"Kenapa kau pergi begitu cepat?" tanya Nifa bernada sedih. "Jika bukan karena Arata datang, aku pasti akan tinggal lebih lama. Tenanglah ibu ... aku akan segera tuntaskan misiku dan pulang lagi." Vena tersenyum lembut. "Kau mau pulang ke keluarga yang mana?" Ketika pertanyaan itu muncul, sudut bibir Vena kembali menurun. "Vena. Pesawatnya sudah datang." Arata menghampiri untuk mengingatkan. Vena melepas genggaman tangan Nifa. "Aku pergi dulu ya, Bu," pamitnya. "Jaga dirimu dengan baik." Nifa mengusap pucuk kepala Vena. Merasa tak menyangka anaknya sudah sebesar ini. Dia merasa seperti ibu sungguhan. Vena mengangguk lalu berangsur pergi bersama Arata. Mereka di cek, lalu dipandu menuju pesawat. Vena selalu duduk di dekat jendela. Melihat betapa indahnya dunia dari atas sana. Sem

