Bertemu Dokter Ashkan

1060 Kata
* Kata Dokter Ashkan, kami akan bertemu di kafe tak jauh dari rumah sakit tempatnya praktik. Aku agak asing dengan tempat ini, karena memang jarang berwisata kuliner. Bagiku, masakan Mama sudah cukup untuk memuaskan lidah dan perut. Wanita bersanggul itu hobi memasak. Segala jenis masakan daerah di Indonesia bisa dia kuasai. Sayangnya, keahlian Mama tidak menurun padaku. Bila ada pertemuan keluarga besar, pasti markasnya di rumah Mama. Selain karena jago masak, Mama adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ngomong-ngomong soal keluarga besar, aku jadi sedih—kepikiran Mama. Beberapa hari lagi ada acara lamaran sepupuku. Pasti mereka akan menanyakan calon atau pacarku ada di mana. Aku yakin. Bila sudah begitu, aku tidak bisa berkutik, dan Mama pun pasti jadi sedih karena anak gadisnya belum juga memiliki pasangan. Mau bagaimana lagi? Memang belum bertemu jodoh. Jadi, harus santai saja. Semua pertanyaan-pertanyaan itu mampu kuatasi. Hanya saja, aku tidak rela Mama kepikiran dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Bagiku, menjalani kisah percintaan ketika sudah dewasa adalah sebuah anugerah. Diri ini bisa berpikir matang, bukan yang sebentar-sebentar bertengkar lalu pisah. Pengalaman hidup akan lebih banyak, sehingga mampu menyikapi segala masalah dengan bijak. Entah, itu hanya pemikiranku. "Maaf, nunggu lama, ya?" Suara itu tiba-tiba membuyarkan lamunan. Dokter Ashkan menarik kursi tanpa permisi. Wajahnya masih bening, seperti pertama kali aku melihatnya. Hari sudah hampir gelap, tetapi wajahnya tetap bening, seakan-akan tak mengeluarkan keringat. "Tidak masalah," jawabku santai, tetapi tanpa senyum. "Ini, terima kasih atas bantuannya," lanjutku sambil menyodorkan jas ke depan cowok berkemeja putih ini. "Dengan senang hati," katanya sambil memakai jas tersebut. "Sudah dicuci, 'kan?" tanyanya tanpa menatapku, karena masih sibuk dengan jas tersebut. "Belum, barusan saya ceburin ke got," jawabku kesal. Dia bertanya, tetapi aku merasa terhina. Dokter Ashkan terkekeh, lalu dia sibuk dengan tas dinasnya. Dia meletakkan sebuah benda pipih dan tipis ke depanku. "Maaf untuk waktu itu. Saya tidak bermaksud membuat masalah dengan kamu." "Tidak masalah. Tapi Anda berhasil membuat Mama saya kelimpungan." Aku mengaduk jus alpukat setelah menyimpan KTP dalam tas. "Astagfirullah." "Satu lagi. Saya merasa tidak dihargai ketika konsultasi. Kemarin saya belum selesai, tapi bisa-bisanya Anda menerima pasien lain." "Oh itu. Iya, maaf. Itu urgent. Pasien kemarin mengeluh nyeri di perutnya, dia sampai kesakitan. Dokter Aldi sedang izin. Jadi, mau tak mau saya harus memeriksanya. Sekali lagi, maaf." Dari nada bicaranya, Dokter Ashkan tampak serius. "Oke, alasan diterima. Tapi, Anda belum meminta maaf kepada Mama saya." "Ya, Allah. Saya lupa. Jadi, gimana soal tuntutan beliau?" Nada bicara Dokter Ashkan terdengar kaget. "Sudah saya atasi, tetapi Mama masih kukuh ingin menuntut Anda." "Kamu tau sendiri saya akan menikah, 'kan?" tanya Dokter Ashkan. Tanpa dia bertanya pun, aku masih ingat namanya tertulis dalam undangan waktu itu. "Tolong bantu saya." Kali ini nada bicara Dokter Ashkan terdengar memelas. "Bantuan apa?" tanyaku. Mendadak hati ini jadi tak tenang. "Calon istri saya sedang marah. Dia mengira saya ada hubungan dengan kamu." Seketika aku tersedak. Untungnya tidak terlalu parah. Aku mengambil tisu, mengelap bibir. "Sudah Dokter jelaskan ke dia?" tanyaku. Pantas saja, waktu bertemu di kantin tadi Aulia menghindar. Ternyata ini penyebabnya? Ya ampun! Awal pertemuan kami baik-baik saja, kenapa harus salah paham segala? Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa suasana kantor gempar kalau sampai mendengar kabar ini. Apalagi sikap Aulia jadi dingin terhadapku. "Itulah kenapa saya mau minta bantuan kamu. Aulia bilang, kamu teman kantornya. Apa itu benar?" Aku mengangguk. "Baik, saya akan bantu sebisa saya." Aku melihat cinta luar biasa di mata Dokter Ashkan untuk Aulia. Terlihat dia begitu takut kehilangan gadis itu. Diriku sendiri pun sebenarnya tak ingin terseret dalam masalah mereka, karena pasti akan rumit. * Sekelumit kisah masa lalu kembali tersirat. Bayangan tentang Didit menganggu pikiran. Sempat merasa deg-degan, tetapi ketika dekat entah kenapa menguar begitu saja. Tiba-tiba sebuah pesan masuk beruntun, dari nomor yang sama. Namun, nomor siapa ini? Pastinya bukan nomor Dokter Ashkan. Serius, ini salah kirim atau bagaimana? Seumur hidup, baru kali ini ada yang mengirimiku puisi. Bukan apa-apa, aku tak ahli merangkai kata menjadi bait penuh makna. Jangankan senang, tersentuh saja tidak. Aku yakin, ini pasti salah kirim. Sengaja tidak kubalas pesan-pesan itu. Lagi pula, nama pengirimnya saja tak ada. Hari gini masih main secret admirer? Kuno! Kugeletakkan ponsel di kasur. Aku lebih tertarik memberi makan ikan-ikan Papa ketimbang meladeni orang tidak jelas. Siapa juga yang mengidolakanku? Bahkan, teman-teman di kantor saja pernah bilang, kalau mengidolakanku itu kurang kerjaan. Cewek galak, terlalu mementingkan pekerjaan, dan cuwek. Begitu kata mereka. Jadi, siapa pun yang mengagumiku, dia hanya akan buang-buang waktu. Tiana juga pernah bilang, kalau mengagumi orang yang memiliki tingkat kepekaan di bawah rata-rata hanya akan makan hati. Lalu, aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku separah itu? Ikan-ikan berenang ke atas, berebut makanan. Mereka tampak lincah dan lucu sekali. "Kamu nggak bosan hari Minggu gini di rumah terus?" Suara itu sangat familier. "Enggak, Ma. Sasmitha lagi nggak pengin ke mana-mana," jawabku dengan menoleh ke samping, sekilas. Mama duduk anggun, tampak dari ekor mata dia tengah membuka majalah. Aku mengikuti pergerakan Mama. "Mama mau Mitha antar jalan?" tawarku sopan. "Boleh. Mama ada janji sama orang nanti jam dua siang." Kutengok jam di pergelangan tangan, baru jam satu. "Oke, Mitha siap mengantar Mama ke mana pun," kataku gembira. Kapan lagi menyenangkan Mama? Aku senang bila Mama juga senang. Akhirnya, kami siap. Mama juga sudah rapi dengan setelan kebaya seperti biasanya. Aku pun memakai pakaian casual dipadu sweeter rajut hitam. Tak lupa kaca mata hitam dengan lensa hitam keunguan bertengger di hidung. Siang bolong begini akan sangat menyilaukan bila tak memakai kacamata. "Gayane kaya turis wae. Ngapain pakai tesmak segala?" Omongan Mama terdengar mencibir di telinga. Tesmak itu kacamata. Mama memang masih suka bicara campuran seperti itu. "Nanti kecantikan Mitha bisa luntur kalau nggak pakai kacamata. Sayang, 'kan?" jawabku setelah kami sama-sama berada dalam mobil. "Ayu-ayu tapi nggak ada yang deketin kamu. Kayak Mama gitu lho, waktu muda banyak yang mau meminang Mama." Kipas lipat terkibas di depan wajah Mama, seakan-akan dinginnya AC mobil tak berpengaruh baginya. "Kita beda zaman, Ma. Mama zaman old, pasti nggak ada cowok keren yang bisa Mama pilih. Kalau Mitha, kebanyakan cowok keren, sampai susah milih," jawabku asal. Mobil melandas, membelah jalanan kompleks. Puas rasanya bisa membuat Mama tak menjawab lagi. Aku merasa menang kali ini. Tentu saja aku tersenyum penuh kejayaan. Lihat saja, wajah Mama sampai sejengkel itu. "Biar nggak ada yang keren, tetap aja Mama bisa dapat papamu yang ganteng luar dalam." Skak mat!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN