Kiai tertawa terkekeh-kekeh lalu meminta para santri untuk segera kembali ke aula. Pria sepuh ini berniat memberi tausiah kepada para santri. Akhirnya, keempat santri berpamitan kepada Kiai dan Parman. Mereka berjalan keluar ruangan dengan berbicara lirih. Parman masih bisa sedikit mendengar arah pembicaraan mereka yaitu ada sebuah gedebok pisang hangus di dapur. Mereka berbicara sambil sesekali beristigfar. “Astaghfirullahaladzim!” “Masyaallah!” “Allahu Akbar!” Parman tak berniat membahasnya dengan Kiai. Ia masih ingin menenangkan diri dulu karena belum sanggup mendapat kejutan lagi. Kiai menghampiri Parman lalu menepuk bahunya. “Mas Parman makan dulu lalu beristirahat. Biar pikiran dan hati lebih fresh. Saya tinggal dulu ke aula. Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,”

