Melihat Nessa tersenyum kearahnya Revan semakin yakin kalau ia pernah melihat gadis itu. Tapi dimana dan kapan? Revan sendiri lupa.
"Kamu mau kemana? Biar aku bantu." ucap Nessa saat melihat Revan yang tiba-tiba saja ingin berdiri namun sedikit kesulitan.
"Terima kasih, s-saya mau ke belakang," jawab Revan dengan sedikit gugup karena Nessa kini berada tepat di depannya dan memegang lengan tangannya.
"Ayo, aku bantu." Nessa mulai membantu Revan berjalan ke dalam rumahnya menuju ke kamar mandi.
Dapat Revan rasakan kalau Nessa sangat tulus membantu dirinya saat ini, walaupun tidak kenal tapi dia sepertinya gadis yang baik.
Saat berjalan kini Revan terus menatap Nessa dan mengingat sesuatu, gadis itu mirip sekali dengan seseorang yang Revan kenal. Ya ibu kandung Revan yang meninggal saat menjemput Revan kecil pulang sekolah. Wajah gadis itu sangat mirip dengan ibunya Revan yang sangat Revan rindukan sejak dulu. Kehangatannya, kasih sayangnya dan pintar memasak itulah yang membuat Revan seperti pernah melihat Nessa.
"Ini kamar mandinya," suara Nessa menyadarkan Revan dari lamunan.
"I-iya." jawab Revan gugup. Kini Revan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Nessa kini menunggu Revan di depan.
Didalam kamar mandi Revan tersenyum sendiri saat mereka ingat perlakuan gadis itu padanya. "Baik sekali dia," ucap Revan lirih.
Revan ingat sekali dulu saat Revan sakit Adellia sebagai kekasihnya hanya menunggu dirinya sambil main ponsel, sedangkan yang membantu keperluan Revan adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya, berbeda sekali dengan perlakuan Nessa saat ini.
Suara gemercik air kini membasahi wajah tampan Revan. Tak lama kini Revan keluar dari kamar mandi. Alangkah kagetnya laki-laki itu saat melihat Nessa masih menunggu dirinya di depan kamar mandi.
Untuk sejenak pandangan mata mereka saling bertemu. Revan sedikit gugup saat melihat mata gadis cantik yang sangat mirip dengan ibunya.
"Kamu sudah selesai? Sini aku bantu," tanpa segan Nessa memegang lengan Revan dan membantu laki-laki itu keluar dari kamar mandi.
"Maaf merepotkan," ucap Revan saat Nessa membantu dirinya.
"Tidak apa-apa, kita harus saling tolong menolong," jawab Nessa sambil tersenyum.
"I-iya."
Mereka berdua kini sudah sampai di ruang tamu, Nessa membantu Revan duduk di kursi panjang, setelah itu kini Nessa duduk di kursi yang ada di samping Revan.
"Rumah kamu dimana?" tanya Nessa.
"Rumah?" Revan terkejut saat Nessa bertanya tentang rumah padanya, bahkan Revan sendiri tidak tahu sekarang dirinya ada dimana, yang ia tahu kemarin ia pergi tanpa tujuan dan hanya mengikuti kemana langkah kakinya pergi.
"Iya rumah kamu dimana? Biar saya antar kamu pulang, pasti keluargamu bingung mencarimu,"
"S-saya tidak tahu dimana rumah saya," jawab Revan mengalihkan pandangannya kesamping.
Laki-laki muda itu masih tidak ingin pulang ke rumahnya, ia masih merasa sakit hati saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya pada malam itu.
Malam yang sangat Revan benci kini mulai teringat kembali saat Nessa menanyakan rumahnya. Tangan Revan mengepal dan gigi laki-laki itu mulai mengerat.
"Kamu kenapa? Kalau kamu tidak ingat dimana alamat rumah mu jangan di paksa ya." suara Nessa menyadarkan Revan dari ingatan malam terkutuk itu.
"Em ... I-iya." jawab Revan singkat. Laki-laki itu mulai menatap Nessa yang tersenyum kearahnya.
*****
Di dalam kantor. Tuan Ardani masih sibuk dengan pekerjaan kantornya. Pria dewasa itu sedang menatap serius layar laptop yang ada di depannya.
Tatapan mata yang kecewa kini terlihat jelas dari raut wajah pria itu.
Sesekali Tuan Ardani mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
Tok Tok Tok!
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Masuk!" ucap Tuan Ardani saat mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu.
Ceklek!
"Bagaimana Roy!" seru Tuan Ardani saat melihat Roy masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat siang Bos," sapa Roy dengan sopan.
"Siang Roy, bagaimana apa Revan sudah ketemu?" tanya Tuan Ardani pada Roy yang baru saja sampai di depannya.
"B-belum Bos, maaf Tuan muda belum ketemu." jawab Roy dengan hati- hati.
"Hah. Duduk Roy." Tangan Tuan Ardani mengisyaratkan agar Roy duduk.
"Iya Bos." Roy kini duduk di kursi yang ada di depan Tuan Ardani.
"Roy, kalau Revan tidak juga ketemu, perusahaan ini akan mengalami kebangkrutan yang serius Roy, Revan sebagai CEO di perusahaan ini malah pergi tanpa kejelasan, berita pertunangan Adellia dan Daniel juga sudah menyebar begitupun dengan berita kepergian Revan yang tidak jelas, para investor dan pemegang saham sekarang lebih memilih bergabung ke perusahaan keluarga Adellia karena mereka berpikir Revan tidak punya tanggung jawab dengan perusahaan ini."
Mendengar ucapan Tuan Ardani Roy hanya bisa diam dan menunduk.
"Roy, tolong segera temukan Revan." Tuan Ardani menatap Roy dengan tatapan memohon.
"Saya berjanji akan mencari Tuan muda dan segera menemukannya, Bos tenang saja, perusahaan ini pasti akan kembali membaik." ucap Roy memberi semangat pada Tuan Ardani.
"Sekarang apa rencana mu Roy?" tanya Tuan Ardani.
"Saya akan menyerahkan orang untuk mencari di setiap sudut kota dan pelosok untuk mencari Tuan muda Bos."
"Bagus, terima kasih Roy."
"Iya Bos, saya permisi melanjutkan pencarian. Selamat siang Bos." Roy pamit dan pergi meninggalkan ruang kerja Tuan Ardani.
Setelah Roy pergi, kini pria dewasa itu kembali menatap layar laptopnya dengan tahapan sedih. Perusahaan yang selama ini ia bangun akan hancur dalam beberapa bulan ini.
Kalau memang perusahaan ini akan hancur, hanya Revan lah harta satu-satunya yang Tuan Ardani miliki, anak yang akan menemani dirinya saat tua nanti.
*****
Adellia dan Daniel sedang duduk bersama di sebuah restoran. Saat ini memang jam istirahat, jadi mereka berdua pergi makan siang bersama.
Makanan kini sudah tersaji di atas meja yang ada di depan mereka.
"Niel, kenapa tidak mau makan sih, nanti kalau sakit gimana?" ucap Adellia dengan manja.
"Gue, males makan Del." jawab Daniel singkat.
"Jangan gitu dong sayang," Adellia mulai memegang tangan Daniel, namun segera di tepis oleh laki-laki muda itu.
"Sudahlah Del, apa lo lupa perjanjian kita sebelum bertunangan." Daniel bicara dengan nada tidak suka.
"Sorry Niel, aku hanya..." ucapan Adellia terhenti karena Daniel segera memotongnya.
"Sudahlah Del, gue capek mau pulang," Daniel mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menaruhnya ke atas meja untuk membayar makanan yang tadi mereka pesan.
Daniel pergi tanpa memperdulikan Adellia yang duduk didepannya.
Setelah kepergian Daniel, Adellia hanya bisa menatap punggung laki-laki itu. Daniel memang keras kepala sama seperti Revan, kedua sahabat itu sama-sama sifatnya.
Brak!
Adellia marah memukul meja yang ada didepannya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, ah." Adellia menutup wajah dengan keduanya tangannya.
Kecewa, marah, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
*****
Malam hari ini di kediaman keluarga Adellia. Kedua orang tua Adellia kini berada di dalam ruang kerja, mereka sedang tersenyum menatap layar laptop yang ada di depannya.
"Pa, benerkan kalau Adellia dan Daniel bertunangan perusahaan kita bisa mendapatkan keuntungan sebesar ini Pa," ucap Ibu Adellia pada suaminya.
"Bener Ma, dan gosip kepergian Revan juga menguntungkan kita." jawab Ayah Adellia sambil tersenyum.
"Iya Pa, semoga saja Revan lama perginya, biar perusahaan kita semakin banyak keuntungan," ucap Wanita dewasa itu sambil tersenyum bahagia.
"Iya, semoga saja Ma,"
Kini kedua orang dewasa itu tersenyum bahagia dengan kemajuan perusahaan miliknya, tanpa memperdulikan orang lain.
*****