Ponsel Jelita tergeletak di rumput, video interogasi Budi masih terputar, menampilkan adegan kejam yang menusuk hati. Air mata Jelita mengalir deras, isak tangisnya memenuhi keheningan halaman belakang. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Melihat sahabat ayahnya disiksa, diancam, demi dokumen yang kini ada di tangan mereka—rasanya seperti pisau yang mengiris-iris nuraninya. Ini bukan lagi sekadar ancaman, ini adalah pertaruhan nyawa. Dani segera mendekap Jelita, memeluknya erat. “Sshh ... tenang, Jelita. Dia akan baik-baik saja.” Suara Dani menenangkan, namun ia merasakan ketakutan Jelita yang begitu dalam. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Jelita sekacau ini, begitu rentan. Tangannya membelai lembut rambut Jelita. “Aku janji akan menemukan Budi. Kita akan menyelamatkannya.” Jelita me

