ARIA benar-benar tidak menyangkah bahwa tempat kerjanya bertetangga dengan kafe milik Alan. Setidaknya ia ingat Nadi pernah berkata bahwa Alan pemilik sebuah kafe.
Alan mengajak Aria makan malam di sebuah restoran tak jauh dari rumah Aria. Ia sendiri cukup terkejut mengetahui Aria bekerja sebagai pelayan kafe, seandainya ia tahu lebih cepat mungkin wanita di depannya itu sudah menjadi salah satu pengawainya.
"Kenapa harus pelayan kafe?" tanya Alan tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Euhm... aku hanya ingin mencoba sesuatu yang tak pernah kulakukan, diperintah orang lain? Haha," tawa Aria menutupi sedikit rasa canggungnya.
Saya bekerja sebagai pelayan kafe karena supaya mudah membantu kamu, ujar Aria dalam hati.
Aria rela menjadi pelayan kafe supaya mudah bertemu dengan Alan. Pria itu bisa langsung ke tempat kerjanya dengan memesan sesuatu sambil mendiskusikan rencana mereka. Bayangkan jika ia bekerja di perusahaan dan belum lagi adanya Nara, bagaimana jadinya?
"Datanglah ke kafe tentang rencana kita, maksudku rencanamu," tambah Aria sekilas tersenyum.
Alan tertawa. "Ini rencana kita Aria, dan ... aku senang karena kita semakin dekat," ia berhenti sejenak dengan dahi berkerut. "Maksudnya tempat kerjamu dan kerjaku berdekatan."
"Hahaha, ya aku mengerti Alan," kali ini Aria yang tertawa keras, tanpa kepura-puraan.
Restoran tempat Aria dan Alan makan malam menyediakan live music khususnya jenis akuistik. Sejenak Aria larut dalam lagu yang sedang dinyanyikan oleh mungkin salah satu penyanyi indie di kota ini. Sedangkan Alan tanpa sadar menatap wajah Aria yang terkadang ceria kemudian detik selanjutnya bisa menjadi sendu.
"Aria," seru Alan membuat Aria menoleh.
Mata mereka berdua bertemu. Suara gitar membuat keheningan tercipta di antara keduanya. Aria memutus kontak mata terlebih dahulu.
"Ada apa?"
Alan merogoh saku jaket yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah undangan dan meletakkannya di atas meja. "Mari kita mulai rencananya hari minggu ini," ucapnya pelan, ada nada keraguan dalam katanya, namun tekadnya seolah menutupi semuanya.
"Hm, baiklah," balas Aria mengambil undangan itu.
Sebuah undangan ulang tahun salah satu anak dari pemilik perusahaan impor mobil. Mungkin juga salah satu dari teman Alan, ia sendiri tak mengenal Otta Pradeno yang akan berulang tahun itu.
"Aku akan membawa Sena, kebetulan Otta adalah sepupuku jadi Ibuku pasti datang," ujar Alan menatap Aria dengan dalam.
Aria tidak membalas perkataan Alan, tetapi melalui tatapan yang tak terdefinisikan.
"Tapi sebelum itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujar Alan membuat Aria mengalihkan pandangannya.
"Kemana?"
Alan tersenyum singkat. "Kau akan tahu sendiri besok. Akan kujemput pukul delapan pagi."
Alan mengantar Aria pulang ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sedangkan dibalik tirai dekat pintu depan, sepasang mata menyorot kedua orang yang saling berpamitan satu sama lain.
Aria masuk ke dalam rumah dengan mudah, tak terkunci sehingga tak perlu menekan bel. Tetapi baru beberapa kali melangkah ia tanpa sengaja melihat Nara yang baru saja menuju ruang makan. Tanpa sadar ia mengikuti lelaki itu dan menemukannya mengambil segelas air dari kulkas.
"Besok pagi kita sarapan. Besok jumat bukan?" Suara Nara membuat langkah Aria yang akan beranjak pergi berhenti.
Aria berbalik dengan pelan. "Apakah makan siang juga?" tanyanya mengingat bahwa besok ia dan Alan ada rencana pergi ke suatu tempat yang ia sendiri belum ketahui.
Nara ikut berbalik lalu melangkah mendekat ke Aria. "Hm, tentu saja, bukankah memang harus begitu?" Ia lalu berjalan mendahului Aria tanpa berkata apapun lagi.
Aria terdiam kebingungan. Ia hanya berharap bahwa kepergiannya dengan Alan tidak melewati tengah hari. Tetapi kenapa rasanya ia akan menghabiskan waktu yang lama ditempat yang masih menjadi misteri?
Aria bangun lebih pagi dari biasanya. Ia langsung mandi dan berpakaian rapi. Gaya kasual, selalu menjadi favorit baginya. Oa lalu mengeluarkan ponsel dan mengetikkan beberapa kalimat untuk selanjutnya dikirim ke Opi Ketika menuju meja makan, di sana sudah ada Nara duduk memainkan ponsel dan beberapa pelayan yang menyajikan sarapan.
"Kau berpakaian rapi, ada acara sepagi ini?" tanya Nara menatap Aria sekilas. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
Aria lalu duduk di depan Nara. "Hm, pagi ini aku akan pergi bersama Alan." Ia mengambil roti bakar berselai stroberi dan meletakkannya di atas piring.
"Tapi kau wajib makan siang denganku," ujar Nara membuat alis Aria terangkat.
"Entahlah, aku sendiri tak lama apakqh kami akan lama atau tidak. Oh aku sudah minta izin sama Kak Opi dan dia mengizinkan," balas Aria merasa makan siang dengan Nara akhirnya menjadi beban. Jika dipikir memang kelihatannya simpel, namun butuh penyesuaian waktu yang tidak mudah.
"Janji tetap janji Aria," ujar Nara ditengah kunyahannya.
"Akan kuusahakan, jika tak terpenuhi bagaimana? Apa kau akan marah?"
Pertanyaan Aria membuat Nara menghentikan kunyahannya dan beralih menyesap kopi hitam.
"Katakan tempatnya, aku yang akan datang menjemputmu," ujar Nara membuat Aria hampir tersendak kala roti mulai masuk ke kerongkongannya.
Aria segera meminum teh dengan perasa madu sebagai pengganti gula. "Apa kau tak sibuk? Bukankah kau harus ke kantor?" tanyanya cepat.
Nara tersenyum miring sekilas. "Apa kau sengaja menghindarinya?"
Alis Aria terangkat, lalu detik kemudian bila matanya memutar. "Bukan seperti itu. Aku sendiri belum tahu akan pergi kemana," jawabnya berusaha menjelaskan.
Selanjutnya Aria terdiam. Ia menyadari bahwa sekarang ia seperti mulai berdebat dengan Nara, dan itu bukan awal yang baik untuk hubungan yang baru saja kembali terjalin.
Nara bangkit berdiri. "Kalau begitu, sejak awal jangan memenuhi syarat itu," ucapnya kemudian mengambil jas yang disematkan di kursi lalu pergi tanpa menatap Aria lagi.
Aria menghela napas kasar. "Kenapa semua menjadi rumit?"
•••
Nara berangkat duluan ke kantor, sebelum Alan datang jadi Aria bisa menunggu tanpa rasa cemas. Ketika mobil Alan mulai memasuki halaman rumah, senyum Aria langsung merekah.
Alan membunyikan klakson mobil sebagai isyarat Aria untuk masuk ke dalam mobil. Hari ini Alan juga memilih gaya kasual untuk penampilannya, tampak serasi dengan Aria.
"Kita akan kemana?" tanya Aria sudah tak sabaran.
Alan hanya melirik Aria sekilas lalu kembali fokus mengemudi. "Ke tempat di mana dulu Sena pernah sekolah."
Aria membalas dengan anggukan kepala tanpa berkata apapun lagi. Tiba-tiba ia menemukan sebuah buku yang cukup tebal di dasbor mobil milik Alan.
"Di saat banyak orang memilih berlangganan majalah fashion atau pria kebanyakan memilih majalah sport, tapi ini," ia mengangkat buku itu. "Buku sejarah?"
Alan tertawa pelan. "Yah, aku berencana mengunjugi beberapa tempat peninggalan sejarah, mungkin setelah menikah nanti." Suara tawanya kembali terdengar. Tanpa sadar sebuah senyuman lebar ikut terbentuk di bibir Aria.
"Sena akan beruntung , ia dapat mengunjungi tempat yang luar biasa," ujar Aria cukup iri. Sebagai seorang wanita tentu saja ada perasaan iri, walau ia bukan seseorang yang suka travelling, namun diajak jalan-jalan, siapa yang tak mau? Apalagi bersama orang tercinta.
"Kau sendiri tak punya tempat yang ingin dikunjungi? Jangan sebutkan Eiffel, Jeju, Hawai, Disneyland ... hm, tempat bersejarah mungkin?" tanya Alan memaksa otak Aria berpikir keras.
"Entahlah, aku jarang ke luar negeri sebenarnya. Terakhir kali ke Hong Kong, itupun dua tahun yang lalu dan sekadar jalan-jalan biasa," balas Aria merasa tak memiliki minat atau tak kepikiran mengunjungi tempat bersejarah dunia.
"Tapi ... aku teringat akan Colosseum. Kau pasti tahu bukan?" ujar Aria sedikit terkekeh, ia sendiri hanya tahu kalau Colosseum berada di Itali dan tempat gladiator bertarung, sebatas itu.
"Yah itu cukup sangat terkenal. Kebetulan, itu adalah salah satu tempat yang ingin kukunjungi," balas Alan menoleh dan tersenyum ke Aria.
Aria membalas senyuman Alan, tetapi detik kemudian senyuman itu pudar begitu mobil memasuki sebuah area sekolah tinggi atas bernama SMA Bumilaksa. Tempat ia bersekolah dulu, enam tahun yang lalu.
Kini keringat dingin mulai memenuhi pori-pori kulit Aria. Bibirnya terasa kaku dan lidahnya keluh untuk mengeluarkan kata apapun saat ini. Berkas-berkas ingatan lalu mulai memenuhi ingatannya. Ia menutup mata lalu memegang dadanya.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Alan terdengar khawatir lalu menurunkan kaca jendela mobil membiarkan angin masuk, menggantikan AC.
Aria menggeleng lalu perlahan membuka mata. Ia perlahan menoleh dan menatap nanar Alan. "Apa Sena dulu sekolah di sini?" tanyanya pelan.
Alan mengangguk sekali. Ia dapat melihat wajah Aria yang tampak pucat dan itu membuatnya khawatir. "Aku pernah membaca bahwa kau juga pernah bersekolah di sini, sebuah majalah dengan fotomu bersama Ayahmu dan Nara."
Aria teringat memang pernah melakukan sesi pemotretan itu dan pasti biodata singkat tertulis di sana, namun apa kebetulan ini memang hanya kebetulan belaka? Atau takdir yang telah tertulis.
"Lalu kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Aria mulai ingat bahwa ia di sini bukan untuk menceritakan nostalgia masa SMA-nya.
"Supaya kau bisa mengenal lebih jauh Sena, dia sekolah di sini tujuh tahun yang lalu, berarti satu tingkat di atasmu bukan? Alasan yang bagus di mana kalian saling mengenal walau mungkin sebenarnya tidak. Ayo keluar," ujar Alan beranjak keluar dari mobil.
Kaki Aria bergetar saat pertama kali melangkah di lapangan upacara. Ia memerhatikan bangunan-bangunan sekolah, begitu banyak perubahan entah penambahan tingkat, warna bangunan atau infrastruktur dan sarana lainnya. Namun entah mengapa ia merasa SMA Bumilaksa tetaplah seperti enam tahun yang lalu.
"Ayo kita berkeliling, kau pasti mulai melupakan beberapa tempat," ujar Alan menarik tangan Aria agar bisa beriringan dengannya.
Ketika Aria dan Alan berada di SMA Bumilaksa hanya ada beberapa murid yang berkeliaran, karena memang jam sekarang sudah memasuki waktu ajar-mengajar. Mereka berdua bebas masuk ke Bumilaksa karena di samping SMA, ada juga TK, SD dan SMP masih dengan naungan Bumilaksa. Walau dipisahkan oleh dinding pembatas yang tinggi, namun orang selain pelajar di sana bebas pergi ke mana saja. Halaman Bumilaksa juga cukup luas sehingga orang lalu lalang tak begitu kentara.
Alan mengajak Aria ke salah satu atap bangunan. "Katanya Sena biasa menghabiskan waktu istiahat di sini," ucapnya memandang Bumilaksa dari ketinggian.
Napas Aria teratur, ia mengamati Bumilaksa dan sekelilingnya. "Dari sini kau dapat melihat segalanya dan menyembunyikan segalanya juga," ucapnya tersenyum sendu.
Alan menoleh dan mendapati Aria dengan raut wajah sendu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ia melangkah mendekat lalu mengikuti pandangan Aria pada sebuah pohon pinus yang tinggi.
"Lan, dari sini Aria yang hari ini kau kenal mulai lahir," kata Aria menoleh dan menatap dalam Alan.
"Dan dari sini aku ingin mengenal Aria yang dulu," balas Alan membalas tatapan Aria.
Apakah cerita lama yang ingin kukubur dalam-dalam akan kau buka kembali? Bahkan kubayar dengan air mata dan rasa keputusasaan. Lalu apa yang akan kau berikan? ujar Aria dalam hati.
***