RESTORAN tempat Aria dan Nadi makan siang sungguh menipu. Bagaimana tidak, dari tampilan luarnya seperti restoran jepang atau bangunan Dojo. Tetapi ternyata di dalam tersaji makanan khas Itali. Mungkin pribahasa don’t judge by the cover menjadi semboyan restoran milik Enrique, paman Nadi. Lihat namanya saja western gitu, namun perawakan dan wajahnya mirip orang china.
Aria suka makanan Itali dan favoritnya tidaklah ribet hanya Spagetti. Tidak seperti Nadi yang memesan banyak jenis makanan, entah semua akan dihabiskan atau tidak.
‘’Seharunya kau hanya memesan yang kau sukai saja, sayang nanti makanannya kalau tidak dihabiskan,’’ komentar Aria mulai memegang garpu dan menggulung mie yang selanjutnya masuk ke dalam gua—mulutnya.
Nadi hanya cengengesan. ‘’Jika tak bisa kuhabiskan, maka akan kubungkus. Tenang ada singa lapar di flat-ku,’’ katanya tenang.
Aria paham betul siapa yang dimaksud Nadi. Orang itu adalah Dava, sepupu dua kali Nadi sendiri. Bekerja di sebuah perusahaan pengembang game membuatnya sering lembur dan tempat yang paling dekat tempat ia bekerja adalah flat mewah Nadi.
‘’Apa Kak Dava semalam menginap?’’ tanya Aria lalu minum cola. Favorit ketiganya. Tadi ia sengaja membeli di luar, minimarket dekat restoran. Minuman yang tertulis dimenu, terlalu asing baginya. Bukan tak pernah mencobanya, hanya benar-benar bukan seleranya.
Nadi mengangguk singkat. ‘’Kurasa dia hanya beralasan agar dapat bertemu dengan Gani.’’
Aria meletakkan garpu dan melap mulutnya dengan sebuah serbet yang telah disiapkan di atas meja. Aria telah selesai makan. ‘’Itu bagus, setidaknya dia dapat memantau perkembangan Gani.’’
Gani adalah adik perempuan Dava yang baru saja lulus SMA. Namun ia mengalami depresi setelah ibunya meninggal dan menurut gadis itu kakaknya penyebab kematian ibunya, sehingga sejak lima bulan lalu memutuskan tinggal dengan Nadi. Aria sendiri tidak begitu tahu kronologisnya.
‘’Sudahlah, semua salah paham akan terselesaikan pada waktunya…,’’ ujar Nadi juga telah selesai makan lalu menatap serius Aria.
‘’Apa?’’
‘’Kau sendiri, sampai kapan akan berhenti bekerja di klub itu?’’
Aria terdiam. Ia menghela napas berat lalu membalas. ‘’Entahlah, aku sangat menikmatinya saat ini.’’
‘’Baiklah, lagipula itu takkan lama seperti sebelumnya,’’ kata Nadi lalu bangkit dan memanggil pelayan untuk membungkus makanan yang belum sempat ia habiskan.
Dengan senyuman Aria mendekatkan diri ke Nadi lalu berbisik, ‘’Kurasa ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.’’
Nadi melongo tak percaya. Sahabat yang dikenalnya sejak semester tiga waktu kuliah. Awal perkenalan mereka juga tidak elit layaknya wanita-wanita sosialita yang bertemu secara tidak sengaja di toko barang branded atau restoran mewah.
Mereka bertemu dan berkenalan ketika fakultas Aria kedatangan tamu tak diundang dari fakultas Nadi, Ekonomi dan Bisnis. Istilahnya tawuran antarfakultas, biasa insiden karena masalah kerhormatan. Junior Aria berantem sama senior Nadi.
Aria yang dulu bercita-cita jadi pengacara, namun berakhir di fakultas sastra jurusan Sastra Jepang, karena Nara kebetulan anak hukum, senior satu tingkat darinya dan ia tak mau itu. Sekarang ia menjadi wanita yang bekerja sebagai DJ sejak delapan bulan lalu setelah keluar dari perusahaan penerbit. Aria belajar bermain DJ dari teman SMA-nya, saat dirinya dalam masa-masa suram.
Walaupun alasan Aria bekerja di penerbitan itu karena hobinya yang suka membaca novel dengan bayangan bagaimana bahagianya ia jika ada novel terbaru atau terjemahan favoritnya yang masih baru di tempat kerja. Alasan resign katanya karena mau mencoba jati diri sebenarnya. Absurd sekali. Oh ya klub dan perusahaan penerbit itu masih satu naungan Mohika Corporation milik ayah Aria sendiri. Jadi masih bisa dikatakan hanya berpindah tempat saja, masih dalam satu lingkup yang sama.
Nadi berpamitan kepada Enrique sekaligus mengenalkan Aria. Mereka telah bangkit dari kursi dan berdiri di depan kasir. Kebetulan Enrique ada di sana.
‘’Kapan-kapan singgahlah lagi,’’ ujar Enrique tersenyum ramah.
‘’Terima kasih banyak paman, love you.’’ Nadi mengecup kedua pipi pamannya dan Aria menjabat tangan pria berusia 37 tahun itu.
Baru Aria akan melangkah menuju pintu keluar, matanya menangkap sosok pria yang ditemuinya di toko furniture. Tetapi ada yang janggal, seorang wanita paru bayah di depannya. Sepertinya kenalan Aria. Tanpa sadar kakinya berjalan mendekat.
‘’Tante Vio?’’
Wanita yang tadinya beraut wajah serius berubah dengan tersenyum ramah kepada Aria. ‘’Oh, Aria anaknya Inka?’’
Aria mengangguk cepat. Inka adalah nama ibunya.
Vio bangkit dan memeluk Aria. Mereka melupakan satu orang yang tengah menatap dengan penuh tanda tanya.
Aria mengenal Vio ketika wanita itu mengunjungi apartemen keluarga Mohika yang terletak di Los Angeles. Tepatnya sebulan sebelum Inka berpulang. Bisa dikatakan jika Vio dan Inka adalah sahabat sekaligus rekan sosialita.
‘’Sebenarnya Tante masih mau ngobrol sama kamu. Tapi Alan tiba-tiba membawa seseorang dan mengajak bicara,’’ ucap Vio melirik sekilas pria yang tengah duduk bersama seorang wanita di sampingnya.
Oh, jadi namanya Alan, umpat Aria dalam hati. Lalu tiba-tiba ia teringat kalau Vio pernah menunjukkan foto anaknya, kalau tidak salah seorang perempuan dan seorang laki-laki. Dan ia sangat ingat yang perempuan karena dirinya sendiri memuji betapa cantiknya anak Tante Vio itu. Dan wanita yang sekarang berbeda. Jadi, wanita yang duduk sekarang siapa? Jangan-jangan…
‘’Ini Alan, anak Tante yang laki-laki,’’ ujar Vio melihat raut wajah kebingunan Aria.
Aria hanya ber-oh ria, bingung harus apa. Mengenalkan dirinya? Kepada pria perebut rak bukunya? Jangan harap!
Alan tak melepas tatapannya sejak Aria datang. Ia mengamati wanita itu dari atas ke bawah seolah sedang menilainya. Ia sebenarnya ingat pernah bertemu dengan wanita itu, namun urusannya sekarang memaksa dirinya mengabaikan hal itu. Lagipula kalau ia ingat, mau menyapa Aria?
‘’Baiklah, kalau gitu Aria duluan yah Tante,’’ pamit Aria mengakhiri dengan cupika-cupiki dengan Vio.
Vio tersenyum lalu berkata, ‘’Kapan-kapan kita ngobrol dan Tante kenalin Alan dan Raisa.’’ Anak-anaknya.
Aria hanya membalas dengan anggukan dan langsung menghampiri Nadi yang berdiri di dekat pintu. Wajahnya sungguh tak terdefinisikan.
***
‘’Bagaimana kau kenal dengan Tante Vio?’’ tanya Nadi begitu mereka berada di kamar Aria. Bukan hal baru kalau ia akan tinggal beberapa saat di rumah Aria bahkan ketika mereka telah menghabiskan waktu seharian.
‘’Kau kenal?’’
‘’Hm, aku melihat wajahnya tadi, tapi tidak dengan kedua orang di depannya. Tante Vio adalah teman SMA Ayahku. Aku pernah melihat di album sekolah dan Ayahku menceritakannya."
Aria mengganti baju kemeja yang tadi di pakainya dengan kaus berlengan panjang. ‘’Tadi dia bersama anak laki-lakinya dan mungkin pacarnya.’’
‘’Benarkah? Maksudmu Alan?’’ tanya Nadi terkejut.
Aria menyipitkan matanya. ‘’Kau kenal pria bernama Alan itu?’’
‘’Tentu saja, kami berada di sekolah yang sama saat SD dan SMP. Aku bahkan sering main ke rumahnya.’’ Perkataan tenang dan menjelaskan Nadi membuat Aria bungkam.
‘’Waktu kecil beranjak remaja juga sih.’’
‘’Tadi di toko, waktu membeli ini…’’ tunjuk Aria rak buku yang diletakkan di atas ranjang lalu melanjutkan, ‘’Aku ada sedikit masalah dengannya.’’
‘’AAPA!!’’
Kali ini Aria yang terkejut dengan reaksi Nadi. Seakan matanya akan jatuh karena melotot.
‘’Kenapa emangnya?’’
Nadi tersenyum sinis. ‘’Kau tak kalah bukan?’’ tanyanya.
Aria mengangguk menunggu penjelasan lanjut.
Nadi mengepalkan satu tangannya di depan d**a. ‘’Dia pria yang paling menyebalkan!’’
Hah? Aria memang tahu itu sejak insiden rak buku. Tetapi kekesalan Nadi tampaknya lebih parah darinya. Seolah mau membunuh Alan saat itu juga.
‘’Gara-gara dia gaun hasil jahitan pertamaku sendiri menjadi rusak.’’ Nadi mulai menceritakan bagaimana gaun impiannya rusak ketika Alan tanpa sengaja menariknya sehingga terbelah menjadi dua bagian. Waktu itu mereka masih SMP. Dan sejak itu pula Nadi tidak suka Alan. Impian gila Nadi adalah penjadi perancang gaun pernikahan dan itu tidak mungkin disetujui ayahnya.
Jadi, dia memang pembuat masalah, cibir Aria dalam hati.
‘’Tapi kudengar tahun ini Alan sudah mulai bekerja di perusahaan Ayahnya,’’ ucap Nadi lalu duduk di sofa kamar Aria.
Di sudut kamar tidur dekat pintu menuju ruang baca terdapat lemari pendingin yang berisi minuman. Aria mendekat lalu mengambil satu kaleng cola dan jus dalam kemasan kotak.
Aria memberi Nadi jus apel dan duduk di sampingnya. ‘’Perusahaan? Sebelumnya dia bekerja di mana?’’ tanyanya membuka kaleng cola. Entah mengapa tiba-tiba ia tertarik mengulik kehidupan Alan, padahal sebelumnya ia tak pernah memperdulikan kehidupan orang lain yang tak dikenalnya. Mungkin karena pikirannya sedang kosong saja.
‘’Grup Malhotra, dulu dia pemilik sebuah kafe dan kurasa masih sekarang,’’ jawab Nadi ditengah-tengah sedotan jusnya.
Mata Aria sedikit membulat mendengar nama Malhotra. Setahunya itu adalah salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi, properti, memiliki rumah sakit dan sekolah bertaraf internasional. Cukup kaya raya dan terpandang.
Keduanya lalu terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama Aria yang secara tidak sadar mulai bertanya-tanya mengenai sosok Alan. Namun itu hanya sebatas dipikiran saja.
‘’Aria.’’
‘’Hm?’’
‘’Kau mau ke klub malam ini?’’
***