Syafira termenung meletakkan kepala diatas meja kerja di salah satu ruangan rumahnya. Tangan kanan ia gunakan sebagai batal menopang kepala. Hatinya bimbang dan ragu. Ada perasaan berat jika memilih datang sendiri ke pesta anniversary GInanjar. Namun, jika datang berpasangan, ia tidak tahu harus datang bersama siapa? Syafira benar-benar butuh waktu untuk sendiri untuk merenung dan mencari dserta memutusan dengan tepat. Saat posisi bingung, Syafira terkadang menyewa Travel untuk healing sendiri. Pilihannya tentu saja ruangan kosong yang sering ia gunakan mengerjakan pekerjaan kantor saat harus ia bawa pulang atau mengedit foto, jika butuh tempat sunyi dan tenang. Permintaan Ginanjar tadi sore benar-benar membuatnya bingung dan syok. Seberapa kali pun ia memikirkan cara mengajak Anton

