Jenderal Athran masih setia menunggu sang isteri membuka matanya. Tatapan tajamnya tak luput dari Anthea sedikitpun. Napas teraturnya terdengar sangat pelan bahkan tak terdengar sama sekali hingga bulu mata lentik itu mulai mengerjap. Bola mata yang masih tertutup kelopak bergerak-gerak membuat sang Jenderal bersiaga. Anthea membuka matanya perlahan. Denyut di punggungnya membuat dirinya meringis. Alisnya menukik turun dan dahinya berkerut samar saat rasa sakit itu menyergap. "Aku akan memanggil dokter." Suara Athran mengenyahkan rasa sakit yang berdenyut perih. Menatap punggung sang Jenderal yang nyaris menghilang dibalik pintu. Pikiran Anthea bercabang mengingat kejadian yang dialaminya beberapa jam lalu. Melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam dan benar saja,

