Baru juga ia selesai menggerutu dan memaki karena Nurul yang memutuskan panggilannya sepihak. Pintu ruangannya terbuka lebar. Saat mengangkat wajah, Syafira semakin terkejut dengan tamunya. "Nuruuul!" pekik Syafira tanpa tanggung-tanggung sampai sekretarisnya di luar menatap aksi atasannya. Syafira yang tidak ambil pusing dengan rasa keheranan sekretarisnya, membiarkan mereka sesat dengan pemikirannya sendiri. Atasan yang menggelisahkan. "Aseeem," makinya lirih khawatir bawahannya mendengar kalimat-kalimat tidak pantasnya. Sebagai seorang atasan ia juga harus menjaga wibawa dan gengsi. Nurul hanya tertawa lebar mendengar makian sahabatnya itu. "Fir, kamu gak bisa nolak kali ini!" seru Nurul. "Rul, aku bukan kamu," bantah Syafira. "Sekarang gak ada bedanya, kamu dan aku sama aja. K

