3.Kok Aku?

2288 Kata
Nina POV. “Gimana Nin, betah gak kerja bantu ayah di Twins hospital?” tanya tante Adis yang juga pemilik rumah sakit tempat aku bekerja dan pastinya salah satu bos besar ayahku yang jadi direktur Twins Hospital. “Betah tante, makasih udah kasih kesempatan aku kerja di sini. Jadi setelah lulus, aku bisa langsung praktek kerja” jawabku berusaha sesopan mungkin karena ada ayah dan om Radit suami tante Adis bersama kami. Tante Adis tersenyum menanggapi. Cantik banget tante Adis tuh. Solehah banget pula lagi dengan gamis syar’i yang dia pakai plus hijab panjang juga. Persis suaminya yang wajahnya kelihatan tenang dan ramah. “Cantik Nina tuh Rey. Semakin gadis semakin mirip Lila, bundanya” puji tante Adis sebelum melirik ayahku yang akhirnya tertawa menanggapi. Aku ikutan tertawa menanggapi lalu berhenti saat tante Adis menoleh padaku lagi. “Kamu udah punya pacar, sayang?” tanya tante Adis. “Pacar?” tanyaku mengulang. Tante Adis lalu mengangguk. “Nge….” “Mana ada, setiap hari sibuk pasien” celetuk ayah. Aku jadi tertawa. “Belum tentu Rey. Nina cantik gini. Masa iya gak ada bujang yang bersedia menjadikan Nina pacar?. Jangan remehkan putrimu sendiri” tegur tante Adis. Ayah yang tertawa lagi. “Kalo begitu, biar Nina yang jawab pertanyaan kamu” kata om Radit bersuara juga. Beralih lagi tante Adis menatapku. “Punya pacar tidak kamu?” tanya tante Adis lagi. Lalu aku menggeleng. “Serius tante?” ulangnya seperti tidak yakin. “Benaran tante. Kalo teman lelaki ada, hanya ya sekedar kenal. Waktuku habis dengan data kesehatan pasien. Dan aku suka. Aku mau seperti ayah, yang jadi dokter hebat” jawabku. Juga seperti papaku yang sudah tiada yang juga dokter syaraf hebat. Sayang papaku sudah meninggal lalu aku di adopsi oleh ayahku sekarang yang dulu teman akrab papaku. Mamaku juga sudah tidak ada, karena meninggal dalam kecelakaan mobil yang di supiri ayahku sekarang. Cerita yang panjang, nanti aku ceritakan detailnya. “See?. Gue gak ngada ngadakan?” komen ayah pada tante Adis. Mereka memang seakrab itu kok. Ayah sampai menikah dengan bundaku aja, atas campur tangan tante Adis yang juga teman masa kecil bundaku. Begitu juga kedua orang tua tante Adis dan kedua orang tua bundaku, juga berteman baik semenjak mereka SMA. Jadi sudah terbayang dong gimana hubungan kedekatan keluargaku dengan keluarga tante Adis yang juga pemilik rumah sakit di samping abang kandungnya tante Adis dan kedua orang tua tante Adis. Hanya memang urusan management rumah sakit sepenuhnya di urus tante Adis bersama ayahku sebagai direktur rumah sakit. “Kalo memang kamu belum punya pacar. Mau gak sama bujang tante?. Kamu udah kenalkan?. Aiden?” tanyanya setelah menanggapi komentar ayahku. Aku langsung meringis menatap tante Adis. Tapi tante Adis bertahan menatapku dan ekpresinya serius. “Tante serius. Bujang tante itu belum punya pacar. Malah sibuk kerja terus sampai lupa pulang ke rumah dan tinggal terpisah di aparteman di pusat kota” katanya lagi. Aku langsung menoleh ke arah ayahku dan om Radit yang bertahan menyimak obrolanku dengan tante Adis. “Aku bukan ga mau tante. Masalahnya bang Aiden bakalan suka gak sama aku?” jawabku mencari aman sebenarnya. Tante Adis lalu menghela nafas. “Kenalan dulu ya?. Maksud tante, kalian ketemu dulu gitu. Kan sudah lama tidak ketemu karena masing masing sibuk sekolah dan sekarang sibuk kerja. Jadi sekalipun sudah kenal sebelumnya, bisa jadi sudah lupa. Mau gak Nin??” jawab tante Adis. Aku menoleh dulu ke arah ayahku. Gimana pun aku anak perempuan. Kalo urusannya lelaki, tentu aku tidak mau di bilang tidak sopan. Apalagi di depan kedua orang tuanya. “Ya gak apa nak, kalo memang sekedar bertemu. Apa salahnya. Tante Adis bilangkan kalian sebelumnya sudah kenal, walaupun sudah lama sekali. Kalo nanti gimana gimana, ya tinggal cerita sama tante Adis atau ayah, atau bundamu. Tidak aka nada yang memaksamu nak” jawab ayah. Aku jadi menghela nafas menanggapi jawaban ayahku. “Mau ya sayang….ketemu aja. Bukan untuk kencan kok” kata tante Adis sampai terdengar seperti merayuku. Aku menghela nafas lagi sebelum akhirnya aku mengangguk. Gak enak untuk nolak, iya gak sih??. Tante Adis sudah baik sekali menerimaku bekerja di rumah sakit ini. Sudah baik juga pada ayahku selama ini. Dengan mempercayakan ayahku sebagai direktur rumah sakit selama ini. “Beneran?” tanya tante Adis mendadak ceria setelah sebelumnya terlihat memelas. Aku menangguk. “Iya tante, ketemu ajakan?. Tapi jangan aku yang mulai duluan ya?. Aku malu, kan aku perempuan” jawabku. Tertawalah tante Adis lalu sontak memelukku sampai aku ikutan tertawa. “Mau juga Rey, anak perawan elo ketemu bujang gue. Nanti tante suruh Aiden yang telpon kamu ya sayang. Tapi jangan di tolak ya kalo bujang tante ajak kamu ketemu” katanya dan masih bertahan memelukku walaupun renggang. Aku mengangguk. “Ya udah, ayo Yang kita pulang. Nanti takut Nina berubah pikiran. Aku juga mesti cari anak kita. Heran kerja terus aja, sampai lupa kalo dia manusia dan bukan robot” ajak tante Adis lalu bangkit berdiri sampai ayah dan om Radit ikutan berdiri. Lucu sih lihat antusias tante Adis menanggapi kesediaanku bertemu putranya. Padahal siapa sih aku??. Astaga… “Ayo deh sekalian gue juga mau balik. Udah selesai jam kerja gue sama anak gue. Waktunya pulang, sebelum Lila ngamuk karena di tinggal terus di rumah sendirian” ajak ayah. “Ayo kalo gitu” ajak om Radit. Beriringan dong kami menuju loby rumah sakit dengan aku yang ganti merangkul lengan ayahku karena tante Adis sibuk bicara pada om Radit suaminya di depan kami. “Pokoknya Aiden mesti pulang dan kamu mesti bantu aku rayu bujangmu yang keras kepala untuk pulang” katanya mengulang terus. Bagusnya punya suami macam om Radit yang sabar dan tetap kelihatan tenang menanggapi permintaan istrinya. Aku dan ayahku bagian tertawa menanggapi pada antusias tante Adis. “Rey, pokoknya gak ada ya acara elo gak setuju kalo ternyata Nina sama Aiden ngerasa cocok setelah ketemu. Kalo bisa buru buru deh di nikahin” kata tante Adis sebelum masuk mobil mewahnya di depan loby rumah sakit pada ayahku. Ayah tentu tertawa menanggapi. “Biar ketemu dulu dan jangan over ekspektasi Dis” jawab ayah. Langsung dong manyun menanggapi perkataan ayahku, dan buat aku tertawa. “Ini kode elo gak dukung Nina sama Aiden bukan sih?” protesnya seakan aku dan putranya sudah pasti cocok untuk jadi pasangan. “Yang…jangan gitu. Benar Rey. Anak sekarang bukan seperti zaman dulu yang bisa dengan gampang menuruti harapan orang tua. Jadi lebih baik doakan aja, semoga Nina dan Aiden bisa berteman dulu. Benar Rey, jangan over ekspektasi dulu” kata om Radit menengahi. “Kamu sih gitu” protesnya pada om Radit. Tertawalah om Radit dan ayahku. “Sayang, pokoknya usahakan ya suka sama bujang tante. Tante soalnya udah berharap sekali punya menantu dokter lagi. Bundamu juga gitu. Ya nak” kata tanta Adis padaku. Aku mengangguk saja. “Iya tante, nanti kita lihat ya” jawabku masih mencari aman. “Okey…tante pulang dulu ya” pamitnya menyerah juga akhirnya. Ya sudah, aku buru buru mencium tangannya dan om Radit juga. Ayah tentu berangkulan dengan om Radit setelah tante Adis masuk mobil. Lalu kami bertahan dulu sampai tante Adis dan om Radit berlalu dari hadapan kami. “Ayo pulang sayang!!. Supaya keburu magrib di rumah, lalu sempatkan istirahat, sambil berjaga kalo ada panggilan urgent dari rumah sakit” ajak ayah. Aku mengangguk dan menurut masuk mobil lalu duduk di samping ayah karena ada supir yang akan akan membawa kami pulang ke rumah. “Bawa santai permintaan tante Adis, jangan kamu jadikan beban nak” kata ayah bersuara di tengah kemacetan jalan menuju rumah kami yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ayah ada rumah lain, tapi karena ayah sering tiba tiba harus ke rumah sakit, jadi bertahan di rumah lama kami semenjak ayah menikah dengan bunda. Hanya ada aku dan ayah juga bunda di rumah. Tiga adik lelakiku tinggal di tempat lain. Dua di antaranya sedang pendidikan jadi tentara seperti eyang kung yang mantan tentara. Sementara si bungsu memilih jadi dokter dan kos dekat kampus kedokteran almamater ayah dan aku juga. Nanti aku cerita lebih lanjut. Aku tertarik menanggapi perkataan ayahku. “Tante Adis tuh berniat jodohkan aku dengan putranya bukan sih yah?” tanyaku memastikan. Ayah langsung menghela nafas lalu berujung mengangguk. “Sebenarnya sudah lama bicara soal ini pada ayah. Dan bunda tentu mendukung mengingat bunda dan tante Adis teman sejak kecil. Kalo ayah ya biasa saja menanggapi seperti om Radit. Bukan tidak mendukung atau tidak setuju dengan perjodohanmu dan Aiden tentunya, tapi karena ayah tidak mau memaksa kehendak ayah padamu sayang” jawab ayah lalu menoleh sekilas padaku. Aku tersenyum menanggapi perkataan ayah sebelum ayah menatap ke depan lagi. “Aiden baik, sudah pasti itu. Dan ayah yakin, karena didikan tante Adis dan om Radit tentunya. Dari keluarga baik baik juga. Ayah juga tidak bisa mengabaikan begitu saja dukungan dan kepercayaan tante Adis sekeluarga pada karier dan pekerjaan ayah seperti kita sama sama tau. Tapi kalo urusan perjodohan tentu tidak bisa di paksakan nak. Jadi sekali lagi tanggapi permintaan tante Adis dengan santai dan natural aja. Kalo kamu memang bersedia bertemu dengan Aiden nanti, cukup berperilaku dengan sopan” kata ayah lagi. Aku mengangguk setuju. “Sekalipun misalkan kamu tidak suka, ya bicarakan dengan Aiden dengan baik baik….” “Kalo ternyata aku suka?” gurauku sambil tertawa. Ayah ikutan tertawa. “Artinya kamu berhasil memenuhi harapan tante Adis dan bundamu. Sesederhana itu” jawab ayah waktu menoleh lagi ke arahku. Aku ya ikutan tertawa. “Yah, tante Adis kenapa pilih aku sih?” tanyaku setelah tawa kami reda. “Kok kamu tanya itu?” tanya ayah. Aku mengangkat bahuku. “Apa ini kode kalo putri ayah mendadak tidak percaya diri karena di minta jadi calon menantu keluarga konglomerat sekelas Sumarin?” tanya ayah lagi. Aku sontak tertawa. “Ayah serius nak” jeda ayah pada tawaku. Aku tentu langsung diam. “Ya aku kaget aja tiba tiba tante Adis bilang hal seperti tadi ke aku” jawabku agak gelagapan. Ayah langsung menghela nafas menanggapi lalu menggenggam salah satu jemari tanganku sampai aku focus menatap tatapan ayah. “Kamu putri ayah dan bunda. Apa pun akan ayah dan bunda lakukan untukmu sayang. Jangan kamu tidak percaya diri setelah kamu selalu buat ayah dan bunda bangga karena memiliki kamu sebagai putri kami” kata ayah. Aku langsung tersenyum menanggapi lalu balas remasan tangan ayah pada jemari tanganku. “Okey?. Tegakkan bahumu, angkat wajahmu. Kamu putri Reynaldi Omar Syarif dan putri Kalila Tanjung Syarief, sekalipun nama belakangmu berbeda. Tapi semua orang mengenalmu sebagai putri ayah dan bunda. Kamu cantik, pintar, penurut, solehah. Jadi kalo pun tante Adis tidak memilihmu untuk jadi calon menantu dan istri putranya kelak. Akan ada orang lain dari keluarga terhormat lain yang akan minta itu padamu atau pada ayah dan bunda. Please…jangan kamu tidak percaya diri” kata ayah lagi lalu mencium jemari tanganku yang dia genggam. “Melted…” rengekku dan buat ayah tertawa. Tentu aku tertawa juga dengan perasaan happy karena aku rasakan benar kasih sayang ayah dan bunda angkatku. “Everything for you, dear…” desis ayah lalu mencium pipiku. Kata kata yang sama yang selalu eyang kung bilang ke bunda, atau padaku. Dan ayah selalu tiru. Dan selalu berhasil buat aku tenang. “Sayang ayah…” rengekku lalu memeluk lengan ayah setelah mencium pipinya. Keceh banget ayahku tuh walaupun sudah menua. Wajahnya selalu kelihatan bersinar sekalipun dia selalu kelihatan lelah dengan segala rutinitasnya di rumah sakit. Entah berapa banyak orang yang ayah tolong dengan tangannya sendiri atau kuasanya sebagai direktur rumah sakit dan seorang dokter. Entah berapa banyak juga calon dokter yang akhirnya jadi dokter di bawah bimbingan ayah, dan salah satunya aku, lalu nanti akan menyusul adik lelaki bungsuku. “Nak…jodoh itu cerminan diri kita sendiri. Ayah berjodoh dengan bunda, yang memang suka menolong banyak orang. Entah apa yang membuatmu berjodoh dengan lelaki mana pun yang di kirim Tuhan. Nanti kamu akan tau semua kebenaran itu sendiri seiring berjalannya waktu. Bisa jadi Aiden yang di kenali orang tuanya sebagai pekerja keras, lalu kamu juga pekerja keras. Bisa jadi karena Aiden juga konsen di bidang olah raga yang berujung kesehatan, dan kamu nyatanya tenaga medis atau kesehatan. Who know?. Akal manusia kadang tidak bisa menjangkau apa yang sudah di atur Tuhan lewat takdir kehidupan. Cukup kamu berdoa, dan berusaha menjalani hidupmu sebaik mungkin. Okey?” kata ayah lagi sebelum menutup pembicaraan kami karena sudah masuk komplek perumahan kami. Ya aku lakukan saran ayah. Aku selalu berdoa dan berusaha sebaik mungkin menjalani hidupku. Walaupun kadang aku keras kepala dan buat ayah dan bunda pusing dengan keinginanku. Bagusnya semakin aku dewasa, semakin aku bisa meredam dan berusaha mengerti, kalo setiap keinginanku tidak selalu terkabul. Tapi kalo urusan jodoh, atau calon suamiku di masa depan, tentu harus sesuai harapanku. Berlebihan gak sih kalo aku ingin punya suami seperti ayahku?, karena kalo aku berharap punya suami seperti papa kandungku, rasanya tidak mungkin, karena papa sudah tidak ada. Lalu timbul pertanyaan, apa mungkin sosok Aiden bisa seperti ayahku??. Kok rasanya tidak deh. Kalo aku ingat ingat gimana aku mengenal sosok Aiden semasa kecil, rasanya tidak mungkin. Aku soalnya ingat betul, kalo Aiden itu, satu satunya cucu dari keluarga Sumarin yang tidak banyak bicara. Diam sekali sampai aku pikir dia autis. Andai aku tidak lihat gimana dia dulu berinterasi dengan adik perempuannya yang juga kakak kelasku semasa SMP, atau bicara dengan tante Adis, pasti aku akan tetap berpikir dia autis. Atau malah bisu?. Terus apa mungkin bisa seperti ayah yang berkepribadian hangat, perhatian, kalo dia jarang bicara??. Apa tuan muda semua seperti itu ya?. Tapi abangnya, malah bawel sekali dan gampang emosian?. Deg degan bagian ini aja sih soal Aiden tuh. Eh abang deh, kan dia lebih tua. Kalo sekarang aku 24 tahun, artinya dia hampir 30 tahun. Hadeh….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN