5. Musuh Kandung

1876 Kata
Setelah melalui malam yang panjang, akhirnya pagi pun tiba, matahari bersinar hangat hari ini. Tepat pada pukul delapan pagi, bel di rumah Gianna berbunyi. Seseorang menunggu di depan sana sambil memperhatikan layar yang menggantung di sisi tembok. Leena yang mendengar suara bel segera melangkah menuju monitor kecil yang menghubungkannya ke layar di depan rumah. Wanita paruh baya itu menekan tombol yang ada, dan muncul lah sosok pria yang sudah dia tunggu-tunggu sejak tadi. Ya, dia adalah Devin. "Selamat pagi, Tante," sapa pria itu dari layar monitor. "Wah! Devin, kamu sudah datang. Sebentar, Tante bukakan pintu." Leena tersenyum gembira. Dengan sangat antusias dia melangkah ke depan untuk membuka pintu rumahnya. Dia melihat Devin yang sudah berdiri di depan gerbang. Pria itu datang bersama sopir pribadinya. "Ayo, sini, masuk," ajak Leena. Devin membuka pagar rumah itu setelah berkata pada sopirnya untuk memasukkan mobil ke halaman. Sang sopir pun mengangguki perintahnya. Devin segera melangkah menuju Leena yang menunggunya. Wanita itu mengajak Devin masuk dan menyuruhnya duduk, lalu Leena bergegas untuk membangunkan putrinya yang sepertinya masih tidur. "Gianna," panggil wanita itu sambil mengetuk pintu kamar gadisnya. "Gianna!" panggilnya lagi sebab tidak mendapat jawaban. Wanita itu memanggilnya berkali-kali. Sementara itu, di dalam kamar, Gianna bangkit dari posisi tidurnya, lalu melepas sleep eyes yang semalaman menutup kedua matanya. Gadis itu menguap sambil mengusap wajahnya. "Ya, Ma," responnya dengan suara malas. "Kau baru bangun? Apa-apaan kau ini, Mama sudah bilang kalau Devin akan datang hari ini. Cepat buka pintunya," pinta Leena dari depan sana. Mendengar nama Devin disebut, Gianna langsung membuka kedua matanya lebar-lebar. Kemudian kepalanya menoleh pada foto dirinya yang terpajang di dinding, dan seketika raut wajahnya berubah menjadi sendu. Foto yang dia lihat itu adalah foto saat dirinya mendapatkan penghargaan aktris paling top. Gambar itu adalah bukti bahwa dia pernah menjadi sosok yang paling dinantikan. Namun kini, betapa sedihnya dia setelah mengingat karrier-nya tengah berada di ambang batas kehancuran. Apa dia benar-benar harus menikah dengan pria itu? Gianna bahkan tidak pernah memikirkan tentang pertanyaan itu sebelumnya. "Kau dengar aku? Gianna! Buka pintunya. Apa kau tertidur lagi?" ucap Leena panik. Gadis itu menghela napas pendek. "Ya, aku dengar," jawabnya. "Kalau begitu buka pintunya," pinta Leena. Namun lebih terdengar seperti perintah. Gianna berjalan malas menuju pintu untuk membukanya. Gadis itu membiarkan ibunya masuk. "Kau akan menerimanya bukan?" tanya Leena tiba-tiba. Tanpa adanya basa-basi, wanita itu tampak sangat tergesa meminta Gianna untuk menerimanya. Gianna belum menjawab. Dia menatap lesu pada manik mata yang menampilkan sorot gembira di depannya. Leena mengembangkan senyum, berharap jawaban iya lah yang akan dia dengar dari putrinya. Gianna tidak ingin menghancurkan kegembiraan yang terpancar dari wajah ibunya itu. Namun, dia juga tidak ingin menjawab iya dan menikah dengan Devin. Dia tidak punya pilihan untuk menjawab, tapi dia memiliki bakat akting yang cukup untuk menciptakan alibi dan mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Ah, Mama, apa kau tau di mana topi kesayanganku?" ucap Gianna sambil pura-pura sibuk melihat ke sana dan ke mari untuk menemukan topinya. "Topi?" Leena membeo, termakan oleh alibi yang sengaja dibuat oleh Gianna. "Ya, topi, kemarin aku menaruhnya di sini," ucap gadis itu sambil melangkah menuju nakas dan menepuk-nepuk meja kayu itu. "Aduh, bagaimana ini, aku tidak bisa hidup tanpa topi itu," tambah Gianna, memancing agar ibunya itu ikut membantunya mencari topi kesayangannya. Gianna curi-curi langkah untuk bercermin dan merapikan rambutnya, juga wajahnya. Gadis itu pun mengambil kesempatan untuk memasukkan pakaian ganti ke dalam tas bahu. Beberapa alat make up pun dia masukkan ke dalam tas itu. "Apa mama menemukannya? Aku harus mencarinya di dalam lemari," ucap Gianna sambil membuka lemarinya. "Apa tidak ada lagi toko yang menjual topi seperti itu sampai kau harus mencari-carinya seperti ini, atau kau tidak bisa membelinya?" Leena memutar tubuh menghadap ke arah gadis itu. Gianna buru-buru memasukkan tas bahu berisi pakaian ganti dan alat make up ke dalam lemari, menyembunyikannya dari Leena. "Itu satu-satunya topi yang didesain untuk aktris top sepertiku, dan tentu saja tidak dijual di mana-mana," kata Gianna. Leena menghembuskan napasnya, lalu kembali mencari topi itu di seluruh sudut kamar Gianna, sedangkan Gianna melanjutkan aksinya, memasukkan jaket dan syal ke dalam tas bahu itu, lalu memasukkan kacamata hitam, dan tak lupa dia juga memasukkan dompet ke dalam sana. "Ah, aku ingat, aku pasti meninggalkannya di mobilku," ucap Gianna sambil memakai tas bahunya. "Mobil?" Leena kembali membeo. "Aku akan menemukannya sendiri. Mama tunggu di sini saja," kata Gianna dengan gerakan tubuhnya yang khas seperti orang yang sedang mencari barangnya. Tanpa menunggu Leena berbicara, Gianna langsung bergerak cepat keluar kamarnya dan menuju ke arah luar. Dia berniat untuk pergi menghindari Devin. Dia memang belum mandi saat ini. Namun, dia sudah membawa pakaian ganti dan keperluan lainnya. Dia hanya tinggal mencari toilet umum di mall atau sauna untuk membersihkan diri. Namun, bodohnya dia, yang lupa jika mobilnya masih berada di lahan parkir perusahaan agensi. "Hei, Gianna! Kau sedang membohongi Mama," ucap Leena yang mulai menyadari jika gadis itu ingin kabur. "Mobilmu saja masih tertinggal di perusahaan agensi, bagaimana kau akan menemukannya?" Leena berjalan cepat untuk mengejar Gianna yang sudah berlari dan menghilang. Gianna tak menghiraukan ucapan mamanya meski dia mendengarnya. Hal itu membuat Leena semakin yakin jika gadis itu ingin kabur. Devin yang sempat melihat Gianna melintas pun segera bangkit dari tempat duduknya. "Oh, hai, Dev. Aku titip mama sebentar, ya," ucap Gianna sebelum melangkah panjang dan keluar dari rumah. Devin yang kebingungan pun hendak menghentikan Gianna. Namun, dia mendengar suara Leena yang memanggil-manggil dengan panik. Hal itu membuat Devin lebih mengambil simpati pada Leena sebab barusan Gianna menitipkan mamanya padanya. Kesempatan emas itu yang membuat Gianna berhasil kabur. Gadis itu langsung menuju jalan raya dan menghentikan taksi. Dengan keadaan tubuh yang masih memakai pakaian tidur, dan kondisinya yang belum mandi, Gianna menghembus napas lega sebab sudah berada di dalam taksi. Kini Gianna berada di sebuah mall pusat kota, tepatnya di toilet teater. Gadis itu sudah selesai mencuci wajah dan mengganti pakaiannya. Saat ini dia sedang berias di depan cermin yang memanjang. Gadis itu menggeram jengah. "Apa yang aku pikirkan sampai harus merias wajah di toilet umum," ucapnya sambil melukis eyeliner di kelopak matanya. Dia menghembuskan napas sedikit lega. "Untung saja toilet tidak ramai pada jam-jam ini," tambahnya, kini dia memoles bibir menggunakan lip balm. Gianna merapikan polesan di bibirnya dengan menyatukan kedua belahan bibir lalu menyesap dan memonyongkannya. Gadis itu memastikan penampilannya sudah rapi. Setelah itu, segera dia memasukkan semua peralatan make up kembali ke dalam tas, dan bergegas pergi. Kini, gadis itu sudah melangkah menuju pintu keluar mall. Kaca mata hitam khas model menggantung di wajah Gianna dengan anggunnya. "Sekarang aku harus ke mana? Ah, aku harus mengambil mobilku dan menemui dosen itu," ucapnya kala melangkah. Gianna harus naik taksi sekali lagi agar sampai di perusahaan agensi untuk mengambil mobilnya. Gadis itu melangkah setelah turun dari taksi, lalu tidak sengaja bertemu dengan manager lamanya. Pria itu tampak sedang melangkah bersama seorang aktris lain, dan itu membuat Gianna memalingkan mata muak. Gadis itu membenarkan posisi kacamatanya, lalu kembali melangkah. "Ah, apa itu Gianna?" tanya aktris yang bernama Bianca itu. Manager Lim menoleh, mengikuti arah pandang Bianca. "Oh, selamat pagi, Nona," sapanya bersimpati ketika Gianna sudah hampir dekat dengan mereka. Manager Lim baru saja menjemput Bianca yang datang jauh-jauh dari luar kota. Bianca mendapat tawaran dari perwakilan agensi untuk bekerja sama dengan mereka, dan tentunya Bianca tidak menolak. Bianca adalah seorang model yang juga sedang merangkak naik di dunia akting. Sebelum ini, dia sudah sempat bermain film, meski hanya menjadi peran figur, tapi dia mendapat penghargaan terbaik sebab mendalami karakter tokoh. Hal itu yang membuat perusahaan agensi tertarik untuk mengajak Bianca bergabung. Setelah mengakhiri kerja sama dengan Gianna, tentu mereka tidak akan diam saja di tempat. Gianna melepas kacamatanya dan berhenti sejenak di depan mereka. Kedua matanya menatap tajam pada Bianca yang sudah pasti merasa senang sebab bisa melihatnya seperti ini. "Hai, Gianna, lama tidak bertemu," sapa gadis yang bernama Bianca itu. Gianna memalingkan mata dengan cibiran sinis, lalu memakai kembali kacamatanya. "Ya, kuharap layar kaca akan baik-baik saja setelah menampilkan dirimu," kata Gianna, khas dengan nadanya yang selalu meninggi untuk bertahan. Hal itu membuat manager Lim melirik pada Bianca. Pria itu memang sudah biasa dengan sikap Gianna, tapi dia tidak tahu bagaimana dengan calon aktris barunya. Gianna melanjutkan langkah, meninggalkan manager dan aktris baru mereka, sedangkan Bianca hanya menatap Gianna dengan sorot yang menyembunyikan amarah. "Apa kau kenal dekat dengannya, Nona?" tanya Manager Lim penasaran. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman oleh Bianca. "Bisa kita masuk sekarang?" tanyanya ramah. "Ya, silahkan, Nona," kata Manager Lim sambil mengulurkan tangannya, mempersilahkan Bianca untuk jalan lebih dulu. *** Kini Gianna sudah berada di perjalanan, sedang menggerutu geram sebab bertemu dengan Bianca hari ini, dan parahnya lagi wanita itu yang akan menggantikan posisinya. "Aah, dasar wanita tidak tahu malu, mengambil kesempatan dan merebut posisi saat orang lain sedang terpuruk. Apa dia pikir bisa menyaingi diriku?" ucapnya menantang. "Heh! Excuse me! Meski kami terlahir dari ayah yang sama, tetap saja aku lebih cantik darinya!" sambung gadis itu. "Aah! Aku sudah menyia-nyiakan kaloriku sebab membicarakan wanita itu," sesalnya. Gianna berkaca di cermin depan mobilnya yang tergantung untuk memastikan wajahnya baik-baik saja setelah membicarakan wanita itu. "Sekarang bagaimana caraku menemukan dosen menyebalkan bernama Azzima itu. Tidak mungkin aku pergi ke kampus, aku pasti dikeroyok oleh masa." *** Sementara itu di tempat lain di ibukota, tepatnya di Universitas Burnei, Azzima sedang mengisi kelas. Pria itu tampak sedang memberikan materi pada semua mahasiswa di sana. Kemudian, ponselnya berdering. Dia lupa menggetarkan ponselnya, membuat suara ponsel itu cukup mengganggu. "Sorry, minta waktunya sebentar," ucap Azzima kala menghentikan penyampaian materinya. Pria itu segera mengambil ponsel di saku kemejanya, lalu melihat nomor pemanggil. Yang tampil di layar itu hanyalah sebuah nomor. Azzima langsung mematikannya dan mengaktifkan mode hanya getar di ponselnya. Dia kembali menyimpan ponsel itu dan melanjutkan materi yang sempat terpotong. Azzima tampak sangat profesional saat menjelaskan materi di depan kelas. Namun tak lama, ponselnya kembali menerima panggilan. Suara getaran tak dapat dihindari. Pria itu sudah sempat mengabaikannya dan tetap fokus menyampaikan materi, tapi ponsel itu terus bergetar. Panggilan masuk berkali-kali, membuat Azzima merasa tidak nyaman pula sebab getaran di sakunya. Sampai akhirnya kelas itu selesai. Azzima menelepon kembali nomor itu, dan ternyata mahasiswinya yang bolos hari ini lah yang sejak tadi menelponnya dan mengirim pesan agar dia menjawab teleponnya. Dengan wajah flat-nya, Azzima mendekatkan ponsel ke telinga. Tak butuh waktu lama, pemilik nomor itu langsung menjawab teleponnya. "Hei, apa kau sengaja tidak menjawab teleponku?" tanya Gianna tiba-tiba dari seberang sana. "Apa yang kau inginkan? Dan kenapa kau bolos pelajaranku!" "Topiku ada bersamamu?" "Oh, topi jelek itu? Ya, tertinggal di mobilku." Gianna mengangkat sisi bibirnya seraya membesarkan mata. "T-topi jelek kau bilang!" protesnya. "Apa kau tidak tau jika topi itu satu-satunya di dunia ini?" tambah Gianna, melebih-lebihkan. "Aku tidak peduli. Kau menginginkannya? Aku akan mengembalikannya padamu. Aku tunggu kau di depan Universitas Burnei." "Hei Azzima aku tidak bisa ke--" Tut. _____________ Aku telah melakukan revisi pada bab ini. Jangan lupa klik lovenya buat yang belum agar cerita ini mudah ditemukan di librari kalian. Semoga suka dengan ceritanya, dan jangan lupa follow writernya ya. Satu lagi, buat yang belum baca cerita Azalia Istri Seorang Mafia, baca dong, nagih deh pokoknya, hihi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN