"Kalau cairan infusnya sudah mau habis, silahkan pencet bel, ya. Nanti kami segera datang untuk memberikan bantuan." Bima memberikan pengarahan dengan sopan. Ia menganggukan kepala sebelum keluar dari ruangan. Aluna dan Yudistira hanya memandangnya tanpa suara. Aluna sudah lelah berkata-kata sehingga memilih bungkam daripada menambah intensitas rasa sakit, sementara Yudistira memilih untuk tak membuat keributan. Bima berjalan menuju ruang perawat. Ia melepaskan sarung tangan latex dan membuangnya ke tempat sampah. Rasanya sangat sakit melihat seorang gadis yang masih begitu dicintainya malah berkeluh kesah dengan pria lain. Terlebih, pria yang dimaksud merupakan kakaknya sendiri. Ia duduk di pojok ruangan dan memijit pangkal hidungnya perlahan. Pernikahan itu ... terus membayanginya seti

