bab 4

797 Kata
Tak terasa kini aku sudah di SMA, seperti janjiku pada bapak dan ibu aku harus terus berlatih untuk mengejar cita-citaku itu. Pesona Maria Seleste atau Silvia terkadang masih sering muncul. Hanya saja aku atau Sarinto harus sama-sama menelan kekecewaan. Aku dengar gadis impian kami itu sudah mulai berpacaran. Ada rasa sakit, kecewa di d**a bahkan ada rasa kesal kepada diri sendiri, kenapa sih sebagai seorang laki-laki aku tidak berani ungkapkan perasaan itu kepada Silvia. Dan lagi-lagi hal yang sama aku menguatkan hatiku sendiri, kelak kalau aku sudah selesai pendidikan militer aku akan cari Silvia dan ungkapkan perasaan ini, perasaan yang benar-benar ada di hatiku kepada Silvia. Hatiku sedikit kosong, rasa kecewa, kesal kepada diri sendiri, membayangkan Silvia memiliki seorang kekasih dan itu bukan aku. Aku pun berpikir untuk mencoba mencari tambatan hati lagi, mungkin seseorang yang lain. Seperti yang kawan-kawan sering bilang, "Jika Kita patah hati ya obatnya hanya 1 seorang pengisi hati yang baru." Di sekolah aku mulai dekat dengan sosok Amelia, ya dia lumayan mengingatkanku kepada sosok Silvia. Amelia juga gadis yang cantik, dan ayu serta agak sedikit anggun dari Silvia. Mungkin untuk saat ini aku bisa mengatakan perasaan suka kepada Amelia, dan mulutku tidak terkunci seperti dulu lagi. Seperti aku yang tak pernah berani mengatakan perasaan cinta terhadap Silvia. Beberapa minggu berselang, seperti yang sudah aku rencanakan, aku benar-benar mengatakan perasaan suka kepada Amelia. Dan tanpa aku duga, ternyata Amelia membalas perasaanku tersebut. Jadilah Amelia sebagai pelipur laraku, teman dekat yang menggantikan sosok Silvia. Dan ternyata Amelia lah yang mendapat predikat sebagai pacar pertamaku. Hari ini aku dan Amelia mulai pulang bersama dari sekolah. Mungkin sama seperti kawan-kawan yang lain yang punya kekasih, tidak ingin melewati momen untuk antar jemput pacar ke sekolah. Kini aku sudah ada sedikit kemajuan, Alhamdulillah bapak meminjamkan salah satu motor miliknya untuk aku pergunakan untuk berangkat sekolah. Walaupun bukan motor baru, tapi apa pun itu tetap aku syukuri. Bapak dan ibu selalu melatihku untuk belajar hidup hemat, apalagi sebentar lagi aku akan coba daftar untuk masuk ke kesatuan Brimob. Mungkin bukan modal yang sedikit yang harus bapak dan ibu persiapkan untuk pendidikanku kelak. Kembali kepada hari-hari aku dan Amelia, aku selalu menggodanya dan bertanya kepadanya bagaimana jika nanti aku harus melanjutkan sekolah yang jauh. Mungkin harus ke pulau Jawa dan tidak di Lampung lagi seperti sekarang ini. “Mel, Kamu tahu kan kalau Aku ada cita-cita ingin pendidikan Brimob?” “Iya, Aku tahu Mas, kan Kamu sudah sering bilang.” “Iya Mel.” “Oh ya, apa Mas benar-benar mau pendidikan di Surabaya?” “Iya Mel, karena bapak dan ibu bilang kalau di Surabaya tempat pelatihannya bagus Mel dan salah satu yang terbaik, selain itu di sana ada kakek dan pamanku Mel.” “Iya, tapi jangan lama-lama ya.” “Ah, Kamu Mel, hayo Kamu masih mau setia sama Aku tidak? Masih mau tunggu Aku pelatihan apa tidak?" “Ya, iya lah Amel mau.” “Janji ya?” “Iya ih, masa Mas Nggak percaya.” Begitulah kelakuan Amel, dan enggak terasa dua tahun kami jalani kisah kasih ini. Hampir tiap hari bertemu, jalan bersama menjadi sosok teman dan sahabat yang berbagi kisah dan cerita. Kisah kasih SMA yang penuh warna, intrik dan terkadang sesikit konflik cinta. Dan kenyataannya saat ini, perpisahan SMA pun sudah di depan mata. Amel, dia memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan sebagai seorang perawat. Dan aku berjanji akan mendukung pilihannya itu. Tugas yang cukup mulia juga bukan? Dan minggu depan aku akan mengantarnya untuk mendaftar di kampus yang dia pilih untuk memggapai cita-citanya itu. Seminggu kemudian. Aku pun menepati janjiku, mengantarkan Amel untuk daftar di kampus perawatan yang dia pilih. Dan beruntung Amel lolos saat pendaftaran. “Mel, Sayang cantik... Selamat ya, akhirnya Kamu masuk juga.” “Iya Mas, Alhamdulillah Aku masuk dan di terima untuk sekolah di sini.” “Iya Mel, yang rajin Kamu belajarnya ya, biar dapat nilai bagus, lulus dan...” “Dan apa Mas?” “Dan kita menikah.” “Hahaha, Aamiin Mas, oh ya Mas juga selamat ya, akhirnya Mas masuk ke sekolah Bintara yang ada si Surabaya.” “Iya Mel, Mas pamit ya, lusa Mas berangkat loh ke sana.” "Iya Mas." Ya Allah, walau dengan berat hati harus pergi, dan meninggalkan Amel di sini. Tapi ya aku harus ikhlas dan kuat. Semua juga demi masa depanku dan cita-citaku. Malam ini bapak dan ibu mengantarku pergi pendidikan ke Surabaya, sedikit menitikkan air mata, ternyata kehadiran Amel dua tahun ini cukup bermakna dan melukiskan rasa sayang di hatiku. Dan mulai esok aku akan mulai menggembleng diriku dalam markas pelatihan Brimob. Akan susah bagiku membawa HP, dan akan susah untuk aku membawa hal-hal pribadi. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku dapat menghubungi keluarga dan Amel. Atau mungkin akan lebih jarang dari itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN