Jalanan berangin membawa aroma musim panas. Vena menggiring kopernya di jalanan yang tak rata. Kiri kanannya adalah pepohohonan hijau. Suara gresek gresek mengganggu indra pendengaran ketika koper ditarik cepat. Jalanan itu juga membuat beban Vena semakin berat. "Kenapa ibu senang sekali tinggal di lingkungan seperti ini? Bukankah lebih enak jika tinggal di perumahan kota?" Vena tak habis pikir. Nafasnya habis tersenggal-senggal. Butuh waktu lama untuk sampai ke pinggiran kota. Satu jam berjalan kaki. Hari sudah gelap dan angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Vena yang memang tak suka pakai mantel itu mulai merasa kedinginan. Otaknya kembali mengingat ketika Arata menanggalkan jaket di bahunya. "Kenapa tiba-tiba kepikiran Arata?" Vena bertanya pada dirinya sendiri. Hanya untuk

