Gianna meronggoh tas yang dia pakai, mencari kunci mobil yang tersimpan di dalam sana. Gadis itu sudah ingin membuka alarm kunci mobilnya. Namun, saat dia hendak meraih gagang pintu, seorang pria menghalangi niatnya.
Hal itu membuat Gianna mendongak, dan melihat ke arah pria itu. Gadis itu membulatkan kedua matanya. Pria itu adalah Devin. Sejak kapan dia berada di sini, pikir Gianna. Namun, gadis itu tidak menanyakannya, dan malah menuduhnya.
"Kau membuntutiku," tukas Gianna.
Devin menyandarkan belakang tubuhnya di badan mobil gadis itu, lantas melipat kedua tangannya di depan perut.
"Kau menyuruhku untuk menunggu sebentar. Apa ini yang dimaksud sebentar?" kata Devin tak terima. Pria itu bahkan sudah berada di dekat sana sejak tadi, dan melihat apa yang dilakukan Gianna bersama pria yang belum dia kenal.
Gianna tercekat. Namun, gadis itu segera mengembalikan keadaannya. "Dari mana kau tau kalau aku ada di sini?" tudingnya.
"Aku bahkan bisa melacak semua riwayat perjalananmu," jawab Devin.
"Hah!" Gianna membesarkan kedua matanya. "Apa yang kau lakukan dengan riwayat perjalananku? Kau diam-diam mengikuti ke mana aku pergi? Apa-apaan kau ini, apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa kau lakukan!"
Devin menurunkan lipatan tangannya, lalu menegakkan tubuhnya untuk membujuk gadis itu.
"Gianna," panggilnya. "Aku ini calon tunanganmu. Apa salahnya kalau aku mencari tahu keberadaanmu?"
Devin meraih kedua lengan gadis itu. Gianna bergeming sejenak, menatap pria itu dalam, dan berpikir panjang tentang sesuatu yang akan dia lakukan.
Gadis itu melepaskan rengkuhan tangan Devin, lalu memintanya untuk tidak menghalangi pintu masuk mobilnya.
"Maafkan aku, Dev, tapi aku tidak bisa menerimamu," ucap gadis itu serius.
"Kau tidak perlu lagi mengasihani aku dan ibuku. Kami masih bisa hidup walaupun sekarang karrier-ku tidak sebagus dulu. Terima kasih atas kebaikanmu."
Gianna membuka pintu mobilnya. Namun, Devin mencegahnya.
"Hei, apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Gianna. Kau tau, aku sudah lama menyukaimu, dan aku selalu menunggumu untuk menerima lamaranku dan menikah denganku," papar Devin, napasnya sedikit terengah ketika menjelaskan semua itu.
Gianna menatapnya, nanar. Namun, tetap saja hatinya tidak pernah setuju dengan pilihan itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Devin orang yang baik dan tulus, tapi entah mengapa tidak pernah ada celah sekecil pun di hatinya untuk menerima pria itu lebih dari sekedar teman.
"Maaf, Dev …."
Gianna menghembuskan napas berat, lalu membuka pintu mobilnya. "Aku … benar-benar tidak bisa menerimanya," tambah gadis itu sebelum masuk ke mobilnya.
Devin terdiam membisu, dan membiarkan gadis itu masuk ke mobil. Dia masih berdiri di sana sampai mobil Gianna melaju, meninggalkannya sendiri dengan segala kehampaan.
Pria itu menghembuskan napas berat. Namun gusar. Dia tidak akan menyerah dan membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Ini bukan pertama kali baginya ditolak oleh gadis itu, tentu saja Devin sudah hampir terbiasa dengan hal ini.
Berbagai macam cara sudah dia lakukan untuk melunakkan hati Gianna. Namun, pada akhirnya sama saja. Tolakan lah yang selalu menjadi jawaban untuknya.
Pria itu mengusap rambutnya kasar, lalu membuang napas yang juga kasar.
"Kau pikir aku akan menyerah? Aku sudah memberikan yang terbaik untukmu dan ibumu, tapi seperti ini balasanmu padaku!" seru Devin tertahan, deru napasnya memburu, tampak jelas jika pria itu sedang menahan amarah.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikinya. Dan siapa pria yang tadi bersamanya?" Tiba-tiba saja tatapannya berubah sinis dan mengerikan.
Devin melirik getir pada jalanan yang mengarah ke gerbang kampus, menjejaki bayangan Azzima yang tadi menggoes sepeda ke arah sana. Dia sudah merekam dengan sangat jelas wajah pria itu di benaknya, dan dia tidak akan melupakannya.
Sopir pribadi Devin merapatkan mobil ke arah pria itu setelah barusan Devin memerintahnya untuk datang. Pria itu naik ke mobilnya, dan melaju membelah jalan.
***
Azzima masuk ke lorong parkir bawah tanah di bangunan apartemennya. Pria itu melangkah dengan bahu tegap menuju lift hingga dia sampai di lantai apartemennya. Dia menekan beberapa angka di sisi pintu apartemennya, lalu mendorong pintu itu.
Tampak lah ruangan yang sunyi dan damai. Warna abu-abu dan putih mendominasi di sana. Hanya ada beberapa peralatan yang berwarna hitam, seperti vas bunga kotak dan bingkai di dinding.
Azzima menyalakan lampu utamanya, sebuah lampu klasik yang menggantung di plafon apartemen, dan itu sangat indah jika dipandang. Pria itu melangkah menuju ruang kamarnya, lantas melepaskan jas dan kemeja yang dia pakai. Segera dia membersihkan tubuh dan mendinginkan kepala di toilet. Setelah bertemu dengan gadis berisik itu, Azzima merasa kepalanya butuh air dingin.
Beberapa menit berjalan, Azzima keluar dari toilet dengan handuk putih melingkar di pinggang hingga betisnya. Pria itu membuka lemari pakaian, dan mencari baju kaus santai untuk menikmati malam yang damai.
Waktu tak berhenti, malam pun tiba dan semakin larut. Azzima tampak sedang bersantai di kursi panjang dengan buku di tangannya. Pria itu merasakan ketenangan sebelum akhirnya ponselnya berdering. Diliriknya layar ponsel yang terletak di meja kecil samping tempat duduknya, tampak jelas di jendela apung ponselnya, seseorang mengirimnya pesan.
"Hei, kau sudah tidur? Bisa telepon aku?"
Sebuah pesan dari seseorang yang namanya tertulis jelas, Bianca.
Azzima menegakkan tubuhnya yang semula bersandar, lalu menghela napas singkat. Pria itu meraih ponselnya, dan hendak membalas pesan itu. Namun, belum sempat dia mengetik pesan, sebuah panggilan lebih dulu masuk ke ponselnya.
Reyna is calling…
Azzima menarik sudut bibirnya, tersenyum, dan hendak mencibir pada adiknya yang kini meneleponnya. Segera dia menjawab panggilan itu, dan tanpa sadar, pesan Bianca sudah dia baca tapi belum dibalasnya.
Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga. "Bukan kah sudah kubilang, kau akan merindukan kakakmu ini," ucap Azzima.
Sementara itu, di seberang sana, Reyna memajukan bibirnya cemberut. Sebenarnya dia menelepon bukan karena rindu, tapi karena sesuatu yang dia perlukan dari pria itu.
"Aku tidak merindukan Kakak, sama sekali tidak," jawab Reyna. "Hanya saja ... aku sedang kecewa."
"Kecewa?" Azzima menaikkan satu alisnya.
Pria itu mendengar suara embusan napas adiknya, dan itu sungguh terdengar seperti kekecewaan yang hakiki.
"Apa kau sudah bertemu dengan Bianca di sana?" tanya Reyna.
"Bianca? Di sini?" tanya Azzima, dirinya bahkan belum mengetahui tentang hal itu.
"Kau tidak tahu? Bianca pergi ke ibukota setelah mengetahui kau mengajar di sana." Reyna memberitahu kakaknya itu.
Memang, Azzima dan Bianca sudah saling mengenal sejak masa kuliah. Siapa sangka jika gadis yang kini bekerja sama dengan agensi terkemuka di ibukota itu sudah menyukai Azzima sejak masa kuliah.
"Dari mana kau tau?" tanya Azzima.
"Aku … aku selalu mengetahui tentangnya. Bukan kah dia gadis yang pernah meminta kontakmu padaku, kau lupa?" jawab Reyna.
Azzima berdeham, mengingat tentang hal itu. "Memangnya dia bercerita padamu?" tanyanya.
"Em … ya, seperti itu lah," jawab Reyna sedikit berdusta.
Sebenarnya, Reyna mengetahui tentang hal itu bukan dari Bianca, melainkan dari Ryan. Yah, Ryan adalah orang yang sudah Reyna suka sejak dia duduk di bangku kuliah. Dia sering melihat Ryan kala itu. Namun, siapa sangka, jika ternyata Ryan berkata pada Reyna bahwa dia menyukai Bianca.
Sebelumnya, Reyna sempat senang sekali ketika Ryan menghampirinya di kampus ketika pria itu sedang meliput kegiatan untuk jurnalnya. Ryan merupakan seorang jurnalis, dan dia sering datang ke kampus untuk membuat siaran pers tentang kegiatan yang ada di sana.
Sempat pula Reyna khawatir dan malu jika Ryan menghampirinya sebab pria itu tahu kalau Reyna sering memperhatikannya. Namun nyatanya bukan seperti itu. Ryan justru banyak bertanya tentang kakaknya, Azzima. Kemudian, Reyna bertanya apa sebab Ryan menanyakan tentang kakaknya, dan jawabannya tentu sangat menyakitkan untuk Reyna.
______________
Jangan lupa follow writernya yah :* Kenapa nih jawabannya menyakitkan? Ada yg bisa nebak?