Part 11

1489 Kata
Dika menuruni bus dan berjalan menuju cloud8, Ia melirik jam tangan nya dan menunjukan pukul sebelas siang. Pintu lobi gedung cloud8 terbuka dan Ia masuk ke dalam, menuju lift dan menekan tombol lantai nomor 2. Suara lift berdenting dan Dika menuju keluar, Ia memasuki ruangan dari salah satu lorong itu . Didalam sudah ada agen laki-laki dengan kode I-3 yang duduk di salah satu kursi dari meja berbentuk bulat panjang dengan kapasitas delapan orang. "Selamat siang J-5, Apa kabar?" "Selamat siang, sir." "Duduk lah." Dika mendekati meja dan duduk di sebrang I-3 . "Aku tidak mengerti mengapa dirimu bisa lolos tanpa ada SIM. Apakah Miss Greci sedang mengantuk ketika memeriksa berkas mu di hari seleksi. Trisa sangat baik sehingga kau tidak di keluarkan dari sini. Kau harus ber terima kasih pada nya dan berutang budi tentunya." "Yes, sir. " "Baiklah, belajar terlebih dahulu dan Miss Greci yang akan memberikan soal padamu, karena dia perlu bertanggung jawab. 15 menit ya, J-5." "Baiklah." Dika mencari refernsi di internet mengenai soal test mengemudi, Ia membaca nya dan mengingat- ingat beberapa kali. Ia juga menonton beberapa video yang mungkin bisa menjadi pengetahuan tambahan. Terdengar suara ketukan pintu dan pintu pun terbuka. Miss Greci melangkah masuk sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Ia duduk di sebrang Dika dan memebenarkan posisi duduknya. "Baiklah sekarang tutup ponsel nya dan kau harus mengerjakan soal ini dengan skor diatas 70, sebisa mungkin sempurna." Dika meminggirkan layar ponselnya dan mengambil kertas soal yang dibawa Miss Greci beserta alat tulis. "Seharusnya kau melaksanakan test ini dengan komputer di kantor kepolisian. Tapi ya sudahlah ada bagusnya aku tidak kena denda karena membiarkan mu menyetir tanpa memiliki surat izin." Dika mendengarkan sambil mengerjakan soal, entah lah Miss Greci mungkin ingin dirinya bisa menggunakan seluruh indra nya bila sedang menghadapi masalah. "Aku akan memasangkan aplikasi darurat di ponsel mu. Ini aman, hanya Cloud8 yang memilikinya. Kegunaan aplikasi ini adalah seperti panggilan darurat yang ada di ponsel sekarang ini dengan menekan satu tombol. Tapi kecepatan aplikasi cloud8 mengalahkan itu." "Aku harap dengan ada aplikasi ini kau bisa lebih sigap bila terjadi sesuatu dengan target, dan satu lagi kau harus menggunakan secara bijak." Beberapa menit berlalu dan akhirnya Miss Greci berhenti berbicara. Dika terus mengerjakan soal, tertera waktu pengerjaan soal selama 30 menit dan sudah sepuluh menit berjalan. "Ingat, kau harus lulus tes tertulis dan praktik. Setelah ini kau akan mengikuti tes praktik bersama agen lain." Dika menyelesaikan lembar terakhirnya dan menyerahkan kepada Miss Greci. "Sudah selesai? Kau tidak mengasal kan menjawabnya? " "Aku serius mengerjakannya, Miss." "Kalau aku sampai kehilangan pekerjaan, aku akan menyalahkan mu. " Miss Greci beranjak dari duduknya dan mengambil kertas soal dan jawaban dari meja. Ia menuju keluar ruangan . Namun sebelum Ia menutup pintu , dirinya kembali melirik ke dalam. "Kalau kau mendapat nilai sempurna, aku akan mentraktir Subway untuk mu dan Trisa tentunya." Pintu tertutup. Dika tersenyum mendengarnya, Ia cukup yakin terhadap jawabannya namun Ia ragu pada tes praktik. Seseorang mengetuk pintu dan pintu terbuka. Seorang laki - laki masuk ke dalam ruangan itu. "J-5? Ayo ikut aku untuk melaksanakan test praktik." *** Dika menaiki bus dan bergegas menuju rumah Altrisa. Jam digital bus menujukan pukul tiga sore. Ia perlu bersiap untuk memakai pakaian yang cukup rapi. Dua puluh menit berlalu dan akhirnya Ia sampai. Dika segera berlari menuju rumah Altrisa, Ia menekan kode sandi di pintu gerbang kecil rumah itu dan berlari menuju ruangan bodyguard di belakang rumah Trisa. Didalam ada E-3 agen kepemilikan Baron yang berjaga kemanapun Baron pergi. "Hey, kenapa kau baru datang?" "Aku baru menyelsaikan test izin mengemudi tadi. " "Cepatlah membersihkan diri. Waktu mu tinggal setengah jam lagi, jangan sampai membuat Ibu negara menunggu." Dika masuk ke dalam kamar mandi di depan ruang bodyguard dan membersihkan diri. Air membasahi setiap lekuk tubuhnya. Setelah sepuluh menit berlalu Ia keluar dari kamar mandi dengan telanjang d**a dan handuk menutupi kakinya. Ia lupa membawa pakainnya ke kamar mandi. Di ruang kamar bodyguard sekaligus ruang pemantauan kamera pengintai terdapat E-3 yang sudah rapih dan tinggal meletakan sisir di tempatnya. "Hey J-5, ada pakaian khusus untuk mu." "Benarkah? yang mana?" E-3 mengambil setelan jas dan kemeja dari tiang untuk menggantung jas dan memberikannya pada Dika. "Ini, katanya kau perlu memakai baju ini." "Kenapa tidak sama dengan mu?" "Entah, mungkin karna kau baru. Segera bersiap, aku akan menunggu mu di ruang tamu." E-3 keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Dika di dalam. Dika segera memakai setelan jas serta kemeja putih. Kemeja yang Dika gunakan masih terlihat seperti baru dibeli dari toko. Bedanya, model kancing pada kemeja Dika terdapat sedikit renda. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan merapikan rambutnya. Ia segera memasang jam tangan dan memasukan sapu tangan serta ponsel ke saku jasnya. Jam analog di ruangan itu sudah menunjukan pukul empat kurang dua menit. Dika segera bergegas keluar dan menuju ke ruang tamu rumah megah itu. Dalam beberapa detik Dika sudah sampai di ruang tamu. Disana ada Baron dan papanya. Menyadari kehadiran Dika, Baron meliriknya. "Bagus, kau anak baru cukup tepat waktu." Dika berdiri di samping E-3 dengan posisi siap. "Beberapa detik kau lewatkan sedikit saja, mungkin Baron akan semakin sinis padamu." E-3 mencodongkan badannya ke Dika dan membisikan di telinga Dika. "Hey , Trisa, mama, Arnica. Cepat, kalian lama sekali." Papa Trisa berteriak dari ruang tamu, Dika yakin laki-laki berumur itu sudah tidak sabar menunggu gadis-gadis merias wajahnya. Trisa turun dari tangga , Ia mengenakan dress berwarna biru gelap selutut. Tak lupa beberapa riasan cukup menghiasi wajah Trisa. Kecantikan Trisa terpancar membuat Dika cukup membuka sedikit lebih lebar kedua matanya. Sampai di tangga terakhir Trisa menyadari keberadaan Dika disitu. Ia langsung menatap tajam mata Dika dan menyuruh Dika pergi. Dika baru mengingat bahwa Arnica tidak boleh mengetahui dirinya adalah bodyguard Trisa. E-3 yang menyadari hal itu segera mengambil tindakan. "Kau siapkan kedua mobil dulu, untuk dirimu pakai mobil yang biasa digunakan J-2 . Ini kunci nya." E-3 menyerahkan kunci mobil dari balik punggung dan memberi kode untuk segera pergi. Dika bergegas pergi ke garasi dan menyalakan mobil pertama untuk keluarga Trisa , kemudian Ia menutup pintu dan pergi ke mobil kedua untuk penjagaan di belakang mobil utama saat perjalanan. Mobil satu untuk Papa Trisa bekerja, mobil kedua Milik Baron, mobil ketiga milik Trisa, mobil ke empat yang biasa mengantar Arnica dan mamanya dan yang terakhir mobil pengawas yang diberikan dari cloud8 dengan beberapa perlengkapan didalamnya. Terlihat ada lima mobil di dalam garasi rumah Trisa. Dika menutup pintu dan menyembuyikan dirinya dibalik kemudi. Langkah kaki mulai terdengar dari teras rumah. Mereka mulai memasuki mobil, terdengar suara pintu tertutp dari mobil didepan. Dika sedikit mengintip dari balik kemudi dan mengawasi situasi. Mobil di depan mulai meninggalkan garasi. Dika memakai kacamata hitam dan masker yang diberikan oleh E-3 ketika dikamar dan memegang kemudi. Tiba-tiba Baron membuka pintu penumpang sebelah bangku kemudi dan menatap Dika. "Boleh aku masuk?" Dika cukup terkejut dengan keberadaan Baron yang seharusnya ikut bersama mobil di depan dan mobil yang Dika kemudikan seharusnya kosong. "Ten..tu saja." Baron masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Dika. Ia dan Dika memasang sabuk pengaman. Baron beberapa saat melihat penampilan Dika. "Cihh.. benar - benar." Ucapnya sambil sedikit tertawa. Dika semakin dibuat bingung dengan perilaku Baron, kemudian Ia mencoba bertanya. "Apakah Mr. Baron tidak duduk di belakang?" "Tidak, untuk apa? Memangnya kursi ini rusak?" "Ah.. tidak, baiklah." Dika mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah. Dika merapatkan jarak mobil yang Ia kemudikan dengan mobil utama. "Bagaimana test izin mengemudi mu?" "Iy..aa.. Berhasil." "Bagus lah, seharusnya aku melaporkan nya pada papa." "Jangan panggil aku Mr. , memangnya aku setua apa? Apa kau memanggil Trisa dengan Miss?" "Tidak, aku memanggilnya denga--" "Nama panggilan bukan? Iya tentu saja dia tidak ingin di panggil nona. Akan lebih baik kau memanggil ku kakak." "Baiklah.." Dika merasa sangat canggung, Ia baru pertamakali mengobrol dengan Baron sedekat ini. Ia juga tidak bisa mengalihkan pandangan kemana-mana, karena Baron duduk di sampingnya bukan di belakangnya. "Apakah kau mempunyai pacar atau kekasih? J-5?" "Aku... tidak punya." "Oh, baguslah kau bisa lebih fokus menjaga adik ku. Aku mau kau tidak boleh membiarkannya terluka sedikit pun. Apa kesibukan mu selain menjadi les privat Arnica?" "Aku masih kuliah.. dan tidak ada lagi." "Kau cukup tampan, tapi masih lebih tampan diriku ." Baron sedikit tersenyum, mungkin Ia mencoba mencairkan suasana. "Ahh iyaa... " Dika mencoba untuk ikut tertawa. Dua puluh lima menit berlalu dan akhirnya mereka sampai pada gedung pernikahan. Beberapa tamu sudah mulai berdatangan dan menunggu pengantin tiba. Dika menurunkan Baron di lobi dan Ia melajukan mobil ke tempat parkir. Mobil utama dan mobil yang Ia kemudikan berjarak tiga petak , Dika melepaskan sabuk pengamannya dan merapikan dirinya . Ia keluar dari mobil dan mengunci nya. "Bagaimana menyetir bersama Baron?" E-3 yang baru keluar dari mobil menyapa Dika. "Iya, dia sangat dingin dan tajam." "Ah, tenang lah kau hanya perlu melakukan hal dengan benar dan dia tidak akan membunuh mu." "Iya baiklah.." "Ayo kita masuk ke dalam ." . . . To be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN