"Hei… tunggu!" Dave masih saja mencoba mengejar Simon. Itu ia lakukan karena gerak gerik pria tua tersebut sangat mencurigakan.
Simon tak acuh dengan panggilan Dave. Karena yang ia pikirkan, Dave adalah sosok penjahat yang mencari seorang anak yaitu Teddy. Celaka jika pria itu mengetahui kalau Teddy sebenarnya ada bersamanya. Terus saja lelaki baya itu bergerak cepat, mengandalkan persendian tulangnya yang tak lagi kuat. Namun ia harus berlari sebisa mungkin. Sesekali pandangannya itu menoleh ke belakang, melihat pergerakan Dave yang tak juga mau berhenti.
Lantaran terburu-buru, Simon tanpa sengaja menjatuhkan sepatu sebelah milik Teddy yang ia bawa. Awalnya dia berniat memberikan Teddy dengan sepatu yang sama seperti itu. Karena itulah dia membawanya sebagai contoh. Namun semuanya gagal lantaran ia melihat Dave dan Devina yang dikiranya sebagai seorang penjahat.
Dave menghentikan langkahnya saat melihat sepatu kecil yang tergeletak di jalanan. Ia memungut sepatu tersebut dan tak sadar Simon sudah berlari sangat jauh.
"Sepatu ini… ini mirip sekali dengan sepatu milik anaknya Victor." Pria itu bergumam. Memperhatikan sepatu mungil tersebut dengan seribu asumsi yang melayang di dalam otak.
Mobil Victor sudah mencapai tempat di mana Dave berdiri. Victor mematikan mesin kendaraannya tersebut. Gegas membuka pintu dan keluar dari sana. Pun begitu dengan Devina yang membuntutinya dari belakang.
"Ada apa?" Victor bertanya pada Dave. Berjalan dan menghentikan langkah di samping pria itu.
"Lihatlah!" Dave memperlihatkan sepatu itu pada Victor.
"Sepatu Teddy?" Victor mengernyitkan dahi. "Tapi bukannya ada di mobil?"
"Ini sepatu milik anakmu yang sebelahnya. Lelaki tua itu yang membawanya tadi!" Dave berkata sembari menatap lurus ke depan, memperhatikan Simon yang sudah berlari jauh.
"Itu artinya…." Davina bergumam.
"Pria itu yang menculik anakku!" sahut Victor mantap. Kedua tangannya mengepal. Darah dalam tubuhnya naik dan serasa mendidih. Kakinya sudah tak sabar untuk bergerak cepat mengejar lelaki tua tadi.
"Victor, tunggu!" Dave menyentuh bahu Victor. "Kita harus sangat hati-hati. Kita harus punya rencana."
"Lalu apa rencanamu, Dave?" Devina bertanya dengan memajukan tubuhnya menyamai barisan kedua pria tersebut.
"Kita jangan gegabah. Dengar, kita harus mengikuti pria itu secara diam-diam. Dengan begitu, kita tahu tempat dia menyembunyikan Victor. Kau jangan langsung bilang kalau dia anakmu, Victor. Aku tahu betul rencana pria seperti itu. Dia pasti akan meminta tebusan untuk anakmu."
"Bagaimana kalau dia menyakiti Teddy?" Victor tampak gusar.
"Anak mu akan aman selagi kita merencanakan ini dengan sangat hati," jawab Dave memberi keyakinan. "Sekarang kita ikuti dia secara diam-diam."
Victor dan Devina mengangguk tanda setuju.
"Ayo kita kembali ke mobil," ajak Dave menggiring mereka berdua.
Mereka mulai memasuki mobil kembali. Kali ini Dave yang sebagai sopirnya. Membawa kendaraan besi beroda empat itu menyusuri jalanan. Sementara Victor bagian mengawasi pergerakan Simon.
Mobil mereka berhenti saat Simon juga berhenti. Simon kemudian berjalan belok ke samping meninggalkan jalanan beraspal.
Dave menepikan mobilnya. Berjalan dengan sangat perlahan guna mengurangi suara deru mesin.
Saat itu malam sudah naik. Suasananya semakin mencekam. Terlebih, lampu kota mati total. Tak ada pencahayaan apa pun. Bahkan langit pun terlihat begitu gulita.
"Apa dia menyembunyikan anakku di kabin itu?" Victor berkata dengan pandangan tertuju pada sosok Simon yang berjalan menuju kabin pinggiran danau.
"Aku rasa kita harus menghentikan mobilnya sampai sini. Kalau kita masuk, maka pria itu akan mendengar suara mobil dan rencana akan gagal total!" ujar Dave.
"Baiklah kalau begitu kita jalan kaki saja. Itu akan lebih mudah menangkapnya," kata Devina sembari bersiap membuka pintu mobilnya.
"Devina tunggu!" perintah Dave secara tiba-tiba. Pria itu memutar tulang lehernya ke belakang. Pandangannya menatap ke arah Devina dan Victor secara bergantian.
"Devina, kita harus tetap berada di sini. Victor yang akan keluar," kata Dave. Pria itu mengambil pistol di depannya dan memberikan pada Victor. "Ambil ini untuk berjaga-jaga. Kau harus berpura-pura meminta pertolongan. Jika orang itu terpancing, maka dia akan langsung menemuimu. Setelah itu aku dan Davina baru keluar dan menangkapnya," jelas Dave.
"Rencana yang brilliant. Bagaimana kalau pria itu membawa senjata. Apa kau akan membiarkan Victor sebagai mangsa?" kata Devina penuh arti.
"Karena itulah aku meminta Victor untuk membawa senjata," ujar Dave. "Tapi aku yakin pria itu tidak membawa senjata. Kalau dia membawanya, dia pasti akan menembakku saat aku mengejarnya tadi," sambung Dave.
"Mungkin dia menyembunyikan pisau di sakunya. Yah, bisa saja!" celetuk Devina.
Dave menyemburkan napas lelah dengan ocehan adiknya tersebut.
"Sudahlah. Aku bisa berjaga diri. Lagi pula, sebelum dia menusukku, aku yang akan melemparkan peluru ke arahnya terlebih dahulu!" ujar Victor mantap.
"Kalau begitu cepatlah!" tutur Dave.
Victor mengangguk. Mulai mengantongi pistol dan membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati. Berjalan mengendap-endap dengan tatapan yang terus terpaku pada sosok pria tua berjas yang menggerakkan kaki maju menuju kabin.
Simon terus menggerakkan kakinya. Sesekali ia menoleh ke sekitar memastikan tidak ada orang yang melihatnya, atau pria yang mengejarnya tadi. Ia tak bisa melihat mobil mereka lantaran lampu mobil sengaja dimatikan. Dan suasana di sana begitu gelap total.
Angin menyerbu tubuh Simon. Masih terasa dingin meskipun sudah mengenakan jas tebal. Bahkan rambutnya terserang oleh dedaunan kering yang berjatuhan.
Lelaki tua itu menghentikan langkahnya saat merasakan ada yang mengikutinya dari belakang. Ia memutar leher, memastikan keadaan di belakangnya.
Victor yang mengetahuinya langsung buru-buru bergerak bersembunyi di balik pepohonan.
Setelah dirasa aman, Simon kembali melanjutkan langkahnya.
Pun begitu dengan Victor yang kembali membuntutinya dari belakang.
Kini akhirnya Simon sudah berada di halaman rumah kecil berbentuk piramid tersebut. Ia mulai membuka gembok kunci tersebut.
Sementara itu Victor mulai menjalankan rencananya. Ia berpura-pura terbaring di rerumputan dan berteriak meminta tolong.
"Tolong!!"
Simon berhasil membuka pintu tersebut, tetapi mengurungkan niatnya untuk masuk saat mendengar suara Victor meminta tolong.
"Tolong... Arghh … tolong aku!"
Awalnya Simon ragu untuk mendekat, tetapi suara rintihan Victor terus mengiang di ruang kepalanya. Akhirnya pria itu memberikan diri untuk memberinya pertolongan.
Simon menggerakkan kakinya penuh keraguan ke arah Victor.
"Arghh… tolong aku..!"
Simon mempercepat langkahnya karena dirasa pria tersebut sangat benar-benar membutuhkan bantuan.
"Hei, apa kau tidak apa-apa?" tanya Simon saat sudah berada dekat dengan Victor.
"Kumohon tolonglah aku!" pinta Victor dengan suara lirihnya.
"Kau kenapa?"
"Aku… aku jatuh dari pohon," kata Victor begitu saja.
"Apa?" Simon mengernyit heran.
"Lihatlah aktormu itu berakting sangat buruk sekali!" ujara Devina yang berada di dalam mobil dan memperhatikan Victor.
"Aku tidak membayangkan hal ini akan terjadi. Kalau aku tahu sejak awal, aku akan menyuruhnya dia mengatakan kalau dia kesakitan habis kecebur di selokan," seloroh Dave.
"Kemarilah!" Simon mengulurkan tangannya pada Victor bermaksud memberinya pertolongan.
Victor diam-diam mengeluarkan pistolnya dari saku kemudian diarahkan langsung tepat di kepala Simon. Tentu saja itu membuat Simon terkesiap sekaligus gemetar ketakutan.
"Kau sudah tamat!"