Alan terhenyak beberapa saat setelah kata maaf dari Aria. Ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadarkan dirinya bahwa kemarin adalah hari pernikahannya dengan wanita itu. "Aria, apa yang sedang kau coba lakukan? Di mana kau?" Alan memejamkan matanya sekilas dengan tangan terkepal. "Alan, tenanglah." Alan kemudian bisa mendengar suara riuh lewat telepon. Seolah Aria berada di sebuah tempat yang ramai. "Selamat pagi kepada seluruh penumpang maskapai…." Suara pengumuman yang didengar sama oleh Alan membuat napas pria itu memburu. "Apapun yang coba kau pikir dan lakukan, sebaiknya hentikan." "Alan, aku--" Belum sempat Aria menyelesaikan ucapannya, tetapi Alan telah menutup telepon dan bergegas mengambil jaket, lalu keluar dari apartemen sambil menenteng kunci mobil. Wajah Alan menega

