“Bahkan seharusnya kita merawat janin yang kini tumbuh dalam rahimmu bersamaku, menunggu hingga kelahiran anak kita, kemudian membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Bahkan aku akan mendengarnya memanggilku Daddy, memelukku ketika aku pulang kerja, bermain bersamaku dihari libur, serta memenuhi rumah kita dengan suara tawanya. Tapi mengapa kini justru kau secara tiba-tiba menghapus semua kesempatan yang belum aku raih dengan cara sekejam ini? Setidaknya biarkan aku menyiapkan hatiku terlebih dulu sebelum kau pergi, meskipun aku yakin jika seumur hidup pun tak akan mampu membuatku siap untuk kehilanganmu.” Mata itu berpendar terkejut mendengar penjelasan dari Lucas untuk sesaat. Ah, seharusnya pria yang ia cintai ini memiliki seorang anak berusia balita bersama seorang wanita yang begitu

