Bab 32. Malam yang Hangat

1170 Kata

Meysa menghentikan langkahnya. Tubuhnya menegang. Ia tak berani berbalik, seolah-olah mendengar suara Jo barusan saja sudah cukup untuk meremukkan pertahanannya yang rapuh. Entah apa yang akan pria itu lakukan? Langkah kaki Jo perlahan terdengar mendekat dari belakang. Tak tergesa. Tak menghakimi. Saat ia sudah cukup dekat, suaranya kembali terdengar—tenang, tapi mengandung sesuatu yang sulit ditebak: kecewa, lega, atau mungkin luka yang sudah terlalu lama diam. “Duduk, Mey,” titahnya. Meysa menggigit bibirnya, tapi menurut. Ia berbalik dan kembali ke sofa, menunduk dalam, tangan di pangkuannya gemetar. Jo berdiri di depannya, tak langsung bicara. Ia menarik napas, lalu duduk perlahan di kursi seberang. Tatapannya menembus hati Meysa yang rapuh. “Aku sudah tahu semuanya,” katanya akhi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN