Semakin rumit

1399 Kata

Hangat. Vena merasa tangannya dibalut nyaman oleh tangan Arata. Walau laki-laki itu menariknya kencang ke depan gudang di lantai satu, tapi Vena merasa semuanya akan baik-baik saja. Wajah Arata memang terlihat marah. Bibirnya tertutup rapat, seolah tidak senang. Dia mungkin kesal, karena Vena membuat buruk reputasinya sebagai siswa teladan. Pemenang olimpiade dua tahun berturut-turut itu terlihat khawatir. "Kita sudah selesai. Kau bisa melepaskan tanganku," ucap Vena. Arata masih berdiri membelakanginya. Menghadap ke pintu gudang yang usang dan berdebu. "Jadi kita berkencan?" tanya Arata tiba-tiba. "Kamu berkelahi memperebutkanku, lalu kita mabuk dan tidur bersama. Iya kan?" Vena termenung, tak bisa menjawab. Gadis itu melihat sekitarnya dengan was-was, lalu kembali menatap Arata yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN