"Kok Bapak ninggalin saya? Mau pulang sendirian, terus sayanya ditinggal, begitu?” cecarku saat diri ini sudah dekat dengan Pak Dir.
“Eh, Mas Dirga sama Sasmitha?”
Suara yang sangat familier. Aku segera mengalihkan tatapan ke seorang gadis di depan Pak Dir. Aulia berdiri anggun dengan dress panjang warna hijau botol di sana.
Pertanyaan Aulia terdengar bukan seperti orang bertanya pada umumnya. Seperti orang curiga, cemburu, iri, dan apa ya? Tadi dia memanggil Pak Dir dengan sebutan apa? Mas? Seakrab itu, ya, mereka sampai panggilannya saja lain? Atau jangan-jangan mereka ada hubungan spesial di luar kantor? Mikir apa sih aku? Bisa saja, kan, karena Aulia diistimewakan, jadi panggilannya pun bisa akrab. Lagi pula, ini di luar kantor, bisa saja Pak Dir menyuruhnya untuk lebih non formal.
“Iya, Lia. Mau mengajak kamu juga nanti Ashkan marah,” jawab Pak Dir.
Tunggu dulu, deh. Pak Dir santai sekali menyebut nama Ashkan. Seperti sudah akrab saja. Ah, masa bodohlah.
Tiba-tiba lelaki yang dibicarakan Pak Dir muncul. Aku sempat tercekat ketika dia hadir.
“Maaf, aku tidak terlambat, ‘kan?” kata Dokter Ashkan.
“Telat. Hampir saja Aulia aku gandeng,” jawab Pak Dir seakan-akan meledek Dokter Ashkan.
“Kamu dari mana aja, sih, Mas? Aku lama banget lho nungguin kamu, Sampai belum ngasih selamat ke Mbak Sarah dan suami.”
Sebenarnya, ini acara pernikahan siapa? Apa mereka semua mengenal pengantin? Aku jadi merasa terasingkan di sini.
“Sasmitha, kamu di sini? Sama siapa?”
Aku gelagapan. Dokter Ashkan bertanya padaku?
“Aku yang mengajak dia, Ashkan.” Jawaban Pak Dir sepertinya sudah jelas. Jadi, aku tak perlu menjawab ulang.
“Mas, aku nanya ke kamu, lho. Nggak dijawab malah nanyain Sasmitha. Udah, ayo kita ke podium dulu.” Tangan Aulia mau menggandeng Dokter Ashkan, tapi ditepis halus oleh sang dokter. Seakan-akan ada isyarat belum halal dari sorot mata dan cara dokter itu menatap Aulia.
“Permisi, Mas Dirga,” kata Aulia kemudian.
Aku menatap kepergian Aulia dengan Dokter Ashkan. Tatapan yang entah, karena Dokter Ashkan menoleh ke belakang. Mungkin maksudnya pamit ke Pak Dir.
“Kamu kenal Ashkan, Mitha?” Pertanyaan Pak Dir menyadarkanku. Apa aku melamun?
“Sebatas pasien ke dokternya aja kok, Pak.”
“Masa, sih? Tatapannya Ashkan kok lain ke kamu?”
“Bukankah tatapan dia dari dulu seperti itu, ya, Pak? Tatapan menyebalkan.”
Pak Dir terbahak. “Jadi, kamu udah lama banget kenal sama dia?”
Eh? Apa aku salah jawab?
“Enggaklah. Sebulan yang lalu kayaknya, udah lupa.”
Pak Dir mengangguk-angguk. “Seperti udah kenal lama, ya.”
“Memangnya Bapak berpikiran apa, sih? Jangan sampai Bapak berpikiran sama dengan Aulia,” kataku sedikit mengancam.
“Memangnya Aulia berpikir gimana?”
Kenapa obrolan tak jelas juntrungannya ini jadi panjang?
“Emm, nggak. Bukan apa-apa.”
“Dia cemburu sama kamu, Mitha.”
Satu kalimat yang tak perlu dia jawab pun aku sudah tahu kalau Aulia itu cemburu. Namun, masalahnya adalah kenapa harus cemburu terhadapku yang sama sekali tak ada kedekatan istimewa dengan dokter muda tersebut? Seharusnya, Aulia lebih pantas mencemburui suster-suster di sana, atau orang seprofesi dengan Dokter Ashkan yang bisa saja mereka tebar pesona terhadap Dokter Ashkan. Kenapa harus aku? Wong aku saja sebal tiada tara ke dokter itu, kok.
“Tolong antarkan saya pulang, Pak. Saya capek, pengin tidur.” Sengaja aku mengalihkan topik, karena pembicaraan ini sudah mulai sensitif.
“Lho, kita belum makan. Makan dulu, ya. Nggak enak sama yang punya hajat.”
“Tapi, Pak—”
“Udah, kamu di sini dulu, saya ambilkan minum.”
Pak Dir melenggang, meninggalkanku sendiri. Aku mengedarkan pandangan, mencari Dokter Ashkan. Astaga! Kok dia? Bukan, bukan. Maksudnya, aku mencari orang lain, siapa tahu ada yang aku kenali di sini.
“Selamat malam, Sasmitha.”
Sapaan tersebut membuatku menoleh, di sebelah kananku ada rekan bisnis Pak Dirga, tentu saja dengan seorang wanita yang menggandeng mesra lengannya.
“Hallo, Pak. Selamat malam.” Aku mengangguk, tanda hormat. “Malam, Ibu.”
“Kamu di sini juga? Sama siapa?”
Pertanyaannya mirip dengan Dokter Ashkan tadi. Namun, bedanya si wanita—yang aku duga sedang berbadan dua—di sebelahnya biasa saja, tidak cemburu, dan tidak menunjukkan gelagat tak suka.
“Saya sama Pak Dirga, Pak.”
“Kalian ada hubungan istimewa?” Wajah Pak Adrian seperti orang mengejek.
“Enggaklah, Pak. Karena saya jomlo aja, makanya diajak sama beliau,” jawabku lesu.
“Kamu apaan, sih, Mas? Memangnya salah kalau Pak Dirga ada hubungan sama Mbak Mitha? Mereka kan sama-sama masih single.” Jawaban cerdas, tetapi aku tak suka. “Yang salah itu, kalau dia ke sini sama kamu.” Tatapannya tajam ke Pak Adrian.
“Waah, bisa mati saya kalau ke sini sama Pak Adrian, Bu,” jawabku dengan iringan tawa.
“Kalau kamu melihat suamiku macam-macam, jangan segan kabarin aku, ya, Mbak Mitha.”
“Kalian sekongkol maksudnya?” Pak Adrian menatap kami bergantian.
“Makanya, kamu jangan suka tebar pesona sama cewek-cewek,” kata istri Pak Adrian.
“Urusannya panjang kalau sudah begini, Mith.” Pak Adrian mengisyaratkan pamit pergi.
“Ih, aku jadi curiga gimana kamu kalo lagi di kantor. Awas saja kamu sampe main belakang, aku kebiri kamu.” Suara istri Pak Adrian masih bisa aku dengar walaupun jarak kami sudah cukup jauh.
Aku tersenyum geli. Ternyata seperti ini, ya, orang-orang berwibawa dan gagah ketika di depan istrinya?
Ngomong-ngomong, ke mana Pak Dirga? Kenapa belum kembali juga? Mata ini kembali mengedar. Tanpa sengaja, aku menangkap seseorang yang tak asing. Seperti teman Mama waktu di salon, tetapi siapa namanya, ya? Tatapan kami bersirobok. Aku mengangguk untuk menyapanya, juga senyum yang tersungging semanis mungkin.
Tante Sofia. Ah, ya, namanya Tante Sofia. Dia mengusap bahu salah satu di antara beberapa wanita yang diajak mengobrol, lalu menuju ke arahku. Eh, tunggu dulu. Aku memperhatikan sekitar, barangkali ada orang lain yang dituju. Tak mungkin dong aku merasa kepedean.
“Sasmitha. Sasmitha, ‘kan?”
“Tante Sofi,” sapaku ramah. Kami bercipika-cipiki.
Sebenarnya, ini pesta pernikahan siapa? Kenapa ada Dokter Ashkan, Pak Adrian, Pak Sam, Aulia, bahkan Tante Sofia. Pak Dir juga tampak begitu akrab dengan Dokter Ashkan.
“Kamu sama siapa, Sasmitha?” tanya Tante Sofia.
“Tadi sama Pak Dirga, Tante.”
“Dirga? Kamu pacarnya?” Alis Tante Sofia menaut.
“Oh, bukan, Tante. Pak Dirga mana mau sama saya. Saya karyawannya di kantor.”
“Masya Allah, dunia ini sempit sekali, ya. Kamu nggak ngajak Mama kamu?”
Mana mungkin aku mengajak Mama, aku saja diajak orang.
Aku hanya menggeleng sambil senyum ramah untuk menjawab pertanyaan Tante Sofia. Sepertinya dia juga memahami jawabanku.
“Lho, Mbak Sofi? Kalian saling kenal?” Tiba-tiba Pak Dir ada di dekat kami. Dia memberikan segelas minuman jeruk untukku.
Tak lupa aku mengucapkan terima kasih setelah mengambil alih minuman dari tangan Pak Dirga.
“Maaf ya, lama,” kata Pak Dirga.
“Dirga, boleh Mbak bicara sebentar?”
Pak Dir tampak bingung, begitu pun denganku. Ada apa ini?