Cuma Pak Anggit yang kejam padaku. Entah aku harus senang atau sedih karena Pak Dirga bela-belain ngantar aku pulang meski sudah Pak Anggit larang. Pak Dirga tadi sempat bilang, itulah jeleknya Pak Anggit, kalau usah kesal sama seseorang, dia beneran nggak mau ada urusan lagi. Tapi kalau udah sayang, sayangnya nggak akan tanggung-tanggung. Rumah nggak lagi kayak rumah sejak Ibu kerja, hari liburnya nggak tentu dan yang pasti bukan di akhir pekan. Rumah jadi sangat sepi, nggak ada lagi yang nonton sinetron sambil ngomel-ngomel geregetan. Dan, satu yang paling nggak aku suka, kamar Mama jadi bau minyak urut. “Belanjaan yang tadi beneran buan punya Kakak?” tanya Dia begitu melihat aku pulang tanpa membawa serta belanjaan yang tadi kubawa pergi. Dia duduk di lantai, sedang sibuk mengerjaka

