Part 13

1700 Kata
Altrisa membereskan meja belajarnya, banyak kertas berserakan yang berisi laporan dan tugas yang perlu Ia kerjakan. Jam digital di meja belajar Trisa menunjukan pukul lima sore. Ia berencana untuk pergi bersama teman-teman nya hari ini dan meninggalkan kamar dalam keadaan rapi. Ia takut papa masuk ke kamarnya dan terpacu jantungnya melihat kamar Trisa bak kapal pecah. Ning nong Ada pesan masuk di ponselnya berasal dari ruang obrolan grup. Girls squad Rania : "Trisaaaaaaa" Rania : "Trisaaaaaa jadi kannn" Trisa yang sedang membereskan meja segera mengecek ponselnya, membuka kunci layar dan menekan notifikasi. Trisa : "Iya jadi, gue pasti ikut kok. Trisa segera menyelesaikan kegiatannya, Ia mendorong kursi ke kolong meja dan meninggalkan meja.  Trisa membuka lemari pakaian berderet pakaian berwarna warni ada di lemari Trisa. Baju kaos lengan pendek berwarna merah muda pastel dan celana jeans berwarna hitam menjadi pakaian pilihan Trisa hari ini, tidak lupa jam tangan sebagai asesoris pelengkap. Ia mengambil tas sling nya dan memasukan beberapa barang seperti ponsel, dompet dan beberapa hal yang kebanyakan perempuan bawa di tasnya. Ia segera mengganti bajunya dan memakai beberapa riasan di wajahnya . TOK TOK TOK "Masuk..." jawab Trisa. Mama Trisa membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Trisa dengan dua gelas jus jeruk di tangannya. "Kamu jadi mau pergi bersama teman - teman kamu?" "Iya ma jadi .. " "Naik apa dan kemana?" "Naik mobil nya Celine ma. Tempatnya.. belum ditentukan." "Oh gitu... ini minum dulu." Trisa meneguk setengah gelas jus jeruk. "Jam berapa kamu pulang?" " Jam sembilan paling lambat, tapi kalau terlalu malam aku akan menginap." Trisa kembali menghabiskan jus jeruk nya. "Oh oke.. jangan lupa untuk memberi tahu bodyguard mu. Jangan terlalu malam, nanti papa mu bisa marah." Mama Trisa mengecup kening Trisa dan mengambil gelas jus jeruk yang telah tandas. Trisa membereskan riasannya dan berdiri di depan cermin. "Hati - hati ya.. walaupun ada bodyguard kamu tetap harus bisa menjaga dirimu sendiri." "Oke ma.." “Jangan terlalu banyak minum alcohol.” Ucap Mama sambil sedikit menatap dalam Trisa. “Tenang aku pasti minum hanya dua sloki.” Trisa menenangkan mamanya sambil menggambarkan kuantitas sedikit dengan jari jempol dan telunjuknya serta senyum perdamaian. "Mama ke kamar Arnica dulu ya, jangan lupa untuk menutup pintu pagar." "Oke.." Pintu tertutup. Trisa mengecek kembali barang-barang yang akan Ia bawa. NING NONG Girls Squad Rania : "Trisaaa.. gue sama girls lima menit lagi sampai rumah lo. " Rania : "Jangan lama - lama ya ... wkwkwk" Trisa keluar dari kamarnya, Ia menuju pintu depan rumah nya dan duduk di teras. Ia mengambil sepatu sneakers berwarna putih bergaris hitam. Sambil menunggu Ia membuka ponsep nya dan membuka aplikasi obrolan khusus untuk berkomunikasi bersama bodyguardnya.   "Aku akan pergi bersama teman-teman ku sore ini. Jangan membuat jarak terlalu dekat. 10 meter." Trisa kemudian menekan tombol home dan mengunci layarnya bertepatan dengan suara klakson mobil Celine dari depan pagar rumah Trisa. "Heyyy Trisaaa...." Trisa segera memasukan ponsel nya ke dalam saku celananya dan hendak menutup pintu depan rumah nya yang menghubungkan teras dengan ruang tamu. "Nak trisaaa...." Suara asisten rumah tangga Trisa terdengar dari dalam rumah , seketika menghetikan kegiatan Trisa yang akan menutup pintu. "Ada apa? Ajuma?" Asisten rumah tangga Trisa berlari sambil membawa botol minum di tanganya. "Kata nyonya bawa minum." "Oh iyaa lupa hehehe." Trisa menerima botol minum dari tangan bibi dan memasukan ke dalam tas totenya. "Aku pergi dulu ya..." "Oke hati-hati non Trisa." Trisa segera berlari menuju gerbang rumahnya dan membuka pintu kecil. "Haii girlsss sorry lama nih." "Ayo masuk ayoo." Nica membuka pintu mobil bagian belakang sambil mengajak Trisa masuk. Trisa masuk ke dalam dan Celine melajukan mobilnya. Mereka berempat dengan wajah berseri sambil memutar lagu penuh semangat . Celine melirik kaca spion tengah mobil untuk melihat keadaan teman - temannya di belakang. "Eh kita mau kemana nih?" "Makan aja yuk, soalnya ada yang baru ulangtahun kemarin." Rania membalas. "Eh iyaa.. Nical kan kemarin abis ulang tahun. Kayaknya sore ini kita nggak bakal keluar uang." Trisa menyenggol Rania. "OKE OKE. Tapi tempatnya gue yang tentuin ya.." "Bebas lah bebas.. yang penting gue makan secepatnya." "Gue mau kita makan di tenda depan mall aja." "Yaudah cus lahh!! Rania kayaknya udah laper banget. " "Hehe tau aja lo, Tris." Mereka keluar dari daerah perumahan Trisa  dan menuju warung makan yang Nical inginkan. Setelah lima menit berlalu dan akhirnya mereka sampai. "Halo, selamat sore kakak. Makan disini atau bawa pulang?" "Makan disini." "Baik, untuk berapa orang? " "Untuk 4 orang." Jawab Trisa sekali lagi . "Oke silakan duduk." Pramusaji itu memberikan buku menu kepada mereka berempat dan meninggalkan mereka. "Gue mau toppokiiii." Nical berteriak sedikit dan Rania langsung menulis pesanan Nical di kertas yang diberikan pramusaji. "Celine? Lo mau makan apa? Biar gue tulis." "Sebentar gue pilih dulu .." "Trisa?" "Gue mau jjajamyon, Ran. " "Oke noted." Rania mencatat pesanan Trisa dan dirinya memesan ramen . "Ayo nih tinggal lo, line." "Oke gue paket nasi beserta teman-teman nya." "Oke noted. Kita mau minum apa?" "Soju? Eh---" "Gila lo Tris, masih sore juga. Bir alcohol 1% ya guys yang aman." Celine langsung menunjuk minuman bir tersebut di buku menu. "Okay siap." "Eonnie..." Nical melambaikan tangan sambil memanggil pramusaji untuk mendatangin meja mereka. Seorang pramusaji datang dan mengambil pesanan mereka. Kemudian meninggalkan mereka kembali. "Nic, emang benar kemaren lo liat Gilang jalan sama seorang cewek?" Celine menoleh ke arah Nical sambil menutup buku menu. "Iya.. jalan keluar dari kafe depan kampus. Tapi gue nggak tahu dia siapa, mungkin aja cuman teman kerja kelompok." "Trisa?" "Apa line ? Ada apa dengan gue?" "Tenang Line, Trisa kita masih lurus pikirannya. Nggak kayak perempuan-perempuan yang memuja - muja Gilang sampai-sampai merek---." "Hey stop, Ran." Nical menatap tajam Rania "Okay - okay." Trisa hanya terdiam, entah sejauh mana Ia sudah mengetahui tentang Gilang, tapi Ia sangat yakin teman - teman nya lebih tahu. Ia masih percaya kalau mereka tetap melindungi dirinya. Seorang pramusaji membawa empat gelas berisi teh lemon untuk mereka berempat . Pramusaji itu meletakan nya diatas meja mereka. "Lima menit lagi ya kak makanannya akan segera jadi." "Baik mbak terima kasih." Pramusaji itu kemudian meninggalkan mereka kembali. "Jadi ? Kapan pemilihan direksi, Line?" Rania mencoba kembali membuka obrolan. "Dua atau tiga bulan lagi gue rasa. Orang tua gue nggak ikut gitu-gituan mereka hanya tim hore." "Ohh gituu.. " "Kalau diantara kita ada yang jadi anak direksi, jangan pada renggang ya." Nical menggenggam tangan ketiga temannya. "Tenang Nical, emang mau pada kemana juga sih?" Rania membalas. Beberapa saat kemudian pramusaji membawa makanan mereka dan menyajikannya. "Ini pesanannya toppoki, jjajamyon, ramen dan paket nasi serta empat gelas bir. Ada tambahan lagi?" "Nanti saja. Terima kasih." Makanan mereka datang Trisa, Nical dan Rania mulai mengaduk makanannya. "Iya nanti dikarantina terus di rumah, kemana - mana pakai bodyguard. Jadi nggak bebas. Gila sedikit di tontonin orang. Jaga perilaku dan sebagainya. " "Ya kalo emang udah dasarnya gila gimana ?" Trisa membalas. "Iya juga sih hehe. Kalian kan nggak ada yang kayak putri kerajaan tingkah nya." "Iya seenggak nya masih ada akhlak." Celine membalas. "Apalagi Rania, sangat ber akhlak." Trisa kembali membalas "Oh tentu, anak paling alim sejagad raya." Ejek Nical. "Terus aja ledekin gue, teruss ." "HAHAHAHAHA. " Mereka bertiga tertawa. Sambil mengobrol mereka menyantap makanan mereka masing-masing. Sepuluh menit berlalu J-2 turut duduk dan makan di beberapa meja belakang Trisa dan teman-temannya memesan. "Mau pesan apa ?" Tanya seorang pelayan. "Aku mau memesan mi ramen tanpa hewan laut." "Baik tunggu sebentar ya.” Agen J-2 mengedarkan pandangan ke sudut lain, sesekali Ia memandang Trisa untuk mengecek keadaan.  Keadaan mereka aman dan agen J-2 segera melapor. "Trisa aman. J-2." Lima menit berlalu akhirnya pelayan warung makan kembali membawa semangkuk mi ramen. "Ini pesanannya silakan dinikmati ." "Baik terima kasih."  Sudah satu jam berlalu mereka masih di tempat itu dan Nical memesan makanan yang lain setelah semua selesai menyantap makanan makan malam. "Makan lah yang banyak, terutama untuk Rania dan Trisa kalian terlalu kurus." "Wah, hari ini benar-benar makan besar ya." Rania dengan tatapan sedikit terkejut Nical memesan odeng dengan porsi jumbo. "Aduh gila ya lo Nical, lo nggak lihat badan Celine macam gitar ?" "Biarin, Ran..  Lo berdua aja yang makan, dia nggak usah." "Enak aja lo, gue juga mau kali. Gue masih kurus kok.. cal." "Kurus dari mana ya ?" "Kurus kalau dilihat dari sini ke kampus kali..." Trisa ikut menjaili. "Parah lo, Tris . Mentang-mentang lo kurus ya bisa mengejek gue." "Tenang-tenang gue bakal pesen sesuatu buat lo. " Rania menenangkan Celine yang sudah panas . "EONNIE PESEN KIMCHI YA SATU MANGKUK." Semula Nical dan Trisa bingung, namun beberapa detik kemudian mereka tertawa. "Wah gila lo, Ran.  Maaf ahjuma teman saya bercanda  !" Celine segera membatalkan pesanan Rania. Agen J-2 menikmati makanannya sambil memperhatikan mereka sesekali. Namun tiba-tiba Ia merasa gatal di kaki dan lehernya. Ia terus menyantap ramen nya dan ketika sedang mengambil mi Ia menemukan seekor udang di mangkuknya. Seorang pelayan mendatangi meja agen J-2 dan membawa semangkuk mi ramen. "Maaf, pesanan anda tertukar dengan meja seberang sana yang saya antarkan ramen seafood udang dan yang saya bawa adalah ramen ayam." Agen J-2 langsung terdiam, Ia memiliki alergi udang dan kini Ia semakin merasakan dampaknya. Sekujur tubuh nya gatal dan Ia segera mengeluarkan dompet dan memberikan uang kepada pelayan. Agen J-2 segera meninggalkan tempat makan dan pergi ke suatu tempat . Mereka makan sambil berfoto-foto dan mengobrol biasannya seseorang menghabiskan waktu setengah jam . "Aduh kayaknya ada yang kurang nih. " Celine melemparkan pandangan dan memutar - mutar ke sembarang tempat. "Apa yang kurang emangnya, lo masih lapar?" Trisa menanggapi perilaku Celine. "Ahjuma! Penutup nya dua ya." Tiba-tiba Rania berteriak pada pelayan. "Baik, sebentar ya." Trisa dan Nical kebingungan, namun beberapa saat kemudian pelayan membawa beberapa gelas kecil dan dua botol berwarna hijau. "Wah.. gila lo Ran.. gue tidak menyangka." Nical menatap botol hijau itu sambil bertepuk tangan. "Karena Trisa sudah menyindir di awal jadi Trisa harus bertanggung jawab." "Ah gue kan cuman bercanda..." Ucap Trisa sambil mengeles. Celine membuka botol soju dan menuangkan ke empat sloki. "Jadi untuk merayakan umur Nical yang ke dua puluh. Mari kita bersulang !" Awalnya hanya Celine dan Rania yang  mengangkat gelas, namun akhirnya Nical juga ikut. "Trisa? lo nggak ma-u iku-" "BERSULANGGG !!!" . . To be continue.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN