Prahara yang terjadi di dalam rumah itu menciptakan sebuah atmosfer buruk. Orang-orang yang bekerja di sana pun turut terkena imbasnya. Termasuk Fatmawati. Yang khawatir bukan main saat mengetahui jika Kinanti dikurung di dalam kamarnya. Fatmawati kira, hubungan Antara dan Kinanti akan membaik seiring dengan berjalannya waktu. Tapi rupanya dua orang itu tetaplah minyak dan air; sulit menyatu. Fatmawati yang tak tega memikirkan Kinanti, akhirnya mengambil sebuah langkah nekat. Perempuan paruh baya itu menemui Antara yang kini menempati kamar tamu—bersama bayi Kinanti yang juga ada di dalamnya. Entah akan diapakan oleh pria itu. Maka, Fatmawati segera menuju ke sana. Tanpa mempertimbangkan resikonya. Demi Kinanti, Fatmawati rela menanggung konsekuensi apapun. Dengan jemarinya yang gemetar,

