bab 18

797 Kata
Malam pengantin kami, Kami tiba di kediaman Silvia pukul 20.00 WIB. Bapak dan ibu mertua meminta kami untuk beristirahat setelah makan malam keluarga. Tampak keluarga yang sudah lelah, tapi rona-rona bahagia tetap tampak terpancar dari wajah-wajah kami. Rumah masih tampak ramai, dan tentunya masih banyak bagian rumah yang terlihat acak-acakan karena acara pernikahan kami hari ini. Bapak mertua mengajak aku Shalat bersama di ruang keluarga, dan tampak Silvia yang turut Shalat bersama kami. Bapak yang bertindak menjadi imam malam ini, kesan pertama yang aku tangkap dari keluarga ini adalah keluarga yang sangat hangat. Ada sedikit rasa canggung, tapi mereka paham dan seakan-akan selalu membuat aku nyaman dan hangat saat bersama-sama dengan mereka. Rasa canggungku pun mulai hilang, yang aku rasakan serasa menjadi dekat dan akrab. Beberapa menit kemudian, Aku memberanikan diri berjalan dan mengetuk pintu kamarku dan Silvia, dan dari dalam terdengar sahutan Silvia. “Masuk saja Mas, pintu tidak di kunci rapat.” "Iya." Aku pun bergegas memberanikan diri untuk masuk, Silvia tampak sedang menyisir rambutnya, rambut yang panjang dan indah, tidak lebat tapi sangat lurus dan cantik. Tidak berwarna hitam pekat, tapi agak sedikit kecokelatan dan cenderung pirang alami. Kemudian, aku duduk di atas tempat tidur kami, dan melihat keadaan sekeliling kamar Silvia. Kali ini Ita dan Silvia merias kamar kami dengan nuansa putih dan merah muda, dan tetap sama, ada harum bunga melati dan mawar yang di padukan, dan tampak bertaburan di beberapa tempat dalam kamar kami ini. Dan aku lihat rangkaian bunga yang cukup indah dan besar berada di sisi meja rias istriku. Kamar yang cukup luas dan nyaman. Tampak Silvia menutup pintu kamar kami, dan dia mematikan lampu utama kamar kami. Dia mulai berjalan mendekat ke tempat tidur, di mana aku terduduk. “Mas, ini air minumnya sudah di siapkan ya Mas.” “Iya Sayang, sini mendekat kepada Mas.” Dia tersenyum, dan duduk di pangkuanku. Jantungku rasanya berdetak kencang. Aku pun memeluk tubuh indah istriku ini. Aku berbisik di kupingnya. "Boleh Mas menyentuhmu Silvia?" "Iya Mas, boleh." Satu pelukan hangat aku berikan kepadanya, dan aku rebahkan tubuhnya di ranjang pengantin kami. “Silvia, Silvia ikhlas Mas tiduri malam ini.” “Iya Mas Aku ikhlas.” Ciuman pertama, kedua dan seterusnya aku berikan kepada istriku, begitu pun belaian-belaian lembut mulai aku berikan untuknya. Tampak dia yang mulai menikmati segala permainanku malam ini sebagai seorang suami yang memberikan nafkah batin. Dan dia pun mulai membalas semua kehangatan yang aku berikan. Malam ini berasa panjang, karena bisa di bilang kami tidak tidur sama sekali malam ini. Kami terus bergulat di tempat tidur, dengan desahan-desahan manja yang terus keluar dari bibir tipisnya itu. Entah berapa kali permainan malam ini, yang pasti kami sama-sama saling menikmatinya. Keesokan harinya, “Mas, ini Kopi sudah Silvia buatkan ya.” “Terima kasih Sayang.” “Ini Silvia simpan di atas meja, dan ini handuk untuk Mas membersihkan diri.” Aku bergegas bangun, dan melihat jam tangan yang aku letakkan berdekatan di atas meja kopi. Masa Allah jam 09.00 WIB, malu rasanya, kenapa bisa kesiangan hari ini. Aku bergegas pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku, dan tampak Silvia telah menyiapkan pakaian untukku yang di letakkan di atas tempat tidur kami. Kami bergegas keluar kamar, dan menyapa anggota keluarga. Dan Silvia bergegas mengajak aku sarapan di meja makan. Aku tetap berusaha cuek dengan suasana dan pandangan yang agak asing, tapi mungkin hanya aku yang merasakan hal ini. Karena bapak dan ibu mertua seakan cuek menyikapi sikap kami pagi ini. Tampak Silvia yang cekatan menyiapkan makanan untukku, mengambilkan nasi goreng, telur dadar dan kerupuk udang. Tanpa aku memintanya. “Siapa yang menyediakan ini Sayang?” “Aku Mas, bagaimana? Tidak keasinan kan rasanya?” “Hahaha, Silvia kalau masak masih sering keasinan Van, mungkin efek karena ingin kawin kalau kata orang tua jaman dulu mah.” “Hahaha, ya betul itu Ma.” “Mama, dan Papa ini ya buat Aku malu saja sama Mas Irvan.” “Tentu ya, iya kalau zaman dulu orang bilang begitu jika ada yang masak tapi asin, karena ingin kawin.” “Betul itu yang di bilang Papamu Sil.” “Ya semoga setelah nikah dengan Mas Irvan masaknya jadi lebih pintar, jangan sibuk kerja terus ya nak, tapi harus mulai bisa rawat Suamimu.” Jujur aku hampir tersedak melihat mama dan papa saling menggoda Silvia, tapi apa pun itu pasti mereka lakukan untuk mencairkan suasana di rumah kami. Dan aku sangat bahagia melalui semua hal bersama Silvia. Aku rasa malam pertamaku berada di rumah Silvia berjalan lancar dan menyenangkan dengan sambutan keluarga yang cenderung sangat baik dan hangat. Dan siang ini masih ada dua hadiah yang aku sembunyikan untuk Silvia, yang akan aku berikan hari ini. Tapi nanti menunggu waktu yang tepat jika dia sudah mulai senggang dengan segala kesibukannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN