"Kau duduklah di sini dulu." Simon mendudukkan Teddy di sebuah ranjang di dalam kamar.
Sebuah kabin berdiri di pinggiran danau, Simon gunakan untuk bernaung dan bersembunyi dari bahaya. Kabin tersebut bergaya arsitektur Eropa. Cukup luas dengan fasilitas seperti rumah pada umumnya. Entah milik siapa kabin tersebut, yang jelas Simon memasukinya dengan paksa setelah membobol jendela.
"Kita sudah seharian mencari papa sampai sore tetapi kau belum menemukannya juga." Suara Teddy terdengar kecewa ditambah pula raut wajahnya yang jutek.
"Maafkan aku. Kau tahu punggung dan tulangku sudah tua dan mudah lelah. Hehe." Simon berkata dengan nada bercanda. Setidaknya berhasil membuat bocah kecil itu memamerkan gigi gigi susunya.
"Hahaha . Dan kau seperti robot!" Teddy tertawa.
Kemudian memperhatikan kakinya hanya hanya mengenakan separuh sepatunya. "Lihat, bahkan aku tak sadar menjatuhkan sepatuku di mana."
Simon memperhatikan kaki mungil tersebut.
"Itu sepatu pemberian ayahku." Bibir bocah itu mulai manyun dan matanya mulai mengembun.
"Hei… hei … jangan menangis." Simon meraih pipi mulus itu dan mengusapnya dengan telapak tangannya yang kasar. "Kau tenang saja, nanti setelah ayahmu ditemukan, kau bisa memintanya lagi. Oke?"
Simon melebarkan senyumnya, berniat menulari senyum tersebut pada bocah kecil yang murung.
Teddy mengangguk lantas tersenyum.
"Uff… tanganmu sangat kasar," celetuknya saat Simon tak juga menyingkirkan tangannya tersebut.
Lelaki tua itu terkekeh, lantas menjatuhkan tangannya dari pipi Teddy.
Bunyi perut Teddy mulai terdengar. "UPZ!" Anak itu membungkam mulutnya seketika dengan sangat lucu.
"Rupanya kau lapar ya?" Simon berkata dengan tersenyum.
Detik selanjutnya perut pria itu juga mulai terdengar keroncongan.
Teddy tertawa mendengarnya.
"Kau juga lapar? Haha!"
"Hahaha!" Simon membalas dengan tertawa. "Sebentar, aku carikan makanan dulu. Mungkin mereka menyimpan beberapa makanan di lemari es." Lelaki baya tersebut mendirikan tubuh.
"Apa kita ini sedang mencuri?" tanya Teddy ragu-ragu.
"Di saat keadaan yang mendesak, tidak apa-apa kan mencuri?" Simon mengusap pucuk rambut anak kecil itu.
Teddy tersenyum.
"Kau tunggulah sebentar di sini!"
Setelah mengatakan hal itu, Simon lantas membalikkan badan. Menggerakkan kakinya melenggang keluar kamar dan menuju ke arah dapur. Lelaki baya itu membuka semua lemari es serta rak yang seharusnya menyimpan makanan. Tetapi semuanya kosong. Bahan-bahan makanan tampak ludes habis dimakan tikus. Beberapa masih tersisa, tetapi itu bekas hewan pengerat dan Simon tak akan memberikan makanan tersebut pada bocah sekecil Teddy.
"Sial!" Lelaki itu mendesah gusar. "Sepertinya aku harus keluar mencari bahan makanan."
Kedua mata tua itu melirik ke arah jendela kaca tembus pandang yang menyuguhkan pemandangan luar. Langit tampak sedikit gelap lantaran sinar mentari sudah tak bisa menembus tempat tersebut.
"Sebelum malam tiba sebaiknya aku harus cepat mencari makanan," gumam lelaki baya tersebut.
Ia menggerakkan langkahnya keluar dari dapur. Tiba di tempat santai ia melihat beberapa mainan yang berceceran. Simon mendekat. Memungut mainan mainan tersebut dan membawanya menuju kamar tempat ia meninggalkan Teddy tadi.
"Hei!" Simon mengangetkan Teddy yang asyik melihat pemandangan luar dari jendela kaca.
Teddy menoleh. "Kau membuatku terkejut," ucapanya lugu.
"Oh ya?" Simon mulai menggerakkan kakinya masuk lebih dalam lagi.
"Kau sudah mendapatkan makanannya?" tanya Teddy.
Lelaki baya itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Aku tidak menemukan apa pun yang bisa kita makan," ucapnya yang langsung membuat senyum Teddy mengerut.
Bocah malang tersebut kembali murung.
"Tapi aku menemukan ini!" seru Simon memperlihatkan beberapa mainan yang dibawanya. "Lihat. Mainan mainan ini sangat bagus bukan? Mobil dan robot–"
"–spiderman!" ujar Teddy mantap saat melihat robot Spiderman.
"Oh, jadi ini namanya Spiderman?" tanya Simon. Lelaki baya itu memang tidak tahu menahu soal hal-hal lumrah yang biasa orang tahu. Maklum, karena selama ini, hidupnya tidak dihabiskan dengan hal-hal semacam itu.
Simon adalah seorang pendiam yang menolak keras akan teknologi. Dia hidup serba kekurangan dan kesederhanaan. Bahkan, tak lebih seperti hidup di zaman batu.
"Kau suka?" Simon menyodorkan robot Spiderman tersebut pada Teddy.
"Suka!" seru Teddy sembari meraih boneka tersebut.
Simon juga memberikan mobil-mobilan padanya.
"Dengar, kau main saja di sini. Aku akan keluar mencari makan. Ingat kata-kataku, ya, Nak! Jangan keluar sampai aku datang. Aku akan mengunci rumah ini. Oke?" titah Simon.
Teddy mengangguk. "Kau janji akan datang lagi? Kau tidak akan meninggalkanku sendirian di sini, kan?" Kedua mata bocah itu penuh permohonan. Tidak lebih seperti mata anak anjing atau disebut puppy eyes.
Simon mengambil kedua tangan mungil milik bocah itu dan menggenggamnya. Sementara bibirnya tertarik membentuk senyuman dengan tatapan penuh janji. "Aku pasti akan menemuimu lagi di sini," ujarnya pada bocah tersebut.
Namun agaknya Teddy masih tampak ragu. "Bagaimana jika kau tidak kembali?" Pertanyaan tersebut sukses membuat Simon terdiam.
"Bagaimana jika Monster itu menyerangmu? Aku akan sendirian di sini." Kedua mata Teddy sayu dengan kedua belah alis yang melengkung.
Simon meneguk ludahnya. "Hei…." Pria itu menyentuh janggut mungil anak tersebut dan menatanya agar menatap ke arahnya. Simon menggelengkan kepala pelan dan berucap, "Jangan berpikir seperti itu. Kau harus tetap berpikir positif. Oke?" Simon menarik bibirnya tersenyum. "Aku pasti akan kembali. Itu janjiku."
Teddy menatap kedua mata tua itu penuh keyakinan. Mata itu seakan mengingatkannya pada sosok ayahnya.
Dahulu, ayahnya pernah berjanji memberikan mainan untuknya. Dan ayahnya menepatinya. Itu artinya, saat ini lelaki tua itu pasti juga akan menepati janjinya.
"Sekarang mainlah dengan mainan barumu itu. Aku harus segera pergi agar bisa cepat kembali." Simon meraih pucuk kepala Teddy dan mengusapnya penuh kasih.
Teddy mengangguk kemudian tersenyum. Lantas ia mulai bermain dengan mainan barunya.
Simon mendirikan tubuhnya. Pandangannya masih terfokus pada bocah tersebut yang sibuk bermain. Seakan, melihat Teddy seperti itu mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri.
Perlahan kaki tua itu melangkah mundur. Menyentuh permukaan pintu, dan menarik handle pintu tersebut kemudian menutupnya dengan sangat pelan.
"Aku harus cepat!" Gegas lelaki baya itu melangkah. Matanya melirik sebuah jas hitam yang dipajang di aksesoris gantungan baju berupa ranting pohon yang dipelitur dengan sangat estetik.
Ia mengambilnya dan mengenakannya. Alih-alih sebagai penghalang cuaca dingin yang menyerbu di luar sana.
Setelah mengenakan jas tersebut, pria itu langsung menuju ke pintu utama. Keluar dari rumah tersebut dan menguncinya rapat lantas masukkan kuncinya di dalam saku jas.
Udara dingin serta angin langsung menyerbunya. Bahkan dedaunan kering juga menerpanya saat ia kali pertama memasuki halaman. Ia pun segera lari melewati jalanan yang sepi. Rencananya ia akan mencari toko makanan terdekat dan mengambil beberapa makanan dari sana.