1.Setor Muka

2395 Kata
Aiden POV. Mama lagi aja. Sudah semenjak seminggu ini, rasanya mama semakin intens menelponku. Sebelumnya memang sering juga menelponku, setidaknya setiap hari untuk menanyakan kabarku yang memang tidak tinggal serumah dengan mama papaku. Tapi seminggu ini, mama menelponku tidak hanya sekedar menanyai kabarku saja. Tapi sekaligus menyuruhku pulang ke rumah. Ya kali aku tidak punya pekerjaan?, dan kenyataannya kami tetap tinggal satu kota. Masih sama sama tinggal di Jakarta. Hanya bedanya mama papaku tinggal di pinggir kota Jakarta dan aku tinggal di sebuah apartemant di pusat kota. Bukan juga aku menolak tinggal dengan kedua orang tuaku. Aku hanya ingin lebih cepat bisa sampai ke kantor atau lokasi pekerjaanku. “Akhirnya kamu angkat juga telpon mama sayang. Asalamualaikum” sambut mama saat panggilannya aku jawab. “Walaikumsalam” jawabku dan masih focus dengan berkas kerja yang aku pegang. “Kapan pulang nak. Mama masa mesti mohon sama anak sendiri hanya untuk pulang ke rumah mama?” langsung to the point dong. “Ya aku pulang hanya belum tau kapan bisanya mah” jawabku. “Weekend pulang ya nak. Mama tunggu. Eyang juga berharap ketemu kamu. Kasihan sayang, mereka sudah lebih tua dari mama. Masa kamu tega biarin eyang kung dan eyang uti ribut kangen kamu terus, dan kamu malah anteng kerja terus” kata mama lagi. Menghela nafaslah aku lalu melepas berkas yang aku pegang. “Memangnya mama gak tengok cucu cucu mama?. Apa mama gak di datangin cucu mama?” tanyaku. “Ben sedang di luar kota, jadi mana mungkin Puput ke rumah mama dengan si kembar tanpa suaminya. Trus anak anak abangmu, kemarin dari rumah sakit untuk periksa gigi mereka, jadi mama udah ketemu mereka bertiga juga dengan Bella juga” jelas mama pada keluarga kecil adik bungsuku dan abang tertuaku. Aku jadi diam. “Ayo dong sayang….kangen mama sama kamu” rengek mama. “Iya udah, nanti sabtu aku pulang. Tapi jangan ganggu aku dengan telpon mama dulu, supaya aku focus pada pekerjaanku, supaya cepat selesai” jawabku. Bersoraklah mamaku dan buat aku tertawa. “Mama tunggu ya sayang, love you” pamit mama lalu mengucapkan salam. Kasihan sebenarnya dengan mamaku yang memang perhatian sekali pada ketiga anaknya. Tapi ya mau gimana?. Aku terlanjur menikmati sekali kehidupanku sekarang yang cenderung lebih banyak sendiri dan sibuk dengan pekerjaanku. Soalnya semenjak aku masih kuliah, memang sedikit demi sedikit aku sudah mengambil alih bisnis sport center yang papaku rintis semenjak menikah dengan mamaku yang putri bungsu dan satu satunya konglomeret ternama Prasetya Sumarin. Itu nama eyang kungku dan alhamdulilah masih sehat sampai hari ini di usianya yang hampir mencapai 90 tahun, begitu juga eyang utiku, Inge Sumarin. “Lelaki itu akan di hargai bukan karena dia banyak uang atau punya wajah tampan. Tapi di hargai karena mau bekerja keras dan punya sikap tanggung jawab. Lihat papa yang bukan siapa siapa, tapi semua keluarga mamamu sampai eyang buyut waktu masih ada, selalu menghargai papa. Bukan karena papa ganteng seperti yang mamamu selalu bilang atau karena mamamu sayang sekali pada papa. Tapi karena papa bersedia bekerja keras dan berusaha selalu bertanggung jawab pada apa pun yang di percayakan pada papa” kata papa selalu padaku atau abang lelakiku. Kalo di banding keluarga mama, memang keluarga papa hanya keluarga biasa saja, karena eyangku dari pihak papa hanya pensiunan perwira menengah angkatan udara yang meninggal saat bertugas. Dan papa hanya punya satu abang lelaki yang akhirnya jadi petinggi di angkatan udara dengan pangkat Marsekal. Tapi ya memang semua keluarga mama sangat menghargai papa yang akhirnya berhasil memimpin perusahaan yang di rintis eyang kung dan eyang buyut semenjak dulu. Ada satu satunya abang lelaki mamaku, malah memilih merintis usaha sendiri walaupun dalam bidang yang sama dan akhirnya sukses jadi pengusaha besar juga. Jadi bukan main main kontribusi papaku di perusahaan kontruksi bangunan sebesar SUMARIN GROUP kalo di tangan papa perusahaan itu bertahan dan tetap eksis sampai akhirnya di estafetkan pada abang lelakiku yang sekarang memimpin perusahaan itu di bantu mertua lelaki dari adik perempuan bungsuku. “Papa percayakan usaha sport center papa di tanganmu setelah abangmu memilih minat dan bakatnya di bidang arsitektur. Silahkan kamu akan jadikan apa. Papa bebaskan, asal janji sama papa, harus kamu buat besar. Bukan semata mata papa berharap hasil materi dari sport center itu Aiden. Tapi kasihan kalo semua pekerja yang bekerja di sport center milik papa harus kehilangan pekerjaan. Itu saja” kata papa saat menyerahkan usaha sport centernya padaku setelah aku lulus kuliah. Dan karena memang sejak dulu minatku pada olah raga, jadi aku senang menerimanya. Aku bukan abangku yang suka menggambar gambar kontruksi bangunnan dan sering ikut papa saat bekerja di proyek. Aku lebih suka main basket, futsal sampai ngegym sejak dulu. Bukan mengejar body goal juga , kalo akhirnya aku suka bidang olah raga atau sport. Menurutku lingkungan olah raga itu yang paling positif di banding lingkungan atau komunitas apa pun. Kalo pun ada persaingan ya lebih ke persaingan gimana supaya terus sehat lewat jalan olah raga tadi. Sampai aku lupa mengenalkan diriku. Namaku Ragnala Aiden Sumarin Tedja. Usiaku 29 tahun tahun ini, dan aku putra kedua dari Raditya Tedja dan Gladis Gianti Sumarin Tedja. Itu nama mama dan papaku. Alhamdulilah aku terlahir dari keluarga berada atau malah kaya raya dari pihak mamaku seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Aku punya satu abang lelaki yang usainya berbeda 4 tahun dariku. Namanya Darrayan Noah Sumarin Tedja. Abangku sudah menikah dengan teman masa kecilnya Karra Bella Atmadja Tedja yang seorang dokter gigi. Mereka sudah punya tiga anak. Yang paling besar lelaki, Mahesa Sumarin Tedja dan dua lainnya perempuan dan kembar. Maula dan Mauli biasa di panggil Lala dan Lili. Lalu aku punya satu adik perempuan bernama Putri Elarnor Sumarin Tedja yang sudah menikah juga dengan teman masa kecilnya Benjamin Rachiem yang sekarang bekerja membantu abangku di perusahaan milik keluarga mamaku, berikut babehnya yang masih menjabat sebagai CEO perusahaan menggantikan papaku yang sempat mengalami kecelakaan parah di Amerika beberapa tahun lalu. Bisa di bilang, aku ini turunan keluarga Sumarin yang tidak begitu di kenal banyak orang. Ya bukan berarti aku di anak tirikan oleh kedua orang tuaku atau keluarga besarku. Semua terjadi bisa jadi karena memang aku tidak punya karakter yang menonjol seperti kedua saudaraku yang lain. Bang Noah itu terkenal sekali emosian dan Puput adikku terkenal sekali manja. Tinggal aku di tengah tengah mereka berdua, dan aku cenderung seperti papaku yang memang lebih suka jadi bagian yang mengawasi. Bukan aku rendah diri juga, kalo akhirnya aku lebih suka sembunyi di balik layar seperti papaku. Aku sama kecehnya dengan kedua saudaraku yang bertampang bule karena mama keturunan bule Belanda. Semua hanya soal karakter dan sifatku aja. Lalu hal lain yang buat aku terkesan tidak di kenal banyak orang sebagai anak atau cucu keluarga kaya raya sekelas Sumarin, ya karena umurku. Umurku berada di tengah tengah umur dari anak anak dari circle pergaulan keluargaku. Mau gabung ke atas, aku segan karena pastinya lebih cocok bermain dan bergabung dengan bang Noah abangku. Mau aku bergabung ke bawah, ya tidak cocok juga dan lebih cocok bergaul dengan Puput adikku. Yakan kalo beda umurnya setahun dua tahun mungkin masih enak. Kalo beda umurnya sudah lebih dari dua tahun, tentu tidak enak lagi. Itu yang akhirnya buat aku mundur dan lebih suka sibuk dengan bola basket atau olah raga lain. Kalo pun akhirnya aku punya teman, ya hanya Keanu yang juga anak dari kenalan keluargaku. Malah Keanu itu putra dari lelaki yang dulunya sempat jadi gebetan mamaku semasa remaja. Panjang deh ceritanya. Tapi ya karena hubungan orang tua Keanu dan mama papaku baik baik saja, ya aku jadi baik baik saja bergaul dengan Keanu. “Gue setuju temanan sama elo, tapi awas kalo elo punya niat ikutin jejak babeh elo dulu yang gebet mama gue karena temanan sama om gue ya semasa SMA. Awas aja elo begitu. Ade gue masih bocah, biar dia main sama teman temannya dan jangan elo ganggu” ancamku semasa SMA dan mulai dekat main dengan Keanu sementara adikku baru lulus SD waktu itu. “Tapi lucu ade elo bang. Masa iya gue gak boleh ngefans sama ade elo” jawabnya menyebalkan. “Gak usah ke rumah gue dah lo. Nanti ribetin gue kalo ade gue baper” omelku. Bagusnya Keanu memang tidak pernah berniat macam macam. Paling ledek Puput dalam batas wajar. Puput adikku juga terlalu sibuk dengan ketiga teman lelakinya waktu itu dan sekarang malah salah satunya jadi jodoh Puput. Ya Benjamin tadi. Dan sampai sekarang masih hanya Keanu yang jadi temanku satu satunya. Baik teman di lingkungan kerja atau personal antara kami berdua. Keanu punya pacar sekalipun, ya tetap nongkrong bareng aku, kadang hanya berdua atau bertiga dengan pacarnya di sela kesibukan kerja kami. Sejak dulu aku tertarik mengelola usaha sport center papaku, memang hanya Keanu yang bersedia ikut bantu. Terlepas karena pekerjaannya di bidang EO atau WO milik papanya juga, memang seasyik itu kok Keanu dan professional kalo urusan bidang pekerjaannya. Jadi dia sering aku libatkan tiap kali ada event acara apa pun di sport center yang aku kelola. Entah pertandingan basket, futsal dengan melibatkan berbagai kalangan karena memang teman teman Keanu banyak sekali dan dari semua lapisan. Memang Keanu tau benar potensi dan kemampuannya di bidang yang dia sukai. Mamaku bilang persis papanya yang gampang akrab dan berbaur dengan siapa aja. “Elo di suruh pulang sama nyokap elo. Ya apa susahnya pulang doang. Kangen kali. Heran gue sama elo. Kok ya males banget pulang ke rumah. Gue aja sekalipun mampu tinggal di aparteman, tetap lebih betah tinggal di rumah sama nyokap gue. Bodo amat bokap gue mah. Lah nyokap Nyong!!. Saat semua orang gak perduli sama elo, nyokap tuh satu satunya orang yang akan selalu perduli sama elo” omel Keanu saat aku mengeluh soal mamaku. Memang dia tidak tinggal di aparteman sepertiku dan terpisah dari orang tuanya. Aku salut sih bagian ini. Tapi bisa jadi karena jam kerjanya tidak sepertiku yang terjadwal karena office. Kalo bidang EO dan WO pasti lebih flexsibel tergantung saat ada job dari klien doang. Tapi sekalinya ada running acara, jangan harap bisa jeda Keanu. Tunangannya aja mesti ngalah bagian ini sampai Keanu selesai dengan pekerjaannya. Udah tunangan dia, memangnya aku. Pacar aja aku gak punya. Bukan tidak ada yang mau jadi pacarku. Waktunya gak ada untuk aku sekedar melakukan pendekatan apalagi sampai pacaran. Aku terlalu sibuk urus pekerjaan. Apalagi kalo aku berhasil buka cabang baru sport center di luar kota. Bisa berminggu minggu aku di luar kota lokasi cabang sport center, sampai aku yakin bisa di tinggal dan aku kendalikan dari kantor pusat di Jakarta. “Mumpung orang tua masih ada bro. Terutama orang tua perempuan. Kalo udah gak ada, baru elo tau rasa” tambah Keanu dan aku toyor kepalanya. “Elo doain nyokap gue meninggal?” omelku. “Ya masih ada juga nyokap elo jadi kaya percuma, kalo elo di minta pulang aja, elo kayanya males banget. Padahal elo tinggal nyetir dari apartemant elo ke Cinere. Dekat kali gak sampai sejam apa dua jam” jawab Keanu. Benar lagi aja nih mulut temanku. “Minimal setor mukalah kaya kakak gue dulu pas tinggal di aparteman juga kaya elo. Nginep sehari di rumah nyokap elo kaya kakak gue kalo mulai cape sama rutinitas kerja. Pasti elo di manja dan di perlakuin kaya raja. Kakak gue soalnya dulu juga gitu kalo pas pulang ke rumah. Nyokap gue pasti biarin tidur sampai bangun sendiri terus mager mageran. Lah dari pada elo di aparteman yang mau ngapain aja mesti elo lakuin sendiri. Mending ngaso di rumah emak elokan??” kata Keanu lagi. Menyerahlah aku. “Iya udah gue tar jumat malam gue pulang. Awas cari gue, ngajak dugem” ancamku. Malah tertawa. “Bisa kapan kapan itu mah. Dugem doang” jawabnya. Ya sudah, pulanglah aku jumat malam ke rumah mamaku. Dan sambutan mama memang selalu luar biasa sih. Kalo perlu mungkin akan di bentangkan karpet merah saat aku telpon sedang on the ways ke rumah mamaku. “Bujang mama…akhirnya pulang kandang. Kangen banget mama sama kamu sayang….” sambut mama lalu sibuk menciumi wajahku yang tertawa karena ada papa yang duduk mengawasi kami. “Papa gak sayang sayang mama ya?” ledekku pada papa. Papa sontak tertawa. “Terlalu kangen ke bujangnya. Kamu sih seperti lupa arah jalan pulang. Sudah dua bulan tidak pulang” jawab papa. Aku langsung menghela nafas dan mengeratkan rangkulan tanganku di bahu mama karena mama bertahan memeluk pinggangku. “Nginep ya sayang. Mama kangen banget sama kamu” kata mama saat mengadah menatapku. Aku langsung mengangguk. Lemah aku pada tatapan kedua bola mata mama yang berwarna hijau berkilauan. Aku rasa itu yang buat kedua abang lelaki mama selalu lemah juga pada setiap keinginan mamaku. Sepasang mata manusia memang selalu sanggup bercerita banyak lebih dari sebuah tatapan. “Makan ya nak, apa mau mandi dulu. Kamu kelihatan cape dan kurus sekali. Kamu gak makan makan ya?” kata mama lagi dan mulailah mama sibuk teriak teriak pada pembantu untuk menyiapkan makan malam untukku sekalipun mama dan papa sudah makan. Ampun banget mama tuh. Sampai papa ngomel karena pusing dengar teriakan perintah mama pada pembantu rumah. “Kamu gimana, anakku pulang loh. Masa aku biarin aja anakku kelaperan dan kurus begitu. Kamu diam aja. Kamukan udah aku urusin tiap hari dan aku sayang sayang” malah mama ngomel pada papa. Dan sudah waktunya aku pamit masuk kamarku yang selalu di bersihkan dan seperti saat aku tinggalkan. Beneran kangen rumah mamaku kalo akhirnya aku pulas tidur sampai jauh siang besok harinya lalu bangun sendiri tanpa di ganggu. “Hai schazt….sini uti cium!!. Uti udah bilang sayang belum hari ini sama kamu?” sambut uti saat aku bangun tidur dan menemukan uti juga eyang kung di ruang tengah rumah mamaku. Masih aku tertawa lalu mendekat untuk menanggapi pelukan dan ciuman uti karena mama duduk manis dengan papaku. Ada eyang kung juga di sebelah uti sampai menyingkir memberikan ruang aku duduk dekat uti. “Ayah Nino dan bunda Noni, sama papa Eno dan mama Zia gak mama undang juga?” ledekku karena memang suka kumpul kumpul semenjak acara arisan keluarga sudah tidak ada lagi karena kesibukan masing masing anggota keluarga. “ASALAMUALAIKUM!!!” Dan kumpullah tetua keluargaku dari dua keluarga besar mama. Keluarga Sumarin dan keluarga Isman. Harusnya aku sadar, kalo ada hal penting yang akan mereka sampaikan padaku kalo sudah komplit berkumpul seperti ini, sampai aku tidak di izinkan kemana mana lagi selain mendengarkan apa yang akan mama sampaikan. Mandi aja gak boleh. Ampun deh….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN