Seiring waktu berjalan, aku mulai membiasakan diri dengan kehidupan ala sekolah asrama, meski setumpuk disiplin mengawal kehidupan kami, namun persahabatan yang tumbuh sesama anak yang jauh dari orang tua, rutinitas yang padat dan jenis-jenis eskul yang menarik menjadikan keinginan-keinginanku untuk keluar sirna. Apalagi aku sudah mengenal cinta, meski rasa itu muncul untuk seorang pria, tapi jujur saja hari-hariku di sekolah asrama semakin berarti dan berharga, bahkan aku enggan untuk liburan, asalkan aku dapat bersama pacarku yang tampan. Hahahahaha, lebay banget.
Sekarang, setelah sore ini, keraguan itu mulai tumbuh lagi di dalam hatiku, mungkin juga rasa itu tidak pernah hilang, rasa indahnya sekolah di luar, sekolah yang tidak ada asramanya, tidak ada disiplin yang begitu ketat, tidak ada aturan ini itu yang harus dipatuhi, hemmmmmmm terasa begitu menyenangkan.
Seandainya saja tidak ada Fikri, rasanya enggan untuk kembali ke sekolah, tapi ketika wajah manis pacarku itu muncul dan tersenyum dalam lamunanku, muka Dion, Reno dan Idris tersnyum silih berganti dalam anganku... Tidak, aku tidak boleh menilai hanya dari kenikmatan sesaat.
Di sekolah asrama itu aku punya teman, di sana aku punya sahabat dan di tempat itu pula aku punya pacar. Mereka menungguku, untuk kembali berkumpul dan bercengkrama, makan bersama di meja panjang, berenang bersama di kolam renang yang tempat gantinya tidak bersekat (Meski sampe sekarang aku masih risih ganti celana di sana, apalagi kalau ada siswa SMA yang suka ngelirik), aku harus kembali ke sekolahku itu, karena di sana kutinggalkan cintaku.
"Sudah pulang." ucap papa sambil keluar dari pintu utama, Mama mengikuti dari belakang, dan kedua orang tuaku ikut duduk di teras sambil menghabiskan waktu senja. Sudah lama sekali kami bertiga tidak menghabiskan waktu begini.
"Baru aja, tadi diantar pake mobil sama Selvie" jawabku rada manja, mumpung lagi di rumah.
"Selvie anaknya Pak Bachtiar itu?" tanya papa. Aku juga baru ingat nama ortunya Selvie adalah Bachtiar, hehehe.
"Iya, yang rumahnya di Kemiling" ucapku.
"Pegawai pariwisata itu ya pa?" timpal mama sambil memandang papa.
Papa mengangguk sambil menarik nafas pelan.
"Papa kenal ya sama ayahnya Selvie?" tanyaku.
"Tidak terlalu akrab, waktu kamu SD papa dan pak Bachtiar sama-sama di komite sekolah, jadi tau saja"
"Oh gitu," jawabku biasa saja, sebenarnya juga nggak penting-penting amat pertanyaanku tadi.
"Mbak Mita kapan pulang pa?" tanyaku lagi, sudah lama sekali aku tidak ketemu sama kakak perempuanku itu.
Di keluarga ini hanya ada dua anak, satu perempuan, kak mita dan satu lagi laki-laki, siapa lagi kalau bukan aku. Kak mita sekarang sudah kuliah semester empat, dan sebentar lagi masuk semeter lima, di Hubungan Internasional UGM. Sebenarnya itu idenya papa, dan mbak Mita juga setuju, meski mama lebih beraharap kakak perempuan ku itu jadi dokter. Papa bercita-cita mbak mita jadi diplomat, semoga saja berhasil.
"Sekarang mbakmu itu masih UAS, paling juga sebulan lagi baru pulang" jawab papa.
"Sebulan lagi aku sudah kembali ke sekolah" jawabku dingin.
"Kamu kan liburnya 40 hari, pasti nanti juga ketemu" tambah mama sambil tersenyum.
"Kenapa mbak nggak boleh menjengukku di sekolah ma?' tanyaku sambil menatap jalanan yang sudah mulai gelap.
Sudah dua tahun aku di semarang, mbak Mita belum pernah datang menjengukku, padahal jarak Jogja dan Semarang tidaklah sejauh Bandar Lampung. Kadang aku iri sama Dion, orang tuanya saja hampir setiap bulan berkunjung, padahal dari Malang.
"Papa tidak ngasih izin, mbakmu itu perempuan, nggak hafal jalannya. Papa dan mama nggak berani membiarkan kakakmu pergi sendirian ke semarang, apalagi sekolah mu itu juga di bukit" jelas papa dengan lembut, tersirat dari jawabannya tidak ingin mengecewakanku. Aku tersenyum, aku tidak memaksa, hanya berharap.
"Tahun ini kamu harus belajar giat, supaya nanti bisa masuk SMA yang bagus" mama membicarakan topik baru, dan terus terang saja bikin aku kaget. SMA yang bagus? Apa maksudnya?
"SMA di tempatku juga bagus" ucapku dengan penuh penekanan.
"Kamu masih mau sekolah di Semarang? Nggak ada niat pindah ke sini, di SMA 2 atau Al-Kautsar?" mama berbicara pelan.
"Aku sudah banyak teman di sana, males adaptasi lagi" jawabku datar.
"Bukannya di sini kamu juga banyak teman, tadi ke Gramedia sama teman-temanmu kan, juga ada anak pak Bachtiar itu" kilah mama.
"Ya, tapi maksudku teman dekat," bantahku. Mama sedikit terkejut.
"Apa kamu punya pacar di sana? Emang di sekolahmu ada anak cewek?"
Aku menelan ludah mendengar kata-kata mama, mampus! Mau jawab apa sekarang, jangan-jangan mama tau kalau di sekolahku banyak yang pacaran sesama cowok.
"Eh, nggak lah, maksudku sahabat, bukan pacar ." ucapku gugup. Mama justru tersenyum melihat tingkahku yang rada aneh.
"Hem, nggak apa-apa kalau kamu mau tetap lanjut di sana, mama merasa kesepian aja, kakakmu sudah di Jogja, kamu di Semarang, rumah ini tambah sepi" ucap mama lirih.
Aku bangkit dari kursiku dan duduk di lengan kursi mama, sambil mendekap ibu yang melahirkanku, sedih mendengarnya. Mama menatapku penuh sayang.
"Tapi di sekolahmu ada jurusan IPA kan?" mama kembali bertanya dengan nada biasa lagi.
"Ada, emang kenapa?" tanyaku bingung.
"Kamu harus masuk IPA, makanya belajar mesti rajin" tambah mama sambil melirik ke papa yang sedang asik membolak-balik halaman koran yang diantar tadi pagi.
Hahahaha, jadi ingat mbak Mita, dulu juga mama yang ngotot masukin kakakku itu ke IPA, agar bisa kuliah di kedoteran, tapi akhirnya mbak Mita daftar di Hubungan Internasional. karena ulahnya papa.
"IPA sama IPS nggak ada bedanya juga, toh nanti kami kuliah di Hukum kayak papa," papa akhirnya ikut nimbrung, aku kira tadi papa sibuk baca koran, rupanya menyimak juga.
"Nggak! kamu harus jadi dokter, masa semua anak mama kuliah di sosial" ucap mama sambil melirik tajam ke papa.
"Dimana-mana anak laki-laki itu mengikuti jejak ayahnya, masa anak cowok jadi dokter sih" bantah papa.
"Adiknya papa dokterkan? Perasaan mama dia juga cowok tuh" suara mama sudah rada berubah, wait bisa-bisa berantem nih.
"Udah ah, aku masih SMP, perlu 4 tahun lagi menentukan mau kuliah dimana. Kalau seandainya nanti aku kuliah di hukum, aku tidak akan berkarir sebagai jaksa, aku akan jadi pengacara saja, biar bisa bertemu papa di ruang sidang" jawabku asal saja.
Papa terkejut mendengar ucapanku, mama tampaknya puas, dan akhirnya kami bertiga tertawa, hemmmmmmmm suasana yang asyik, coba kalau mbak Mita ada di sini, akan terasa lebih sempurna.
Hari-hariku di rumah berjalan sesuai dengan perkiraanku sebelumnya, setelah masuk minggu kedua, papa dan mama sudah mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, papa dengan banyak berkas yang harus diteliti di kantor, dan mama yang juga sebagai wakil kepala sekolah sibuk dengan Penerimaan Siswa Baru.
Karena sekarang musim penerimaan siswa baru, ternyata berdampak dengan suasana rumahku, aku mendapat tugas baru untuk menjawab dan bertanya pada setiap tamu yang datang mencari mama, karena mama wakil kepala sekolah di SMA 2, yang notabenenya sekolah paling Favorit di Bandar Lampung, jadi banyak cara yang ditempuh calon siswa dan walinya agar bisa diterima di sekolah itu.
Ada istilah lewat pintu belakang, beli kursi, siswa titipan dan istilah-istilah aneh lainnya, jadi tugasku hanya satu, yaitu berbohong. Anehkan, jarang-jarang orang tua mengajarkan anaknya berbohong, tapi ini demi kebaikan. Bila ada wali calon siswa datang ke rumah, biasanya tujuannya tidak lain mau memasukkan anaknya melalui pintu belakang, mungkin karena nilai anaknya tidak sesuai standar, sehingga menggunakan uang untuk menutupinya. Hemmmmm, cara-cara yang menjijikkan, "Nyogok" agar bisa sekolah di tempat bagus. Seharusnya belajar yang benar, kalau Dion tau, pasti sudah kena semprot tuh.
Tugas yang tidak terlalu sulit, hanya perlu menjawab, "Mama sedang tidak di rumah, kalau mau ketemu ke sekolah saja om, tante", sampe capek juga mulutku mengulang-ulang kalimat itu.
Kadang aku bingung, apakah tamu-tamu ini nggak takut sama papaku, itukan melanggar hukum. Aneh memang, tapi begitulah. Demi anak, orang tua akan melakukan apa saja, meski itu jelas-jelas salah.
Setelah tiga minggu di rumah, aku menerima surat dari sekolah, surat yang biasa diterima oleh seluruh siswa lainnya, tentu saja daftar buku dan iuran yang harus dipersiapkan saat daftar ulang. Tapi dalam amplop cokelat yang diterima mbok Sum pagi itu ada yang berbeda, ya ada surat dari Kepala Sekolah yang isinya pemberitahuan bahwa aku dipilih jadi mayor junior marching band.
Aku membaca surat itu berkali-kali, ada rasa senang, bangga, cemas dan juga gugup, ada pertanyaan yang dari tadi pagi muncul dalam benakku, apa aku mampu? Bagaimana kalau aku cuma malu-maluin saja? Dari segi apa mereka menilaiku? Semakin banyak pertanyaan yang timbul membuat aku semakin cemas.
Dalam surat itu juga ada pemberitahuan bahwa marchingband sekolahku akan tampil dalam kompetisi Hamengkubuwono Cup di Yogyakarta akhir November, oleh karena itu semua personel harus kembali ke sekolah 10 hari lebih cepat dari jadwal liburan, artinya minggu depan. Aku lumayan kelabakan, karena aku belum siap-siap. Dalam daftar aku harus menyiapkan biaya kostum mayor yang akan dijahit di sekolah, sedang tongkat dan aksesioris lainnya sudah disediakan.
Beberapa hari terakhir mama sudah mempersiapkan semuanya, termasuk biaya-biaya daftar ulang, beli buku, dan kostum mayor. Bahkan sepertinya mama terlalu semangat, sampe-sampe tidak pernah lagi membahas tentang hiruk pikuk penerimaan siswa baru di SMA 2, padahal biasanya setiap makan malam mama selalu membahas hal itu, terutama wali calon siswa yang sekuat tenaga mencari jalan pintas, ngirimin tas mahal lah, sepatu dan macam-macam lagi. Padahal semua barang itu sudah dikumpulin di sekolah buat dilelang, hasilnya jadi tambahan beasiswa bagi yang kurang mampu.
"Waktu tampil November nanti, mama dan papa pasti datang, sekalian mengunjungi mbakmu di UGM." ucap mama berseri-seri.
Aku juga tidak terlalu kecewa meski tidak ketemu mbak Mita sekarang, karena kepulanganku ke sekolah dipercepat, nanti juga ketemu saat tampil di Hamengkubuwono Cup. Dion sering menceritakan padaku betapa prestisiusnya kompetisi itu, bisa dikatakan Hamengkubuwono Cup adalah event bergengsi. Akan banyak peserta yang tampil, sebut saja Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia, Marching Band Gita Pakuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang pernah menyabet juara umum, dan masih banyak lagi.
Beberapa hari menjelang kepulanganku ke sekolah, teman-temanku beberapa kali main ke rumah. Wahyu, Firman, Selvie dan juga Verry, mereka berempat hampir tiap hari datang, kami menghabiskan waktu bercerita, ngobrol, nonton, makan-makan, dan banyak hal lagi.
Setelah keempat temanku itu tau bahawa aku akan kembali ke sekolah lebih cepat dari jadwal, mereka tambah sering datang, kami bercerita tentang Hamengkubuwono Cup, Selvie dan Verry tampak terkesima dengan ceritaku, Wahyu dan Firman juga sangat tertarik, maklum saja kami berlima semua mengikuti eskul yang serupa.
Akhirnya hari keberangkatanku ke sekolah tiba, pesawat akan berangkat siang jam 2, papa yang akan mengantarkanku sampe sekolah, karena banyak juga yang harus dibayar. Sebelum aku berangkat ke badara keempat temanku sudah datang membawa hadiah, aku tidak sedang ulang tahun, mungkin sekedar ucapan perpisahan, karena kami akan bertemu lagi tahun depan.
Mama mengedipkan matanya berkali-kali sambil melirik ke arah Selvie, bikin aku gerah saja, kalau aku respon cemberut, mama malah tertawa.
"Kasian banget lu vie, baru juga deket, sudah ditinggal" celetuk Firman.
Selvie diam saja mendengar ucapan Firman, sementara Wahyu tertawa, aku cuek saja, sekilas Verry tersnyum tipis.
"Nggak usah cemas vie, waktu setahun nggak lama kok, sabar saja, Ricko pasti kembali" timpal Wahyu disambut tawa Firman. Aku menjelitkan mata ke arah dua teman ku itu.
"Lu nggak perlu takut vie, di sana nggak ada cewek, jadi Ricko akan tetap single kok, kecuali kalau dia mencoba pacaran sama cowok" ucap Firman cengengesan.
Aku shock mendengar candaan kedua orang ini, benar-benar kelewatan. Yang aneh reaksi Verry justru kalem-kalem aja. Huft!
"Udah? Puas kaliang ngerjain aku?" jawabku sambil menatap Wahyu dan Firman sementara Selvie tertawa diikuti oleh Verry.
Kami berbicara sebentar sebelum papa memberitahu untuk segera berangkat, Selvie memberiku sebuah kotak yang langsung aku buka saat itu juga, ternyata isinya cokelat, sudah aku duga. Kado Wahyu dan Firman dibungkus nggak karuan bentuknya, isinya baju kaos berwarna putih, dan terakhir Verry memberikan aku jaket berwarna merah, warna favoritku, di bagian depan jaket itu bergambar singa yang disablon timbul berwarna hitam, artistik banget.
"Kenapa gambar singa?" tanyaku.
Verry tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Mungkin hanya suatu kebetulan, ngapain juga ditanyakan, meski belakangan ini aku sudah mulai akrab dengan Verry yang cute, hehehe semoga saja Fikri nggak cemburu.
"Oh ya, satu lagi kak, ini ada titipan dari mama" Verry mengeluarkan satu keresek hitam berisi jambu air hijau.
"Kakakkan suka jambu air hijau, di belakang rumahku ada pohonnya" ucapnya sambil menyerahkan kresek berisi jambu itu.
Wahyu dan Firman bengong melihat kejadian itu, sedangkan Selvie tersenyum. Aku masukkan jambu air hijau yang mengingatkanku pada Fikri itu ke dalam tas, mama dan papa sudah berdiri di pintu mobil, mama hanya akan mengantar sampe bandara dan membawa mobil pulang, sedang aku dan papa akan langsung berangkat ke Semarang, tentunya transit dulu di Jakarta.
Aku mengucapkan terimakasih dan pamit sama teman-temanku, bersalaman sama Selvie, berpelukan dengan tiga lainnya, dan ketika memeluk Verry dia berbisik di telingaku. "Gambar jaket itu adalah simbol zodiakku"
Aku menatapnya sesaat, sambil berucap, "Terimakasih ver, buat jambunya dan jaketnya."
Dia mengangguk dan tersenyum, aku masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang, meninggalkan dua sahabat lamaku, satu sahabat yang baru saja akrab, dan satu orang teman baru, yang lumayan menarik perhatianku, entahlah.
Aku buka ransel yang ada di sampingku, dan mengeluarkan jaket yang diberikan Verry tadi, gambar singa yang gagah, ternyata ini zodiaknya Verry, Leo. Lambang keberanian.
"Kita akan ketemu lagi tahun depan sobat," ucapku dalam hati. Sekilas senyum Verry muncul dalam benakku.
Mobil ini melaju kencang, hingga akhirnya melewati terminal Rajabasa dan terus lurus sampai simpang Natar dimana ada gapura besar bertuliskan "SELAMAT JALAN KOTA BANDAR LAMPUNG, KOTA TAPIS BERSERI"
Aku tersenyum, sementara menara kendali bandara sudah kelihatan di kejauhan, satu tahun lagi aku akan kembali ke kampung halamanku ini. Apakah aku lebih rindu kehidupanku di asrama atau kehidupan yang aku tinggalkan di sini, hanya waktu yang akan menjawabnya. Yang jelas saat ini aku kangen pacar ku. Aku kangen sama Fikri, yang sudah ada di sekolah semenjak beberapa hari lalu, karena siswa yang baru masuk SMA harus registrasi, selain itu juga mereka perlu melakukan cap ijazah SMP, jadi harus datang lebih cepat. See you honey .
Sampai jumpa teman lama, dan jumpa kembali teman lama.
BERSAMBUNG