Aryo membalikkan badannya, begitu mendengar suara tersebut. Ia langsung menatap tidak suka begitu mengetahui, siapakah orangnya yang sudah menegur. Dalam hatinya, ia menyesali dirinya yang lambat membawa Riana kabur, keburu makhluk pemberang ini ke luar dari ruang ganti. “Mengapa kau tidak berlama-lama di ruang ganti dan membiarkanku dengan kekasihku Riana. berbicara.” kata Aryo kepada Jaka. Jaka melotot mendengar pernyataan Aryo yang sangat tidak masuk akal, “Hei, makhluk halu!. Riana itu hanyalah mantan kekasihmu saja. Ia sudah menjadi istriku dan kamu tidak berhak untuk mengajaknya pergi berbicara berdua denganmu, tanpa seijin dariku.” Aryo menjadi marah mendengar perkataan Jaka yang mengejek dirinya, “Dengar, ya!, aku dan Riana perlu bicara, karena aku tahu ia pasti merasa tertekan

