Azzima menghela napas panjang, pria itu hendak menyuruh Gianna pulang. Tak seharusnya gadis itu berkunjung malam-malam ke apartemen dosennya. Namun, belum sempat Azzima berkata, Gianna sudah memeluk kakinya dan memohon agar Azzima memberinya kesempatan. Sontak, pria itu membesarkan kedua bola matanya. "Hei, apa yang kau--” "Aku mohon berikan aku kesempatan. Aku harus lulus tahun ini. Setidaknya agar pendidikanku tidak suram setelah melihat karierku berantakan." Gianna menangis dengan air mata palsunya. "Baiklah," putus Azzima akhirnya. Segera gadis itu bangkit, lalu masuk ke apartemen sebelum mendapat izin yang valid dari pria itu. Gianna sudah duduk di sofa ruang tengah sekarang. Gadis itu terlihat menyapu pandangan ke seluruh penjuru, melihat isi apartemen Azzima seolah dirinya ingi

