Penghinaan

1191 Kata
Wanita itu meninggalkan jeruji besi yang telah mengurungnya untuk waktu yang cukup lama. Langkahnya masih tampak kaku. Pupil matanya seakan baru menemukan cahaya matahari. Dengan uangnya yang sedikit, yang tertinggal di saku pakaian yang terakhir dikenakan sebelum masuk ke dalam sel tahanan dingin, dia pun menaiki taksi dan bermaksud pulang ke rumahnya. Rumah megah dengan gaya klasik. Banyak ornamen yang menghiasi pekarangannya. Sepi, tidak ada sambutan untuknya. Dia turun dari taksi dengan tarif ongkos yang cukup mahal itu. Mengikis habis sisa uangnya tadi. Kemudian dia masuk tanpa sungkan ke rumah tadi dengan sepatunya yang kotor. Perutnya yang kosong membawanya langsung untuk memasuki dapur. Wanita itu mengambil dan mengisi panci dengan air. Menyalakan kompor dan bermaksud membuat mie instan di sana. Dia masih ingat jika tempat mie berada di atas dipan paling atas. Ya, beruntungnya mie itu masih tetap biasa di simpan di sana. Mie tersaji dalam beberapa menit saja. Dia sangat lahap memakannya seolah tak peduli dengan panasnya mie yang bisa saja membakar lidahnya tersebut. “Jelita? Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kau kabur dari penjara?” Jelita Cantika Mahari atau biasa dipanggil Jelita. Dia adalah wanita yang baru saja keluar dari sel tahanan dan kini sedang menikmati mie instan hangat buatannya sendiri. “Ibu, aku sudah bebas sekarang. Kenapa kau tidak menjemputku?” Wanita paruh baya yang dipanggil Ibu itu bukanlah ibu kandungnya. Sang ayah yang telah meninggal beberapa tahun silam sebelumnya sempat menikah untuk yang kedua kalinya. Daria, itulah nama ibu sambungnya. “Kenapa aku harus repot-repot untuk menjemputmu? Tidak penting. Banyak hal yang harus aku lakukan. Kenapa aku harus menyibukkan diri untuk mengurus anak yang tidak tahu diri sepertimu?” ketus Daria. Jelita menatap tajam pada wanita itu. Akan tetapi, Jelita lebih memilih untuk diam. Dia bukanlah seorang anak pembangkang dan malah hanya melanjutkan acara makannya saja. Namun, saat melihat banyak jejak kaki di lantai, Daria pun sangat kesal, lantas menarik mangkuk milik Jelita dan membantingnya ke lantai. Jelita terkesiap. Dia berdiri dan mendorong kursi yang tengah diduduki. Kuah yang ada di dalam mangkuk pun tumpah ruah di antara kakinya. “Malah enak-enakkan makan!” Daria berteriak seakan sedang berbicara pada seseorang yang sangat jauh jaraknya. Kedua tangan Jelita mengepal. Dia tahan amarahnya. Dia tatap kuah mie yang baru saja masuk beberapa sendok ke dalam mulutnya yang kini telah membasahi lantai. Lalu Daria berlalu pergi dan dengan cepat melempar kain pel dan ember yang didapatnya baru saja pada Jelita yang tampak kebingungan. “Bersihkan segera!” Tak melawan. Jelita masih tahu diri. Dia pun hanya menuruti perintah Daria membersihkan lantai. Hatinya ingin sekali menangis. Namun, dia tahan. Kakinya bergerak ke sana-kemari agar tak sampai melewatkan satu titik pun. Padahal dirinya ingin sekali beristirahat kala itu. Hingga tubuhnya pun terdorong saat ada yang membuka pintu. Wanita muda itu terhuyung. Tampak yang masuk adalah seorang wanita muda dengan rambut pendeknya yang dicat kemerah-merahan. Dia datang bersama seorang pria yang tak asing bagi Jelita. “Beni?!” panggil Jelita saat melihat wajah dari pria itu. Pria tampan dan bertubuh tinggi itu tengah bergandengan dengan adik tirinya, Sania. Jelita sangat terkejut. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. “Hai, Jelita. Kapan kau keluar dari penjara, huh?!” Beni menyapa. Tangan pria itu berusaha untuk menyentuh wajah Jelita. Akan tetapi, secepat kilat Jelita menepisnya. “Apa yang kau lakukan bersamanya?” “Sekarang dia pacarku,” celetuk Sania. “Apa?!” Sania tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha. Dasar payah, makanya kalau punya pacar itu dijaga! Lagi pula, mana mungkin Beni menyukai mantan napi sepertimu.” “Apa kau bilang?!” Jelita seakan terbakar emosi. “Semua orang sudah tahu busuknya dirimu! Kau murah dan juga menjijikkan!” cerca Sania sambil mengentak-entakkan kakinya ke lantai. Lantai yang sudah bersih pun kini kembali kotor. Bahkan lebih kotor dari sebelumnya. “Itu benar. Bahkan aku masih mempunyai video itu. Apa kau mau melihatnya sekali lagi?” tanya Beni. Dia mengeluarkan ponselnya. Mengotak-atiknya dan memutar sebuah video di hadapan Jelita. Video berdurasi pendek itu memperlihatkan seorang pria yang tengah bersama Jelita yang tubuhnya hanya tertutup selimut saja. Pria bertopeng tersebut menyentuh Jelita yang sedang dalam keadaan tak berdaya. Jelita muak dengan video itu. “Apakah dia sering melakukannya denganmu?” tanya Sania. Beni menggeleng cepat. “Tidak. Bahkan aku sendiri tak mau melakukannya dengan wanita munafik seperti dirinya.” “Tapi, aku sama sekali tak melakukan itu semua. Berikan ponsel itu padaku!” teriak Jelita. Dia berusaha mendapatkan ponsel Beni. Sedang Beni dengan sengaja malah menaik-turunkan ponselnya, mempermainkan Jelita. Sementara itu, tawa Sania terdengar semakin keras saja. “Kau memang tidak melakukannya.” Tiba-tiba terdengar suara Daria. Dia datang dan seolah telah mendengarkan percakapan mereka bertiga sedari tadi. Buru-buru Beni menyembunyikan ponsel miliknya. Menyimpannya kembali ke dalam saku celananya. “Apa?! Apa maksudnya?” Jelita tak mengerti. “Semua adalah rencana kami. Ha ha ha. Kami melakukannya untuk menyingkirkanmu. Harusnya hukumanmu tak pernah berakhir. Harusnya kau hidup di sel tahanan yang dingin itu selamanya. Bersemayam dan mati membusuk di sana!” Daria berkata panjang lebar. Kini Sania tertawa bersama ibunya. Tawa itu jelas membuat hati Jelita terluka. Terlebih, dia merasakan sakit yang teramat dalam ketika melihat Beni yang malah ikut-ikutan menertawakannya. Beni sama sekali tak menolongnya. “A-apa salahku pada kalian semua? Kenapa kalian sampai tega melakukan ini padaku?!” teriak Jelita menggertak. Dengan jari telunjuknya, Daria mendorong kepala Jelita. “Masih bertanya. Dasar otak udang! Jelas-jelas karena kami menginginkan seluruh hartamu. Bagaimana bisa ayahmu yang kaya raya malah meninggalkan hartanya pada seorang anak yang menjijikkan sepertimu? Aku tak bisa diam saja. Aku yang berhak atas semua ini.” Daria membuka lebar kedua tangannya sambil tertawa terbahak-bahak. Tawanya yang menyeramkan sampai menggema di seluruh ruangan. Kemudian dia mengambil secarik kertas dari dalam saku pakaiannya. “Apa kau tahu benda ini?” Daria menunjukkan secarik kertas tersebut pada Jelita. Mata Jelita dengan sangat hati-hati membaca setiap kata yang tertulis di sana. Matanya pun terbelalak saat mengetahui isi surat tersebut. “Berikan! Itu adalah surat wasiat dari ayahku!” pinta Jelita. Tangan kecil wanita itu pun malah ditepis keras. Daria malah menyobek kertas tersebut. Merobeknya menjadi beberapa bagian dan melemparnya tepat di wajah Jelita. “Pergilah dari sini! Pergi dari rumah ini!” Daria tak segan-segan mengusir Jelita. “Tidak. Ini rumah Ayahku.” Jelita hanya bergeming dengan air mata yang sudah membendung. Tanggul air matanya siap jebol kapan saja. “Tapi Ayahmu sudah tiada. Tidak ada lagi yang bisa melindungimu. Ha ha ha.” Sania mendorong tubuh Jelita sampai terjatuh. Daria yang kesal langsung saja menyeret Jelita keluar dari rumah. Ia perlakukan anak tirinya bagaikan seekor hewan. “Enyahlah kau dari sini! Aku tak sudi melihat wajahmu yang menjijikkan itu!” Tak berdaya, seberapa keras pun Jelita melawan dan memaksa untuk kembali masuk, dia masih tetap gagal. Ada Beni di sana yang menahannya. Jelas saja tenaganya tak sebanding. “Terima kasih telah memberi waktu pada kami untuk mempersiapkan segalanya,” ucap Daria sambil menutup pintu dengan sangat keras. Suara pintu yang teramat keras membuat jantung Jelita terentak. Wanita malang itu pun hanya bisa menangis sambil berjalan menjauh dari rumah yang harusnya menjadi miliknya sendiri. Dia pergi dengan perasaan dendamnya yang membara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN