Sepasang manusia yang baru saja menerima putusan Pramilu Wiryawan itu masih duduk bersimpuh bersebelahan. Saling menggenggam tangan namun tetap bergeming, terdiam. “Kenapa Mas Danesh langsung mengiyakan permintaan Opa?” tanya Sherin membuka suara. “Semuanya terlalu cepat, seharusnya Mas Danesh bisa menolak atau setidaknya … pikir-pikir dulu untuk mengulur waktu,” sambungnya lagi dengan mata tertunduk, mengamati jemarinya yang direngkuh hangat oleh telapak tangan sang pria. Danesh menoleh, mencoba memahami keterkejutan Sherin dengan keputusan yang terlalu tiba-tiba. “Kenapa harus pikir-pikir dulu di saat aku sangat yakin sudah menemukan satu orang yang aku inginkan dalam hidupku?” pria itu tersenyum tipis. “Aku menjawab permintaan Opa bukan karena terdesak atau terpaksa, tapi karena aku

