Perasaan ini aneh. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Terutama pada Raihan. • • • Saat menyaksikan jasad bundanya yang sudah terbujur kaku itu disatukan dengan bumi, saat itu juga Raihan merasakan sesuatu berdesir mengaliri dadanya, menciptakan perih yang tertahankan. Lagi-lagi, tanpa terdengar isakan sedikitpun, bulir-bulir air berjatuhan dari ujung mata Raihan. Satu demi satu orang-orang yang berdiri mengelilingi gundukan tanah basah dan bertabur bunga segar itu, berlalu. Hingga menyisakan dua orang di sana. Alih-alih Raihan menjatuhkan dirinya tepat di samping tempat peristirahatan terakhir Mirna. Mengambil posisi duduk setengah jongkok dengan kedua lutut dan ujung kakinya bertumpu di atas tanah. Tangan Raihan terus saja mengusap nisan Mirna dengan kepala tertunduk. Air

