Pagi menyapa. Cahaya mentari menyelinap ke sela-sela tirai yang tak tertutup rapat. Mata Vena menyipit terkena gangguan itu. Perlahan matanya terbuka dan mula menerawang keadaan sekitar. Tangan melingkar di perut Vena yang tak terbalut kain sehelai pun. Dia berabanya, kemudian menyingkirkan itu perlahan. Vena terduduk. Menatap sekeliling sembari meremas kepalanya. Entah apa yang ada di otak gadis itu, sampai berani melakukan hal semalam. Arata terbangun seiring pergerakan kasur. Dan di depan penglihatannya kini adalah punggung halus yang telanjang. Sebuah tato menyertai bahu gadis itu. Membuat Arata mengernyit dan mencoba membaca tulisan di sana. "Luna?" gumam Arata tak sadar. Vena spontan menoleh dan dengan cepat melebarkan selimut ke seluruh tubuhnya. Tak memberikan Arata sedikit

