Penjara

1272 Kata
Terpaksa Dave dan Devina membuntuti Victor masuk ke dalam penjara bawah tanah mengikuti pria tadi. Mereka menyapu pandang interior ruangan tersebut yang tampak usang dan tak terawat. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. "Sepi sekali, apa tidak ada yang bertugas? Atau… mereka sudah menjadi mayat hidup?" Dave bergumam, dengan ekor mata yang melirik setiap sudut ruangan tersebut. Pria yang membawa anjing tadi menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuh menatap mereka. "Dengar, kalian jika mau mengambil apa pun di sini terserah, mumpung tidak ada polisi yang bertugas." Mereka bertiga mengernyitkan dahi penuh keheranan dengan apa yang baru saja pria itu katakan. "Apa maksudmu?" tanya Devina. "Kau sendiri mau ngapain di sini?" sahut Dave. "Dan di mana putraku? Kau bilang kau melihatnya!" Victor menambah pertanyaan. Pria tadi menyunggingkan senyum. "Sebelumnya aku minta maaf, aku telah membohongi kalian soal anak kecil itu. Aku tidak melihatnya. Dan aku ke sini hanya untuk melepaskan saudaraku yang ditahan di sini setahun yang lalu. Aku rasa ini kesempatan bagus untuk membebaskannya karena tempat ini sepi dan tidak ada polisi-polisi yang berlalu lalang." Dengan sangat santai pria itu menjelaskan tentang niatnya tersebut seakan tak merasa berdosa. "What?!" Dave mengerling. "Jadi kau membuang waktu kami hanya untuk mengikuti mu dan omong kosong ini?!" Kedua tangan Victor mengepal sempurna. Kakinya sudah maju selangkah siap melayangkan pukulan terhadap pria yang dianggapnya kurang ajar tersebut. "Victor!" Davina menahan lengan pria itu. Pria tadi melebarkan senyumnya kemudian membalikkan tubuh, berjalan meninggalkan mereka. "Sampai jumpa." "Sial!" Victor mengumpat kesal. "Sudahlah. Lebih baik kita pergi dari sini dan melanjutkan mencari anakmu," saran Devina. "Tunggu!" Dave menghentikan langkah mereka. "Aku rasa pria itu mengajak kita ke sini ada untungnya juga," kata Dave membuat Victor dan Devina mengerling heran. "Maksud kau?" tanya Devina. "Dengar. Kita ambil semua senjata di sini, pistol dan apa pun yang ada untuk jaga-jaga kita jika dibutuhkan. Kalian tidak akan menggunakan tongkat melulu untuk mempertahankan hidup dari serangan zombie-zombie, kan?" Salah satu belah alis Dave naik, seolah meminta pendapat mereka. "Aku rasa kau benar." Victor mengangguk-angguk tanda setuju. "Baiklah ayo cepat!" Devina bergerak. "Di mana para polisi itu menyimpan senjatanya?" "Kita coba cari ke sana!" Dave bergerak maju, diikuti oleh Victor dan Devina. Mereka bertiga mulai menggeledah tempat tersebut. Berbagai lemari dan tempat menyimpan barang-barang sudah digeledah nya. Akhirnya mereka pun menemukan beberapa pistol di sana. "Kita ambil semua dan juga peluru-pelurunya. Ini akan sangat berguna bagi kita," ujar Dave sembari memeriksa pistol yang menurutnya masih bagus dan layak untuk digunakan. Saat kedua pria tersebut tengah asyik memilah-milah senjata, Devina tiba-tiba merasakan telinganya mendengar suara aneh. Wanita itu memutar tubuh, mendengar dengan saksama suara yang memancing indera pendengarannya tersebut. "Devina, kau mau ke mana?" tanya Dave yang berhasil membuat wanita itu sedikit menyembulkan tubuh. Devina mendesis. Mengerjap dan berkata, "Aku hanya ingin melihat lihat saja." "Jangan macam-macam dan cepat kembali," perintah Dave. "Baiklah. Kau tenang saja. Kabari aku jika kalian sudah selesai memilih pistol-pistol itu!" ujar Devina. Kemudian wanita itu bergerak mencari sumber suara. Menuruni lorong dengan memijak setiap anak tangga. Bau menyengat seperti mayat busuk langsung menghantam indera penciuman wanita tersebut. Namun hal itu tak juga membuatnya gentar. Tetap saja ia bergerak maju dengan kedua mata yang ia pasang dengan pandangan waspada. Sekelebat ia melihat sosok lelaki pembawa anjing tadi. Devina gegas membuntutinya secara diam-diam. Lelaki itu terus berjalan, memperhatikan kanan kirinya terdapat kurungan besi yang kosong. Ah bukan kosong, lebih tepatnya penghuninya tersebut merupakan tulang-tulang serta tengkorak manusia. Memang sangat mengerikan. Mungkin bau itu yang menyengat dan membius indera penciuman. "Hei, kau mau ke mana?" Akhirnya Devina bersuara, membuat pria tadi membalikkan tubuh menoleh ke arahnya. "Kau?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Kau belum pergi juga?" "Apa yang kau lakukan di sini?" Devina balik bertanya. "Aku sudah bilang, aku mencari saudaraku yang berada di sini," jawab pria itu. "Memangnya masih ada kehidupan di sini? Lihat saja sekitarmu." Devina berkata sembari memperhatikan sekitarnya yang usang penuh tulang-tulang manusia. Ia bahkan tiada henti membungkam hidungnya. "Jangan sembarang. Saudaraku masih hidup." Pria itu terlihat keras kepala. Saat pria itu tengah asyik berbincang dengan Devina, anjing yang sedari tadi gandengnya itu rantainya terlepas dari tangannya. Sehingga membuat anjing tersebut bergerak mengendus sesuatu yang mencurigakan. "Sebaiknya kau pergi saja dari sini." Devina memberi saran. "Terima kasih atas sarannya, dan sebaiknya kau pakai saja saran itu untuk dirimu. Dengar, ini penjara bawah tanah. Ada banyak manusia biadab di sini. Jangan sampai kau disakiti." "Terutama saudaramu itu?" Perkataan Devina jelas langsung memancing emosi pria itu. "Hei jangan sembarang–" Pria itu tak jadi melanjutkan ucapannya saat mendengar suara anjingnya yang menggonggong. Guk! Guk! Gukkk…!!! Pria itu membalikkan tubuh. Melihat sang anjing yang menggonggong pada sekelompok orang-orang yang terdiam menunduk di dalam sel. Pria itu berjalan mendekat. Devina memberi tatapan menyelidik. Mulai ikut menggerakkan langkahnya secara perlahan sembari terus memperhatikan segerombolan orang-orang di dalam sel tersebut. Kurang lebih ada lima orang lelaki yang berbadan gempal, dan dua orang lelaki berambut gondrong berbadan kurus kerontang. Semuanya menunduk tanpa memperlihatkan wajahnya. "Apa saudaramu ada di dalam sel itu?" tanya Devina pada pria itu. "Yah, kurasa." Pria itu merogoh sakunya. Mengambil sebuah kunci yang berhasil ia curi di laci tadi. Lantas bergerak ke arah sel, dan hendak membuka gembok tersebut. Sementara anjingnya di sampingnya terus menggonggong. "Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Devina dengan ekspresi panik. "Membebaskan mereka," jawab pria itu sembari terus mencoba membuka kunci dengan menjajal beberapa kunci yang sesuai dengan gembok sel tersebut. "Jangan bodoh!" balas Devina. "Dengar, aku rasa mereka sudah terinfeksi." "Apa maksudmu terinfeksi?" Pria masih terus menanggapi perkataan Devina. "Kau lihat kan di luar sana banyak orang yang menjadi zombie. Dan mungkin orang-orang di dalam itu juga sudah menjadi zombie," kata Devina. "Aku juga pernah melihat mereka yang menjadi zombie secara langsung. Mereka bertingkah aneh. Sedangkan orang-orang di sini biasa saja," kata pria itu. "Tapi mereka diam saja. Kalau benar itu saudaramu, pasti sudah sangat senang jika melihatmu. Atau setidaknya dia pasti bisa mendengar suaramu." Pria itu berhenti melakukan aksinya sejenak. Kemudian menatap ke arah Devina. Menyudutkan senyum. "Mereka dipenjara bertahun-tahun tanpa diberi asupan makanan. Sudah jelas mereka bakal diam karena rasa lapar yang menggerogoti. Dan mungkin saja tulang-tulang tengkorak di sekitarmu itu juga mati karena kelaparan, bukan karena zombie!" kilah pria itu. Devina mendesis kesal dengan sikap keras kepala pria tersebut. "Terbuka." Pria itu mengucap dengan penuh kegembiraan saat mendapati pintu selnya yang sudah terbuka. Lantas ia segera memasukkan tubuh ke dalam. "Hei, dengar! Jangan dekati mereka!" Devina masih mencoba mencegah dengan suara sedikit berbisik. "Aku tidak peduli!" ujar pria tersebut tampak tak acuh. Ia terus menggerakkan kakinya melangkah ke depan. Kesunyian ruangan tersebut membuat suara gesekan sepatu terdengar begitu nyaring. Pria itu bisa mengenali salah satu saudaranya yang mengenakan baju berwarna biru yang sudah lusuh dan bagian lengannya yang sobek. Rambutnya gondrong dengan tubuh kurus. "Hei, saudaraku. Ayo cepat pergi. Sekarang kau bebas. Ajak juga teman-temanmu. Tidak ada lagi yang bisa menahan kalian di sini. Polisi-polisi sudah tidak ada. Kalian bebas dan bisa menyedot udara di luar sana." Pria itu berkata dengan nada sedikit bercanda. Saat ia mendekat dan menyentuh pundak saudaranya tersebut, tiba-tiba pria berambut gondrong itu menoleh. Memberi tatapan tajam namun tampak mengerikan. Matanya itu tak terlihat bola hitamnya, hany putih dengan pinggiran yang merah menyerupai rambut-rambut akar. Pria itu terkejut dibuatnya. Hendak melangkah mundur tetapi pria gondrong yang dianggap saudaranya tersebut malah mencengkeramnya. Dan tanpa aba-aba lagi, mulai menggigit lengannya. Menggerogotinya dengan sangat ganas sampai tangan tersebut terlepas dari bagian tubuhnya. Pria itu berteriak pilu, menahan rasa sakit yang tak terelakkan lagi. Pria gondrong berwajah mengerikan tersebut menggeleng-gelengkan lehernya yang serupa patah, kemudian melemparkan lengan yang tadinya digigit sampai keluar sel dan jatuh mengenai Devina. "Aaaa!" Wanita itu berteriak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN