Suasana di kediaman Wijayanto terasa berat. Dani dan Jelita tiba di rumah dalam keadaan lelah, bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Insiden di kafe tadi malam meninggalkan luka yang menganga: Alexa yang tertembak dan menghilang bersama bukti kuncinya, serta ancaman yang semakin nyata dari Rendra. Meskipun mereka selamat, rasa frustrasi memuncak. Rasanya seperti setiap kali mereka mendekati kebenaran, Rendra selalu selangkah di depan. Jelita membantu Dani membersihkan luka-luka di lengannya, gerakannya lembut dan penuh perhatian. “Kita kehilangan Alexa dan bukti pentingnya,” bisik Jelita, suaranya sarat kekecewaan. Dani mengangguk, matanya menatap kosong ke dinding. Ia memegang sepotong kain dari jaket Beni yang ia temukan di mobil yang ringsek. Kain itu seperti benang harapan ya

