SATU malam tidak cukup membuat otak Alan berfungsi sebagaimana mestinya. Sejak tadi malam bayangan bagaimana Aria mengecup bibirnya masih begitu membekas dalam ingatannya. Dan tanpa penjelasan lebih lanjut wanita itu masuk ke rumahnya. Hari ini ia memutuskan untuk pergi ke kafe lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Dari balik kaca jendela ruangannya ia terus menatap RX's Cafe&Resto sambil menyesap kopi hitam di atas mejanya. Tidak lama kemudian orang yang ditunggu Alan akhirnya muncul dan memasuki kafe di depannya. Aria, wanita itu datang dengan gaya kasual seperti dua hari sebelumnya. Ia menyapa satu per satu pegawai kafe RX's Cafe&Resto sebelum pergi ke ruang ganti. "Selamat pagi semua," seru Alan memasuki kafe tempat Aria bekerja. Aria yang sedang membersihkan meja dan seluruh peg

