Buset. Petir sawah." "Siaaah! Kamu kalo mati bilaaang!" pinta siswi ini, pantang meyerah pada kuping mati yang teriakinya. "He! Banguuun!" Brugh-brugh! Meja ini kembali jadi kendang, lokasinya dekat pintu kelas. "Permisi. Ada Teni?" Teni sudah datang menghampiri dengan senyum dan rona pipi yang merah karena baru saja keluar dari persembunyiannya. "Hai hai. Hehe," imut Teni di depan Seha, so sweet. "Ya ampun Net. Nih kelas lo?" "Hhh-hh!" Seha dan Teni mendapati tanda kebangkitan dari kubur, beralih bersama menyimak dua siswi yang ada di bangku TKP. "Hooaa.. amm. Males gue. Eumm," gadis ini duduk bersandar dengan mata masih berat, loading mind. "Kamu duduk apa reinkarmati? Aku hakim, kamu dewan! Terus-terusan enam dua gini negara mana bisa maju?!" "Santai dong. Gue lagi ngimpiin Mark. My Opa api." "Kamu anaknya halu terus! Bikin negara jadi belangsak! Bangun! Dengar inspirasiku!" "Ntar kalo guenya jadi dewan beneran." Siswi ini meniduri mejanya lagi. "Astagaaa. Warsiaaah...! Aaarrggh!" "Udah yuk? Hhh-hh! Enam dua banget kita, Sar." Teni bergerak maju menggandeng Seha, pergi meninggalkan ruang kelasnya. "SI.. AAAH!" Dekat gudang sekolah, tempat sepi yang menampakkan tumpukan kursi lama, pintu berjamur, kusen keropos, tepat di bawah CCTV, Teni nongol memiringkan badan, melihat ke arah jalanan. Lokasi ini adalah dinding luar perpustakaan, di balik pengwasan Teni ada Seha yang tengah bersandar ke tembok, menutupi wajahnya dengan tangan. Tak hanya gang, Teni juga melihat-lihat lagi ke sekeliling tempatnya berada, termasuk CCTV pemantau gudang yang terpasang di atas mereka berdua, tengadah. "Gak ada tau. Gak keliatan sama gue sih. Lo denger suara kapal apa orang, hei? Takut kenapa?" "Haa, taaa-kut. Gue pake lip tint, Beb." Teni yang sedang bingung langsung tahu gelagat centil sahabatnya. Dia pun segera menenangkan Seha layak kakak sulung pada adik kandung sambil menurunkan tangan Seha. Teni melabuhkan ciuman pada bibir yang ada, tidak melepaskan tangannya dan Seha otomatis menyatukan jemari mereka itu sambil menyambut lidah yang dinantikannya. Cyap-cuup..! Cyapph! Cyuuph.. Teni berhenti melumat tanpa menjauhkan wajah, diam mengecap-ngecap sesuatu. Teni jilati bibir atas dan bawahnya. "Slllrpp.. Slrpp..! Mhh! Pandan. Abis minum apa Sayang?" "Marijen. Hhh-hh!" jawab Seha, enteng. "Mhh," ngantuk Teni, tubuhnya sedikit lemas, agak bergetar menikmati rasa yang ada, berulang-ulang menjilat-menggigit bibirnya, namun sirup yang terbekas tak ada habisnya. Dalam lemas tubuhnya, Teni menempatkan kening di jidat lawan, lalu beradu wajah lagi dengan Seha, melumat bibir berlipstik invisible. Kissmate. Hari-hari biasa jam bubar berbunyi sore, namun hari ini jam pulang jadi lebih awal. Sabtu siang di jalan Batavia, half-truck sedang parkir sedikit jauh dari lokasi sebelumnya. "Nih ruko punya kak Citra. Tunggu deh beberapa menit lagi." "Pendiem senior kita nih kalo di kantin. Eh, kucingnya nyamperin, Sar." Teni yang duduk di kursi sopir berubah mood saat memperhatikan siswi Swadaya dengan rok motif kotak, pulang sekolah disambut kucing anggora. Rok motif kotak adalah seragam kakak kelas mereka, gadis di seberang jalan itu seturun dari Avanza langsung masuk toko elektronik, sementara mobilnya melaju lagi. "Dia risih kalo ada kucing laen ngembat jatah piaraannya. Dari kucing-kucing inilah kami tetanggaan dengan baik. Kata dia. Sar, jangan nyekik die ye. Lo bisa jadi yang gue kubur ntar. Bla-bla.. bla." "Kita nyepion cewek tajir penyayang Macan. Apa kebalik? Galak ya dia sama lo?" "Ya kek gitu kurang lebih." "Eh ada.. Ha?" Teni agak turun kepala, lalu memicing mata. Saat Citra mengais kucing kesayangan, dari dalam toko tersebut datang gadis berseragam putih-abu. Citra memberikan kucingnya pada Teni yang sekolah negeri itu. Lagi tanpa ekspresi, si gadis dingin membawa masuk kucing yang dipangku. Citra mengikuti gadis itu sambil melepas sepatu, melipat kaki kanan ke belakang, lalu ganti sepatu kiri yang dilepas. "Hhh-hh! Lo gak kek terminator gitu deh. Datang, ambil, pergi." "Jadi itu Kerin? Jilid dua gue?" "Dia galak tau gak. Kalo elo marah tuh gue langsung keinget dia nih, Beb. Pikiran nih inget lo pas jadi hantu. Hhh-hh!" "Jarang senyum ya? Gaya jalan Kerin kek lagi nyamperin musuh, kepikir lagi megang golok Sar." "Gue takut, Net. Hhh-hh!" "Iya sih gue sekul vampir. Kerin keren juga bisa tenang sefokus mesin. Gue harus tapa dulu biar bisa kek gitu." "Kalian cocok di mapel otopsi. Penguasa kamar mayat." "Hahaha. Gak gitu juga anjrit." Half-truck sudah terparkir dekat warteg di jalan Batavia. Kedua siswi mencium tangan Sepentin pulang sekolah ini. Seha lalu menggandeng Teni masuk ke dalam karena Sepentin masih sibuk dengan pengunjung, banyak yang makan. Teni mendapati ruang dapur dan pencucian. Ketel besar, panci besar pun ada, namun peralatan tersebut aktif untuk mode katering dan meja panjang di bawahnya akan jadi tempat eksekusi sayur, daging, hingga bumbu-bumbu. Ruangan lumayan lega dan terdapat tiga pintu, pintu tempat mandi dekat pencucian piring, pintu kamar Sepentin dan pintu ketiga milik Seha. Ada tangga beton dekat kamar mandi, udara ruangan keluar lewat situ dan membuat ruangan sedikit terang sementara di samping tangga tempat sayur atau masakan direbus atau medan perang koki. Usai mengamat, sekilas Teni melihat blizt cahaya dari balik pintu saat kamar dibuka. "Rutan koruptor di sini. Gak bakal nyaman buat sipir penjara." "Ya udah kurung gue di hati lo Sar. Terpidana penggelapan ape be-en." "Hhh-hh! Kamar pengantin tau gak sih." Teni dapati kamar Seha memang layak disebut kamar perawan. Dinding putihnya tampak segar tanpa kusam. Jendela agak tinggi karena hanya untuk cahaya, ventilasi kamar ada di atas pintu. Di depan Teni, dekat pintu terdapat kaca panjang menempel. Lemari pakaian yang setinggi kulkas dua pintu menghadap Teni. Di sebelah lemari ada meja pendek lebar memanjang, tempat multifungsi, untuk makan, belajar, meja lesehan untuk make up, ada kaca juga di situ dan dinding atasnya melintang tiga papan rak serbaguna, untuk buku, kaleng camilan, sepatu, sandal, bahkan lima buah helm pun muat, jadi total ukuran barang setara 15 helm. Lantai kamar dari porselen dan Teni dapati tidak ada garis keramiknya, warna paling segar di ruang seluas tiga kali tinggi badannya ini. Mungkin lantai neon. Seha menggantungkan tas dan juga mahar Teni dekat pintu. Dia duduk di kasur-laci yang lebih tinggi dari meja pendek, duduk hingga legingnya terlihat. Seha juga membuka kancing seragam, tangan Teni otomatis menutup pintu. Set! Clekh! "F*ck. Kok malah gelap sih?" Teni-kecil, di sekolah dasar, mencari temannya. Saat menemukan, mulut si teman berlumur darah bekas muntahan. Dan di hari ultah itu Seha-kecil batuk untuk terakhir kalinya. Teni menghadiri pemakaman temannya bersama Cintya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN