Kinanti mengurung diri di dalam kamar seharian. Tak ada sedikit pun motivasi untuk menerima kehangatan sinar mentari. Yang dilakukannya hanyalah mondar-mandir di dekat jendela, dengan biola di pundaknya. Nada-nada kering biola itu adalah jeritan hatinya sendiri, yang menolak disuarakan karena terlalu dikekang oleh rasa takut. Kehadiran Antara menyulap rumahnya, kembali menjadi kutub utara yang menyesatkan.
Jadi, bagaimana mungkin Kinanti bisa berkeliaran di rumah sementara Antara sungguh membenci kehadirannya?
“Non,” Pintunya diketuk. Sudah berkali-kali asisten rumah tangga berusaha membujuk Kinanti untuk membuka pintu kamarnya itu.
Sudah 21 jam berlalu sejak insiden lantai dua yang gelap, Kinanti tak jua menunjukkan batang hidung. Bahkan sarapan dan makan siang pun, dilewatinya. Entahlah. Kinanti hanya merasa ia takkan punya energi jika harus bersinggungan lagi dengan pria itu. Luka hatinya sendiri masih basah bekas semalam.
“Non, Bibi mau menyampaikan pesan.”
Kinanti menghela napasnya, menghentikan permainan biola yang super sumbang itu. Lalu terpaksa menjawab, “ada apa, Bi?”
“Pak Tristan sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.”
Gesekan biolanya berhenti, “Papa pulang dari rumah sakit?” Dan si asisten rumah tangga mengiyakannya. Tanpa berpikir dua kali, Kinanti membuka pintu kamar. Bola mata gadis itu berbinar-binar, “Beneran, Bi? Kok enggak kasih tahu aku sejak tadi?”
“Bibi barusan di telpon sama si Mamang yang sedang jemput Bapak.” Informasinya, “Pak Tristan kan memang suka bikin kejutan buat non. Bibi kasih tahu non sekarang, biar non bisa siap-siap dulu sebelum ketemu Bapak.” Benar, Kinanti kucel sekali hari ini. Coba lihat mukanya, belum mandi pula.
“Kalau gitu aku mau mandi dulu.” Kinanti mendadak bersemangat. Setelah beberapa hari dirawat, akhirnya Papanya bisa kembali pulang. “Makasih, Bi.” Gadis itu menutup lagi pintunya, dan melakukan semuanya serba cepat. Dimulai dari mandi, hingga mengganti baju. Kemudian, Kinanti menuruni tangga setelah mendengar suara mobil yang mulai dekat ke halaman rumah.
“Papa!” Kinanti menyambut Tristan Mirano yang kini turun dari mobil menggunakan kursi roda. Berlari demi segera memeluk pria tua itu. Tristan Mirano menyambutnya dengan hangat. “Kinanti senang sekali Papa sudah cukup sehat untuk meninggalkan rumah sakit.”
“Papa juga bahagia bisa bersamamu lagi.”
Kinanti tersenyum lebar. Sebelum senyum itu hangus karena dari dalam mobil, Antara menyusul turun. Jadi Papanya pulang bersama Antara? Otomatis, suasana berubah menjadi sangat tidak mengenakkan. Pria itu tak pernah sudi menyapa meski hanya untuk basa-basi. Maka, Antara segera saja berjalan tak acuh menuju rumah besar keluarga mereka. Seperti angin malam yang lewat—dingin dan tak tergapai.
Tristan Mirano, yang menangkap kesedihan di paras putrinya mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, “Bibi sudah masak katanya. Ayo Kinanti, kita semua ke meja makan untuk dinner bersama. Papa sudah lapar sekali setelah dua jam terjebak macet.” Kinanti balas dengan memaksa ulas senyum.
“Yuk, Pa.” Lalu mendorong kursi roda Papanya.
Harum masakan begitu lezat tercium. Di atas meja makan, terhidang menu-menu yang menggiurkan. Dimulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Ternyata, yang memasak hari ini bukan hanya asisten rumah tangga mereka, tapi juga koki yang sengaja dipanggil oleh Antara. Kinanti tahu sejak lama bahwa selera makan pria itu, tak sama dengan orang pada umumnya.
Meski hawa yang begitu canggung berkelindan di meja makan itu, Kinanti tetap memaksakan dirinya duduk di sisi kursi Papanya—hanya demi menghormati Tristan Mirano yang baru kembali dari rumah sakit. Agar suasana tak berlangsung tegang, Kinanti menyibukkan dirinya buat memilih menu yang sehat bagi Papanya. Vegetable salad untuk appetizer, kemudian chicken quassadillas untuk main dish, dan banana flambe sebagai hidangan penutup yang manis. Tristan Mirano mengucapkan terima kasih atas sikap putrinya itu.
“Barangkali ini waktu yang paling tepat untuk Papa beristirahat.” Tristan Mirano mulai membuka pembicaraan di tengah dinner itu. Tak ada yang menyela, tapi Kinanti dengan sabar memerhatikan Papanya. “Papa sudah cukup tua untuk tetap mengurusi bisnis keluarga. Saatnya Papa serahkan semua ini padamu, Antara. Papa ingin kamu berkonsentrasi dalam memajukan bisnis utama kita di Jakarta. Karena hanya kamu satu-satunya yang bisa Papa harapkan menjalankannya. Aksara sudah memilih karir di jalan yang berbeda, dan Kinanti, tentu punya mimpinya sendiri. Namun, Papa juga berharap Kinanti bisa membantu perusahaan kita setelah lulus nanti.”
Kinanti mengerti keinginan Papanya. Pendidikannya itu memang sangat berhubungan dengan bisnis keluarga. Yang bergerak di bidang tekstil dan rumah mode. Gadis itu berjanji bahwa paling tidak, dia juga akan memberikan kontribusinya.
Tiba-tiba, Antara melempar alas makannya sendiri di atas meja, hingga membuat Kinanti berjengit kaget. Terlebih karena tak ada eskpresi di wajah yang nampak bengis itu.
“Nafsu makanku hilang karena perempuan ini duduk satu meja denganku,” Diucapkannya dengan nada yang kasar tanpa melihat Kinanti. Lewat ekor mata pun amat jijik. Namun jarinya yang menuding itu adalah sebuah poin betapa Antara terganggu atas kehadiran adiknya sendiri. “Pastikan tak ada dia jika Papa sedang membicarakan sesuatu yang penting. Terlebih itu denganku.”
Antara melotot, buku-buku jarinya menghantam meja makan. “I see the b***h near you, I’m f****d up.” Pria itu kini membeliakkan bola matanya dengan garang. “Well, dan aku akan lebih memilih tinggal di apartemen, daripada harus menginjakkan kakiku di rumah ini selama ada dia.”
Kemudian, Antara pergi dari ruang makan setelah menumpahkan amarahnya pada Kinanti, yang teremas hatinya oleh sikap pria itu. Kata-katanya selalu menyakitkan. Salah atau tidak, Kinanti tetap menjadi satu-satunya orang yang Antara paling benci di muka bumi ini. Dan kebencian yang besar itu membuat Kinanti bertanya-tanya, kesalahan macam apakah lagi yang pernah dilakukannya pada Antara di masa lalu?
“Antara!” Tristan Mirano memanggil. Tampak sakit menyaksikan anak-anaknya saling memusuhi tak berkesudahan selama bertahun-tahun lamanya. Tabiat keras Antara nyatanya tak sedikit pun melunak, malah semakin menjadi-jadi.
“Pa.” Kinanti bangun dari kursi.
“Kakakmu itu kurang ajar! Kelewatan!”
“Sudah, Pa. Antara mungkin sedang banyak pikiran terkait perusahaan cabang di Singapura.” Gadis itu mencoba menenangkan Tristan Mirano, dan mengabaikan perasaannya sendiri. Padahal, siapapun bisa mendengar bagaimana Antara menghinanya. “Siapa tahu kondisi hatinya tidak baik saat Papa memintanya pulang.”
“Biar Kinanti yang pergi.” Sembari menahan panas genangan air mata di pelupuknya. “Biar Kinanti tinggal di studio saja dulu ya, Pa. Sampai keadaan tenang.”
“Kamu tetap tinggal di rumah ini.” Tristan Mirano tegas memerintah. “Apapun alasannya, anak perempuan Papa tidak boleh meninggalkan rumah!”
Kinanti tak sampai hati membuat Papanya bersedih seperti ini. Tapi selama ada dirinya, Tristan Mirano dan Antara pasti selalu berselisih. Kinanti sadar, dialah sumber pemanas keluarga mereka.
***
Kinanti memutuskan untuk menemui Bara di salah satu factory outletnya di Jakarta. Dengan pakaian rumah yang sudah kusut, gadis itu berdiri di halaman bangunan yang sepi karena menjelang tutup. Beberapa menit kemudian, terlihat pria itu tengah berjalan menuju folding door. Taruhan, Bara pasti terkejut melihatnya. Dan ketika mata mereka bertemu, Kinanti tahu tebakannya tidak pernah meleset. Bara menghampirinya tanpa buang-buang waktu.
“Kinanti?” Pria itu memegang bahunya. Lalu meneliti penampilannya dari kepala sampai kaki, dan nampak begitu khawatir. “Dengan siapa kamu keluar malam-malam begini?”
“Aku naik taksi sendirian.”
“Taksi?” Bara mengamati wajah lelah Kinanti. Paham jika sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi. Ponsel Kinanti sejak pagi tadi, tak bisa dihubunginya. “Angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu. Kita bicara di dalam.” Bara menarik lengan Kinanti, namun gadis itu menahannya.
“Aku mau menginap di rumah Mas Bara.” Pernyataan itu pastinya tak sesuai prediksi Bara. “Kita langsung pulang ke rumah Mas Bara ya?” Tapi ekspresi Kinanti yang memohon seperti itu, membuat Bara tak bisa berkata-kata lagi.
Akan ada waktunya bagi mereka untuk bicara. Yang paling penting sekarang adalah, Bara perlu membawa Kinanti ke satu tempat yang aman. Dan barangkali, rumahnya memang pilihan yang tepat. Maka, Bara mengemudikan kendaraannya menuju kediamannya. Dengan Kinanti yang banyak melamun selama di perjalanan. Setengah mati, Bara berusaha menahan kecemasannya. Nyaris seharian dia kehilangan kontak dengan gadis itu, dan melihat Kinanti di sisinya kini hanya semakin memperkeruh isi kepalanya saja.
“Dingin?” Tanya Bara, Kinanti mengangguk. Tentu saja, lihat pakaian gadis itu—hanya kaos tipis yang dipadu celana jeans. Bara mengerang, tak ada apa-apa di dalam mobil untuk melindungi Kinanti dari serangan hawa dingin. Setelah memastikan AC mobilnya benar-benar mati, Bara mengambil jemari Kinanti dan menggenggamnya. Berusaha mengalirkan rasa hangat, hingga mereka tiba di lokasi tujuan.
Rumah Bara terletak di sebuah perumahan yang sangat mewah. Namun, pria itu hanya ditemani oleh tiga pekerja. Satu security, dan dua asisten rumah tangga. Sebab keluarga besarnya tinggal di kota Surabaya. Kinanti tahu informasi itu sejak dia menjadi pekerja magang di rumah produksi batik milik Bara.
Pria itu menggenggamnya lagi untuk masuk ke dalam rumah, disambut oleh salah satu asisten yang Bara perkenalkan padanya sebagai juru masak. Bagaimana pun, ini adalah kali pertama Kinanti berkunjung ke rumah Bara—rumah seorang lelaki. Tak pernah terlintas barang sedetik di angan Kinanti jika ia bakal memiliki hubungan khusus dengan pria itu.
“Makan malam dulu ya.”
“Enggak, aku udah makan.” Kinanti menarik lengan pria itu yang hendak menyuruh asistennya untuk memasak makanan. “Tapi kalau enggak keberatan, aku mau minum s**u coklat panas.”
Bara tersenyum simpul, “Anak kecilku yang susah tidur kalau tak minum s**u coklat.” Rasa khawatirnya mulai hilang usai melihat kembali rona di pipi Kinanti. “Kemarin pagi aku membeli coklat dan cream, mungkin pertanda jika kamu akan menginap di rumahku.” Bara terkekeh.
Setelah melaporkan pesanan Kinanti, Bara menuntun gadis itu menuju kamar tidurnya. Yang ketika lampu-lampunya menyala, ternyata memiliki interior yang klasik. Dengan nuansa putih tulang dan coklat dari perabotan kayu-kayu yang dipernis mengkilap.
“Mas, jangan bilang sama Papa kalau aku di sini.” Itu pesan Kinanti di detik pertama ketika bokongnya baru saja terhempas ke kasur.
Bara menyusul Kinanti duduk di pinggir ranjang, lalu mengusap-usap pipi gadis itu dengan jari-jemarinya. “Kamu bisa bercerita padaku ketika kamu siap. Sekarang, aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman.”
Kinanti balas menangkup punggung tangan Bara yang hinggap di sisi wajahnya. Inilah yang paling didambakannya sejak dulu. Punya seseorang yang bisa Kinanti jadikan tempat berlindung—selain keluarga dan teman. Ketika Kinanti merasa tak diinginkan, Bara membuatnya kembali berharga.
“s**u coklatnya, non.” Percakapan mereka dipotong oleh kehadiran asisten rumah tangga yang membawa baki ke kamar Bara. Setelah gelasnya diletakkan, perempuan itu lantas undur diri dan menutup pintunya kembali usai Kinanti bilang terima kasih. Dan harum coklat panas yang diseduh itu jelas membuat Kinanti tak tahan untuk segera meneguknya. Saat tetesan coklat itu mengalir dari sudut mulut Kinanti, Bara menyekanya dengan ibu jari. Katanya, pelan-pelan.
“Boleh aku mencicipi minumanmu?”
“Ha?” Kinanti melirik bingung pada cangkir coklatnya itu. Kan, sudah kosong?
“Yang tertinggal di sini.” Bara menarik dagu Kinanti lantas mencium bibirnya yang manis. Tanpa membiarkan gadis itu memproses terlebih dahulu kata-katanya. Bara melumat habis aroma coklat serta sisa-sisa yang tertinggal di dalam rongga mulut Kinanti. Semakin membuat ciuman s**u coklat mereka b*******h.
Kinanti yang pada mulanya nampak kaget, beberapa saat kemudian justru dengan tak terduga melingkarkan kedua lengannya di leher Bara. Ikut memperdalam ciuman pria itu di mulut mereka. Dan entah siapa yang memulai, Kinanti tetiba sudah berbaring di ranjang bersama Bara, yang pada waktu itu menurunkan ciumannya ke lehernya. Kecupan-kecupan panas itu akhirnya meloloskan desah halus Kinanti. Yang merasakan otot perutnya mengetat akibat ulah Bara. Dan insting yang kini membimbing Kinanti untuk mengusap-usapkan kedua telapak tangannya di d**a pria itu. Lembut dan membuai. Ketika Bara menyudahi ciuman mereka lewat kecupan di kening, dan bola mata keduanya yang setatap menyatukan tiap debit gejolak perasaan, Kinanti tahu dia sudah jatuh cinta pada Bara.
“Sudah cukup, Sayang.” Bara menahan Kinanti yang masih mengusap d**a, perut, hingga ke pinggangnya. Dengan napas yang putus-putus, pria itu menyatukan keningnya pada kening Kinanti. “Kita tak pernah tahu kapan kesabaranku akan habis.”
Kinanti sudah dewasa, ia tahu jika yang dilakukannya bersama Bara sangat berbahaya, karena bisa membangkitkan hasrat sebagai sejoli yang mencari-cari kasih. Tapi yang Kinanti inginkan adalah Bara yang menenangkannya malam ini.
“Mas tidur di sini ya sama aku.” Suara Kinanti yang lirih dan pelukannya di pinggang Bara, membuat pria itu nyaris gila karena berkeras menahan diri. Kinanti terlihat sedang amat membutuhkan perhatian, dan memanfaatkan kondisi gadis itu hanya untuk kesenangannya semata, bukanlah ide yang disukai oleh Bara. Meski—Tuhan adalah saksi betapa besar Bara ingin gadis itu menjadi miliknya. Seutuhnya. Tapi, tidak saat Kinanti seperti ini.
Mungkin, Kinanti memang butuh teman tidur—dalam artian, sebagai tempat berlabuh untuk menenangkan diri dari kegelisahannnya. Tetapi Bara tak sanggup memeluk Kinanti sepanjang malam tanpa melakukan apapun. Tidak, itu pasti akan menjadi malam penuh siksaan baginya.
”Sayang, jangan mengujiku.” Bara berbisik. “Aku bisa lepas kendali dan menidurimu jika dibiarkan berbaring lima menit saja bersamamu di sini.”
Pria itu tersenyum saat Kinanti menarik tangannya dari tubuhnya. Tapi ditangkapnya lagi, dan Bara tunjukkan bahwa setiap bagian tubuh Kinanti begitu cantik terlihat. Termasuk lengan-lengannya yang ramping itu.
“Kamu harus tahu bahwa hanya dengan hal ini, kamu sudah sangat mempengaruhiku.” Ditariknya Kinanti untuk kali terakhir. Diciumnya kening, hidung, dan bibir gadisnya dengan rasa meluap-luap di d**a. “Selamat malam, Kinanti. Mimpi indah.”
“Mas.” Panggil gadis itu lagi, setelah Bara dengan amat terpaksa menuruni ranjang. Panggilan Kinanti yang tak tuntas membuatnya menunggu. Bara mencari-cari apa kiranya yang hendak Kinanti katakan padanya. “Kamu bilang kalau kamu ingin serius denganku.” Dan perhatian Bara, kini sepenuhnya tertuju untuk Kinanti.
Pria itu menatap lamat-lamat, “Tentu saja. Aku ingin komitmen.” Dijawabnya dengan tegas. “Sesuatu yang begitu keras kukejar sejak bertahun-tahun lalu darimu.”
Kinanti membalas tatapannya, “Kalau begitu, besok bilang pada Papaku bahwa kita sedang menjalin hubungan.”
“Kamu penuh kejutan hari ini, Kinanti.” Bara yang sebelumnya sedikit tertegun itu, pada akhirnya melepas tawa kecil. “Kamu mau tahu satu hal? Itulah kalimat yang selama ini sangat kutunggu-tunggu.”
***
“Jadi, hubunganmu yang buruk dengan saudaramu itu adalah alasan mengapa kamu pergi dari rumah?”
Sekarang, mereka sedang bicara di dalam mobil. Yang terparkir di area komplek perumahan keluarga Mirano. Gadis itu tiba-tiba emosional jelang sampai di rumah. Dan Bara ingin gadisnya tenang terlebih dahulu.
Kinanti merunduk dalam-dalam, “Seperti yang sudah kubilang, Antara tak pernah betah tinggal di rumah gara-gara aku. Setiap dia pulang, selalu saja ribut dengan Papa. Lalu dia akan pergi ke apartemennya.” Kinanti menyeka air mata yang meluncur bersamaan dengan sesegukkannya. “Antara sangat membenciku sejak aku kecil, untuk kesalahan yang tak pernah aku ingat—tapi begitu fatal.”
Bara mendengarkan isi hati gadis itu. Sebagai rekan bisnis Papa Kinanti, Bara tentu pernah bertemu Antara, meski hanya beberapa kali. Namun, Bara bisa melihat bahwa anak sulung keluarga Mirano itu terlihat sangat sulit didekati. Tak seperti adiknya, Aksara. Hanya tak terbayangkan di dalam benak Bara, jika sikap apatis Antara yang nyaris ditunjukkan pada setiap orang itu, menjelma sesuatu yang Kinanti klaim sebagai kebencian.
“Kamu tahu karena apa?” Kinanti mendongak dan memerlihatkan linangan air matanya pada Bara. Sulit sekali untuk mengatakan hal ini, karena akan membuka luka hatinya sendiri. Tetapi Bara perlu tahu sesuatu yang Kinanti simpan rapat di dalam dadanya. Yang hanya segelintir orang terpilih mengetahui faktanya.
Bibir gadis itu bergetar akibat gelombang rasa yang tertahan, begitu pedih, “Karena—Mama meninggal beberapa hari setelah melahirkanku. Antara benci aku karena aku yang telah menyebabkan Mama pergi untuk selama-lamanya dari sisi kami.” Kinanti membisik nyaris tanpa suara, terdengar sangat menyakitkan jua di telinga Bara—yang notabene hadir sebagai orang asing. “Hanya Papa dan Aksara yang memaafkanku.”
Bara tahu Mama Kinanti, yang fotonya terpajang di meja kerja Tristan Mirano—sudah tiada sejak belasan tahun lalu. Tapi usai mendengar semua ini, demi Tuhan—Kinanti tidak bisa menyalahkan dirinya.
“Hei, dengar.” Bara menangkup wajah itu. “Kamu tak membunuh Mamamu. Kematian adalah takdir Tuhan. Jangan karena sikap Antara, kamu ikut membenci dirimu sendiri.”
Kinanti mengangguk, paham jika kematian Mamanya adalah takdir Tuhan yang mustahil dielakkan, “Aku tak ingat rasanya kehilangan Mama karena aku masih bayi saat itu, tapi aku yakin, kematian Mama meninggalkan luka yang dalam di keluargaku.” Air mata gadis itu menetes-netes di punggung tangan Bara yang mengeras. “Bagaimana mungkin aku tak terpukul oleh semua itu? Setiap kali aku bertemu Antara dan menerima kebencian darinya, aku selalu menyalahkan diri atas segala yang sudah terjadi. Kalau saja sekarang Mama masih hidup, Mas—”
“Kinanti,” Bara memperingati. Begitu tegas, tapi tidak menekan. “Aku tahu apa yang kamu lalui tidak mudah. Tapi hidup selalu berjalan ke depan.”
“Biarkan Mamamu tenang tanpa harus terbebani oleh perselisihan anak-anaknya.” Tak diizinkannya lagi air mata gadis itu mengalir di pipi. “Antara yang selama ini bersikap tak adil padamu, berurusan dengan dirinya sendiri. Kamu? Kamu juga berhak berbahagia. Di sisi lain, dia tetap kakakmu. Tapi jika dia ingin kehidupan yang tidak lagi bersinggungan dengan adiknya, kamu harus berani menghadapi itu.” Kinanti sudah tak menangis lagi. Bara memberinya serpihan energi tak kasat mata. “Tegarlah seperti Kinanti yang selama ini kukenal. Aku akan selalu ada di sini untuk melindungimu, Sayang.”
Kinanti mengerjap. Bukankah itu jawabannya? Kinanti hanya perlu memberanikan diri untuk menghadapi kepahitan sikap Antara. Dan lagi, dunia mereka memang sudah berbeda sejak bertahun-tahun lamanya. Jikalau mereka harus bersikap seperti dua orang asing, kenapa Kinanti harus hancur sendiri?
“Mas.” Panggilnya dengan suara yang bindeng. Bara memandangnya sebagai pertanda bahwa ia menunggu.
“Jangan pernah berpikir hal ini yang menjadi alasanku untuk membuka hubungan kita ke Papa.” Kinanti mengelus balik wajah Bara. Yang kian tampan dilihat dari jarak dekat seperti ini. “Sungguh bukan karena aku membutuhkan seorang pelindung, tapi karena aku mencintai, Mas Bara. Apa alasanku cukup?”
Bara meresapi pernyataan Kinanti yang meleburkan hatinya dalam dawai asmara. Lalu, wajahnya mendekat untuk mengecup lembut bibir gadis itu. “Aku tak membutuhkan apapun lagi selain cintamu, Kinanti.”
Dan meyakinkan, “Wanita yang memiliki cinta dalam hidupnya tidak takut menghadapi rintangan.” Yang kontan membuat Kinanti mengulas sedikit senyumnya. “Kita jalan lagi sekarang?” Tanya Bara, gadis itu pun mengangguk.
Kemudian, mobil Bara kembali melaju di jalan-jalan komplek yang lengang. Beberapa menit kemudian, gerbang rumah Kinanti terlihat. Semakin mendekat, gerbang itu dibuka lebih dulu oleh security yang telah hafal mobil Bara. Di dalam kepala, Kinanti yakin, Papanya pasti mencarinya karena dia tak ada di rumah sejak semalam. Dan insting itu benar saja, kala mereka memasuki rumah. Tristan Mirano, yang berdiri tanpa kursi roda itu menelpon seseorang terkait pencarian dirinya.
“Papa.” Kinanti memanggil, melepaskan sementara genggaman Bara di jemarinya. Pria tua itu pun membalikkan tubuh dari ruang utama. Di wajahnya tergambar kelegaan yang luar biasa. Lega, khawatir, dan marah tercampur satu.
“Ya Tuhan, Kinanti,” Tristan Mirano menerima peluk putrinya, yang dia cemaskan benar-benar pergi dari rumah oleh karena pertengkarannya dengan Antara itu. “Jangan sekali-kali berbuat seperti ini lagi! Hanya kamu teman Papa di rumah.”
Kinanti mengangguk, “Maafin Kinanti ya, Pa. Kinanti pergi sebentar untuk—” Tidak kuasa mengatakannya, suara gadis itu pun menjadi amat berbisik. “Menenangkan diri.”
Tristan Mirano melepas dekapannya, meneliti bahwa kondisi putrinya itu baik-baik saja. Dan, tatapannya jatuh pada sosok Bara yang sejak tadi tak terpindai dari perhatiannya.
Kinanti pulang bersama Bara?
“Selamat sore, Om.” Bara menyapa dengan cara yang elegan. Sikapnya pasti dapat poin plus dari lelaki yang putrinya ingin dia pinang itu. “Saya antarkan Kinanti ke mari karena semalam, Kinanti menginap di rumah saya.”
Kacamata yang bertengger di atas hidungnya, dilepas oleh Tristan Mirano, “Di rumahmu?” Bara mengangguk, dan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang berputar di bola mata pria tua itu. “Well, Bara. Mari kita duduk dahulu dan jelaskan lebih jauh padaku tentang semua ini.”
“Tentu, Om.”
Kinanti duduk di samping Papanya, dan Bara duduk di seberang yang lain. Heran sebab pria itu selalu nampak tenang sepanjang waktu.
Bara melirik Kinanti sebentar, “Kinanti menemui saya pukul 11 malam di factory outlet. She had a problem, dan saya pikir jika Kinanti akan baik-baik saja bersama saya. Sebelum saya antarkan kembali ke rumah Om.” Dan cepat menambahkan sebelum Tristan Mirano salah berasumsi. “Saya tidak hanya tinggal sendiri di rumah. Seperti yang mungkin Om tahu dari beberapa cerita saya dulu.”
Suasana menjadi sunyi. Tristan Mirano memproses segala kemungkinan di dalam kepalanya, hingga pertanyaan ini pun akhirnya terlontar dari lisannya, “Ada hubungan apa di antara kalian?”
Bara merubah posisi duduknya, membikin statementnya kedengaran amat yakin. “Saya dan Kinanti saling mencintai.”
Sikap Tristan Mirano, sedikit lebih defensif daripada sebelumnya. Bola mata senja pria tua itu lurus-lurus ke dalam sepasang iris Bara, demi menggali kebenaran dan keseriusan di sana. Sebab, tak boleh sembarang lelaki yang bilang cinta pada putrinya.
Well, Tristan Mirano sejujurnya menyukai ide jika Bara akan menjadi calon pendamping Kinanti. Kebetulan, mereka telah lama saling mengenal. He knows Bara a little bit well, even his whole family. Hanya saja, ini terlalu mengejutkan. Bara dan putrinya memang dekat, tapi sejak kapan mereka memulai sebuah hubungan romantisme? Di samping itu, Tristan Mirano membutuhkan bukti nyata dari sikap dan pernyataan Bara yang bisa dipegang olehnya terkait Kinanti.
“Aku menghendaki lelaki yang serius pada satu-satunya putriku.” Tristan Mirano menekankan dengan tegas. “Aku tak mengizinkan Kinanti main-main dengan konsep pacaran yang tidak berujung.”
Bara mengulum senyum misteriusnya, “Saya sangat serius atas hubungan saya dengan Kinanti, Om. Sampai saya tak berpikir akan berlama-lama.”
Dan lagi-lagi, Tristan Mirano menangkap kematangan pemikiran koleganya itu. Akhirnya, pria itu menghela napas, tak mudah menyerahkan gadis kesayangannya ke tangan orang lain. Namun, jika lelaki itu mampu melengkapi kebahagiaan putrinya, mengapa harus dia halang-halangi? Terlebih, ketika lirikannya pada Kinanti bertemu dengan pengharapan gadis itu agar hubungannya direstui—Tristan Mirano luluh.
“Bara, katakan padaku, apa yang menjadi jaminan aku akan tenang menyerahkan Kinanti padamu?” Meski faktanya Bara memang pria yang mudah dipercaya, termasuk bagi orang yang tenang-tenang sulit seperti Tristan Mirano.
“Saya tidak akan merampas Kinanti dari tangan Om.”
Tristan Mirano menunggu.
“Saya akan bantu Om menjaga Kinanti, seperti yang Om lakukan selama ini. Dengan baik.” Bara menuntaskan ucapannya. Semenit lamanya diam, Tristan Mirano pun pada endingnya menganggukkan kepala.
“Aku pegang janjimu, Bara.”
Bara balas mengangguk. Senyum di bibirnya kian lebar sembari memandang Kinanti, gadis yang juga nampak selega hatinya sendiri.
“Kalau Om mengizinkan, saya akan melamar Kinanti setelah pendidikannya benar-benar rampung.”
Itu berarti usai momen wisuda Kinanti, yang bakal terlaksana satu bulan lagi. Tristan Mirano setuju. Sebetulnya memang pernah berpikir untuk menjodohkan Kinanti dengan rekan bisnis mudanya itu. Tapi ayolah, bukan zamannya untuk mengikat dua orang manusia dalam tali perjodohan. Tapi lihat sekarang, keduanya bersatu karena meyambut perasaan satu sama lain.
“Kamu beruntung karena aku tidak menuntut Kinanti berkarier tinggi sebelum menikah.” Pelan tapi pasti, senyum pria tua itu kembali terulas. “Aku menyerahkan sepenuhnya keputusan menikah pada anak-anakku, termasuk Kinanti.”
“Selama kamu memperlakukannya sebaik ketika aku membesarkan putriku.” Sambung Tristan Mirano, yang tahu bahwasanya Bara adalah sosok terbaik yang bisa dia bayangkan bersanding dengan Kinanti.
Kinanti tersenyum malu-malu memeluk Papa yang begitu dicintainya, “thank you, Papa.” Bisiknya. “Papa juga harus tahu satu hal, menemukan pria lain dalam hidup Kinanti bukan berarti dia menggantikan posisi Papa. You’ll always be my first love.”
***
Sebulan terasa sangat lama dinanti untuk hal-hal yang baik, terutama acara wisuda Kinanti. Sebuah ritual prestisius bagi siapapun yang berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang perguruan tinggi. Bagi Tristan Mirano, ini adalah kebanggaan tersendiri. Putrinya lulus tepat waktu, empat tahun!
Maka, pria tua itu ingin keluarga Mirano berkumpul untuk merayakan salah satu hari bahagia Kinanti. Sejak pagi tadi, baru Aksara yang telah mengonfirmasikan bakal hadir di kampus adiknya—aula Institut Kesenian Jakarta yang disulap luar biasa megah. Tak kalah dengan hotel bintang lima yang kerap jadi alternatif universitas lain dalam menggelar acara sakral ini.
Setelah melalui berbagai proses dan upacara di dalam aula, wisudawan dan wisudawati akhirnya menikmati momen bersama keluarga mereka. Ketika Kinanti keluar, dia melihat ada begitu banyak karangan bunga yang dikirimkan oleh rekan bisnis Papanya, UKM tempat Kinanti bergabung, lalu ada juga sebundel bunga tulip dari desainer Arlene Sumardi dan jangan lupakan—banner raksasa yang dipasang teman-teman kelasnya sebagai ucapan selamat. Kinanti bahagia sampai ke surga, this is the real definition of happiness. Terlebih, kala Kinanti memeluk hangat Papanya yang nampak sehat, hadir ke acara pentingnya ini. Kinanti berbisik di telinga pria tuanya, betapa cinta Kinanti begitu besar untuk Tristan Mirano—yang tak pernah sedikit pun kasar padanya meski kesalahan Kinanti begitu segunung saat dihitung.
“So proud of you, my little daughter. Even you are not little lady anymore.” Tristan Mirano mengusap-usap rambutnya lama.
Kinanti tertawa, “Thank you, Papa. I love you always.”
Pelukan mereka terlepas. Tristan Mirano yang hari itu pakai setelan batik, sangatlah terkesima memandang putrinya sendiri. Kinanti begitu cantik dengan kain brokat berpotongan simpel, yang menjadi highlight dari pakaiannya di acara wisuda itu. Dipadukan dengan samping khas Sunda yang dilukis sendiri oleh tangannya di rumah batik Bara dua minggu lalu. Gadis itu memukau siapapun yang melihatnya, termasuk Bara.
“Selamat, Kinanti.” Bara mengecup pipinya dengan kilat, mencuri kesempatan dalam kesempitan. Nekat. Padahal ada banyak orang berseliweran. Ada Papanya pula! “You did a great job.”
Tapi Kinanti tetap saja tersipu-sipu mendengar pujian itu, “Kalau begitu mana hadiahnya?” Sembari melirik kedua tangan Bara yang ternyata tidak bawa apa-apa.
Pria itu tertawa kecil, “Hadiahnya nanti ya, Sayang. Di rumah.” Ih, genit amat sih. Kinanti melotot, menggemaskan di mata Bara. “Aku tak beli bunga, karena kamu pasti akan repot membawa bunga yang membukit dari teman-temanmu.” Benar juga! Awas, nanti Kinanti bakal tagih seluruh hadiahnya.
“Hai, semuanya.” Seorang lelaki jangkung yang begitu tampan, berjalan mendekat ke arah mereka. Pria muda itu kian necis dengan baju batiknya. Tampak tak biasa. Kedatangannya lantas disambut oleh Tristan Mirano. Dan pelukan Bara yang bersahabat.
“Aksa! Kamu telat!” Kinanti merajuk. Tak mau peduli meski tahu kakaknya itu baru tiba dari Palembang. Seharusnya kan Aksara bisa sedikit lebih keras berusaha. Selalu saja datang mendadak! Dari kemarin kek, sibuk banget jadi orang, batin gadis itu.
“Sini aku peluk dulu,” Aksara dengan cueknya abai pada kekesalan Kinanti, dan langsung memeluk adiknya yang menggemaskan itu. “Eh, enggak apa-apa kan walaupun sudah punya pacar aku peluk mesra gini?”
“Ih,” Kinanti mencubit lengan Aksara. Malu.
“Kok masih galak?” Aksara yang pura-pura meringis mengalihkan perhatiannya pada Bara. “Bar, yakin mau sama cewek galak begini?” Bara tertawa menanggapinya, sementara gadis yang mereka singgung itu, kali ini benar-benar memukul kepala Aksara dengan buket bunga yang ada di tangan. Yang tadi didapatnya dari dalam aula sebagai cinderamata cumlaude.
“Jadi, mana hadiahku?” Tuntut Kinanti kemudian.
Aksara menunjuk dadanya sendiri, “Nih.”
“Kamu?”
“Tiket pesawat sudah mahal, masa mesti kasih hadiah lagi?” Aksara menyeringai jahil. “Kakakmu yang perhatian ini hadiah dari Tuhan yang patut kamu syukuri, Kinanti. Karena ganteng, populer, dan berbakat.”
“Aku kesel sama jawaban itu, tapi aku enggak boleh nyesel kamu ada di sini.” Untung sayang. Dan untung kakak sendiri. Kinanti membatin. “Pokoknya, aku mau request hadiah.”
Aksara nyengir. Tak ada ujung baginya saat menggoda adik perempuannya itu. Selalu menyenangkan. Dulu, Aksara biasa menjahili Kinanti sampai menangis. Tetapi, sudah tidak lagi seiring dengan berjalannya waktu.
Lalu, mereka mengabadikan momen wisuda Kinanti menggunakan lensa fotografer profesional yang sengaja disewa oleh Tristan Mirano. Agar hasilnya terorganisir dengan baik.
Di sela-sela jepretan itu, Kinanti melihat sebuah mobil silver yang familiar, nopolnya juga bukan Jakarta. Kemudian memutuskan bertanya, “Mas, bukannya itu mobil Papamu ya?”
“Oh, mereka sudah datang.” Bara melihat ke arah bola mata Kinanti tertuju. Selagi mobil itu mencari tempat untuk parkir, Bara kembali memusatkan matanya pada Kinanti yang meminta penjelasan. “Papa dan Mamaku datang dari Surabaya khusus untukmu.” Bara tertawa atas reaksi Kinanti yang di luar imajinasi itu. Raut bengongnya spesial hanya untuknya.
Well, Kinanti bisa tahu itu mobil Papa Bara karena dia pernah berkunjung ke Surabaya tiga minggu lalu. Dikenalkan pada keluarga besar Bara. Dan, Kinanti tentu tidak menyangka mereka akan datang di hari bahagianya. Jauh-jauh dari luar kota demi calon menantu. Ya Tuhan, manisnya. Keluarga Bara sangat perhatian, persis Bara sendiri.
Pria itu menambahkan lagi, “Dan untuk makan malam spesial mengenai pembicaraan pertunangan kita.”
Senyum Kinanti mengembang, tak bisa berkata-kata lagi. Bola matanya panas. Cengeng! Maka demi menghalau laju air mata, Kinanti meremas jemari Bara di antara jari-jarinya sendiri, lalu menggenggamnya dengan erat. “Sebelum makan malam itu, Mas antar aku ke makam Mama dulu ya?”
“Tentu, Sayang.” Bara mengelus pipinya yang dipulas blush on. “Aku juga ingin berterimakasih lagi, karena Mamamu telah melahirkan seorang gadis cantik untuk menjadi bagian di hidupku.”
“CONGRATULATIONS, KINANTI! Teriakan itu amat melengking. Orang-orang menoleh pada gadis yang kini berlari-lari membawa bunga.
Kinanti gemas bukan kepalang, mengapa Sana selalu mengganggu momen istimewanya dengan Bara?
***
Suasana club yang bising tidak membuat gerombolan manusia di dalamnya pening. Justru, mereka kian bersemangat mengobarkan hawa nafsu dalam tubuh. Entah itu hanya buat minum bergelas-gelas alkohol, atau berjoget heboh di bawah hujaman lampu disko. Tak ada kata penat, karena inilah versi terbaik dari tempat pelepas penat itu sendiri. Dan di sebuah ruangan khusus bagi tamu VVIP, Antara menikmati setiap pemandangan yang tersaji di hadapannya itu. Sembari dia isap rokok dan wine bersama kawan-kawan bisnisnya. Yang telah mesra dengan perempuan-perempuan sewaan di club malam ini. Sementara dia masih sendirian.
“Kembali lagi pada kebiasaan lama?”
Antara menaikkan alis tanpa menoleh ke wanita yang tiba-tiba masuk private roomnya, dan duduk di sampingnya. Lalu membalas, “Aku memang perokok.”
“Tapi terakhir kali aku berkunjung ke Singapura, kamu sudah tidak merokok.”
“Jangan bertingkah seolah mengenalku dengan baik.”
Wanita itu tersenyum simpul, “Apapun itu, akhirnya kamu kembali ke Jakarta.” Kepalanya menyandar manja di bahu Antara. “Dan apa lagi yang sudah kamu pelajari selama di sana, hm?”
“Uang, seks, hedonisme, sekulerisme, uang, seks, apa lagi selain itu?” Ucapannya amat sarkastik, tapi si wanita yang berpakaian seksi di sampingnya malah tertawa.
“Kamu benar, itulah sebabnya aku merindukanmu di sini untuk semua hal itu.” Bisiknya menggoda.
“Nah, sudah, lebih baik kalian reuni dan cari kamar hotel yang kosong.” Celetuk salah satu teman Antara.
Yang lain menimpali. James, kolega bisnis Papanya juga. Blasteran Amerika, dan pria satu ini mengulas senyum tipisnya, “Antara, bukankah keluargamu sedang merayakan kelulusan adik perempuanmu itu ya? Tak ada agenda apapun di catatan sekretarismu?”
Antara melempar puntung rokoknya hingga masuk ke asbak yang berukir naga, “Jangan ganggu kesenanganku malam ini dengan hal yang tidak penting.”
Pria itu bangkit sembari menarik lengan wanita yang akan bersenang-senang dengannya. Teman tidur yang siap dia hubungi kapan saja. Lalu dengan tidak sabar, Antara melumat bibir wanita itu. Mereka benar-benar membutuhkan hotel.
***