Suara bisikan para tamu yang meremehkan cincin Jelita masih menggema di telinga Dani. Malam itu, setelah pesta ulang tahun Kakek Wijayanto mereda dan semua kerabat mulai kembali ke rumah masing-masing, Dani duduk di sofa ruang kerjanya. Di tangannya, sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Kosong. Cincin imitasi yang ia berikan pada Jelita, yang seharusnya hanya menjadi simbol pernikahan kontrak, kini terasa seperti beban berat di dadanya.
Ia menatap cincin itu. Sederhana, tanpa kilau yang berarti, dan jelas bukan berlian asli. Saat membelinya dulu, Dani hanya berpikir singkat. Ini pernikahan sandiwara. Buat apa mengeluarkan uang lebih untuk sesuatu yang tidak akan bertahan? Namun, mendengar bisikan-bisikan tajam tadi, melihat Jelita menunduk malu, ada penyesalan yang tiba-tiba menyengat hatinya.
“Bodoh,” gumamnya pada diri sendiri. “Bagaimana bisa aku membiarkan dia dipermalukan seperti itu?”
Dani bangkit, melangkah ke jendela besar yang menghadap taman. Hujan sudah berhenti, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah yang kuat. Ia tahu Jelita tidak akan pernah mengeluh. Gadis itu terlalu mandiri, terlalu kuat, untuk menunjukkan rasa sakitnya. Namun, Dani bisa melihatnya. Ia bisa melihat luka di mata Jelita setiap kali ada bisikan atau tatapan meremehkan.
Ia tak bisa membiarkan itu terjadi lagi. Terlebih, setelah semua yang ia ketahui tentang latar belakang Jelita yang sebenarnya, tentang jebakan kejam yang merenggut segalanya dari gadis itu. Jelita pantas mendapatkan yang lebih baik.
Dani menarik napas panjang. Ada keputusan yang harus ia buat. Bukan keputusan bisnis, bukan pula keputusan yang rasional. Tapi keputusan yang didorong oleh perasaan aneh yang mulai bersemi di hatinya, perasaan yang tak ia duga akan muncul dalam pernikahan kontrak ini.
Momen Tak Terduga
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa lebih canggung dari biasanya. Jelita mencoba bersikap normal, membaca koran pagi, namun ia sesekali melirik Dani yang tampak lebih diam dan serius. Sejak kejadian semalam, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Dani. Ada semacam intensitas yang membuat Jelita sedikit gugup.
Setelah sarapan selesai, Dani bangkit. “Ikut aku sebentar!”
Jelita mengernyitkan dahi, namun mengangguk. Ia mengikuti Dani menuju ruang kerja pria itu. Di sana, Dani menunjuk sebuah kursi di hadapan mejanya.
“Duduk!”
Jelita menurut. Ia menatap Dani, bingung. Pria itu berjalan ke laci meja, menarik sebuah kotak beludru lain—kali ini berwarna merah marun, dan jelas terlihat lebih mahal. Jantung Jelita berdebar tak karuan. Ada apa ini?
Dani duduk di hadapannya, menatap Jelita dengan pandangan serius. “Soal kemarin malam.”
Jelita menunduk. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.”
“Tidak,” potong Dani tegas. “Tidak seharusnya kau terbiasa. Tidak seharusnya kau dipermalukan seperti itu.”
Dani membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, sebuah cincin berlian sederhana namun elegan berkilau indah. Cahaya pagi memantul dari batu itu, menciptakan spektrum warna yang memukau. Mata Jelita membelalak. Ia belum pernah melihat berlian asli sedekat ini. Keindahan cincin itu menyilaukan, namun yang lebih menyilaukan lagi adalah ketulusan yang terpancar dari mata Dani.
“Ini ....” Jelita terdiam, lidahnya kelu.
“Ini bukan bagian dari kontrak,” kata Dani. “Ini dari ... permintaan maafku. Aku seharusnya tidak membiarkanmu memakai cincin yang membuatmu diremehkan.” Ia mengambil cincin itu dari kotaknya, dan dengan gerakan perlahan, menggenggam tangan kiri Jelita.
Jelita menahan napas. Sentuhan tangan Dani, hangat dan kuat, terasa berbeda dari sekadar akting. Dani menatapnya, pandangannya lurus dan tulus.
“Jelita,” ucapnya, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Aku tahu pernikahan kita dimulai dari kontrak. Tapi aku tidak ingin kau dipermalukan lagi. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu.”
Perlahan, Dani menyelipkan cincin berlian itu ke jari manis kiri Jelita. Ukurannya pas. Kilau berlian itu kini bertengger indah di jari Jelita, seolah memang ditakdirkan untuk berada di sana.
Jelita menatap cincin itu, lalu mengangkat pandangannya ke wajah Dani. Pria itu masih menatapnya, ada sorot mata yang sulit ia definisikan—campuran penyesalan, perhatian, dan sesuatu yang lebih dalam.
Kemudian, air mata Jelita mulai menetes.
Bukan air mata kesedihan, bukan pula air mata kemarahan. Ini adalah air mata kelegaan. Air mata yang sudah lama ia tahan, dari semua penghinaan, penolakan, dan rasa sakit yang ia alami. Selama ini, ia selalu bersikap tegar, menahan semuanya sendirian. Sejak bebas dari penjara, ia hanya menerima tatapan jijik, bisikan mencemooh, dan penolakan mentah-mentah. Tidak ada yang pernah menunjukkan kebaikan sejati padanya, tanpa motif tersembunyi, tanpa pamrih.
Ini adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia diperlakukan dengan kelembutan dan perhatian yang tulus. Bukan karena simpati, tapi karena Dani merasa ia pantas mendapatkannya.
“Terima kasih,” bisik Jelita, suaranya parau oleh isak tangis yang tertahan. Ia tidak bisa menahannya lagi. Bahunya mulai bergetar.
Dani, yang biasanya kaku dan tidak nyaman dengan emosi, terdiam. Ia melihat Jelita menangis. Bukan tangisan keras, melainkan isak pilu yang tertahan, menunjukkan betapa dalamnya luka yang disimpan gadis itu. Tanpa sadar, Dani mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Jelita, menghapus air mata yang mengalir. Sentuhannya lembut, penuh kehati-hatian.
“Jangan menangis!” kata Dani, suaranya berubah menjadi lebih lembut. “Kau tidak pantas menangis karena hal seperti itu.”
Jelita hanya menggeleng. “Ini bukan hanya karena cincinnya, Dani. Ini ... ini karena kau memperlakukanku seperti manusia. Seperti ... seseorang yang berharga.”
Ucapan Jelita menyentuh hati Dani. Ia menyadari betapa beratnya beban yang selama ini dipikul gadis itu sendirian. Ia merasa seperti telah melakukan sesuatu yang benar, sesuatu yang melampaui perjanjian mereka.
Mulai hari itu, ada perubahan kecil namun signifikan dalam interaksi Jelita dan Dani. Jelita sesekali memandang cincin berlian di jarinya, sebuah pengingat akan kebaikan tak terduga dari Dani. Rasa percaya dan sedikit kenyamanan mulai tumbuh di antara mereka.
Dani, di sisi lain, merasa aneh setiap kali melihat cincin itu di jari Jelita. Ada kebanggaan samar, dan juga rasa memiliki yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mulai mengamati Jelita lebih dekat—bagaimana gadis itu tersenyum saat Kakek Wijayanto bercanda, bagaimana ia begitu fokus saat mencoba resep baru, atau bagaimana matanya berkilat tekad saat berbicara tentang masa depannya.
Ada sesuatu dalam diri Jelita yang mulai menariknya, sesuatu yang lebih dari sekadar akting dalam pernikahan kontrak. Ada degup jantung yang berbeda setiap kali mereka berdekatan, setiap kali mata mereka bertemu terlalu lama.
Sementara itu, berita tentang pernikahan Dani dan Jelita yang viral di media sosial, termasuk foto-foto mereka di pesta ulang tahun Kakek Wijayanto, sampai ke telinga Daria dan Sania. Mereka melihat cincin baru di jari Jelita, yang berkilau terang di setiap foto.
“Cih! Dia pasti menguras harta Dani!” dengus Sania, menatap layar ponselnya dengan dengki. “Berlian sebesar itu hanya untuk mantan napi rendahan sepertinya?”
Daria tersenyum tipis, licik. “Jangan salah, Sania. Justru itu yang harus kita manfaatkan. Semakin tinggi dia terbang, semakin keras dia akan jatuh.”
Mereka berdua mulai menyusun rencana baru. Rencana untuk membongkar “kebohongan” di balik kemewahan baru Jelita, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Jelita hanya seorang penipu yang haus harta. Mereka ingin menunjukkan bahwa cincin itu, dan semua yang Jelita miliki, adalah hasil dari tipu daya.
Daria teringat percakapannya dengan Beni. Beni masih memiliki beberapa kartu as yang bisa ia mainkan. Apalagi, Beni juga sedang membutuhkan uang. Aliansi ini akan sangat menguntungkan.
“Waktunya kita tunjukkan siapa Jelita yang sebenarnya,” kata Daria, sambil menghubungi Beni.
Di sisi lain kota, Beni tersenyum puas setelah menerima panggilan dari Daria. Ia telah menunggu ini. Ia tahu ini saatnya. Ia punya satu rencana besar yang akan menghancurkan Jelita dan Dani sekaligus. Rencana yang tidak hanya akan membalas dendamnya, tetapi juga memberinya keuntungan besar.
Dengan senyum dingin, Beni membuka sebuah kotak kardus lusuh di bawah mejanya. Di dalamnya, tersimpan puluhan surat lama, foto-foto usang, dan sebuah buku harian yang terlihat kusam. Semua terkait dengan masa lalu Pratama Santosa, ayah Jelita, dan rahasia besar yang belum pernah terungkap. Rahasia yang bisa menghancurkan reputasi keluarga Wijayanto, dan bahkan mengancam posisi Dani sebagai pewaris. Beni tahu, ini adalah kartu AS terakhirnya.
“Jelita ...,” gumam Beni, menatap foto pernikahan Jelita dan Dani di layar komputernya. “Lihat saja seberapa lama kebahagiaanmu itu akan bertahan?!”
Ia mulai mengetik sesuatu di komputernya, sebuah rencana yang akan mengubah segalanya.