Pagi dini hari Tuan Ardani masih Menunggu kabar anaknya. Pria dewasa itu duduk dengan gelisah karena ia masih terus menunggu kabar dari Roy di ruang kerjanya. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, namun Tuan Ardani masih juga belum bisa memejamkan matanya karena memikirkan Revan anak laki-laki satu- satunya yang ia miliki.
Setelah menunggu lama kini akhirnya terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerja Tuan Ardani.
Tok Tok Tok!
"Masuk!" Tuan Ardani masih menunggu Roy asisten pribadi keluarganya. Pria dewasa itu menyuruh Roy dan orang-orangnya mencari Revan anak laki-lakinya. Tuan Ardani tahu kalau Revan pasti akan sangat kecewa dengan semua ini, namun pria dewasa itu tidak bisa berbuat banyak untuk anaknya.
Ceklek!
Roy membuka pintu. Tuan Ardani dengan cepat melihat ke arah asistennya itu.
"Revan mana Roy?" tanya Tuan Ardani. Pria dewasa itu sangat tidak sabar lagi untuk mendengar kabar tentang anak laki-lakinya.
"M-maaf Bos, kami tidak menemukan tuan muda." Roy mulai melangkah masuk dengan sedikit takut saat mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi karena dirinya memang tidak bisa menemukan Revan.
"I-ini Bos." Roy memberikan semua barang- barang milik Revan yang ada di dalam mobil. Roy menaruh semua barang Revan di atas meja kerja Tuan Ardani.
"Ini, maksudnya apa Roy?" tanya Tuan Ardani, ia kini semakin bingung dengan apa yang di bawa oleh asisten pribadi keluarganya.
"I-itu barang- barang Tuan muda Bos, kami menemukan mobil itu di sisi stasiun kereta Bos," Roy berusaha menjelaskan pada Tuan Ardani. Roy sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ia belum bisa menemukan Revan malam ini.
"Stasiun kereta?" Tuan Ardani semakin bingung dengan apa yang di katakan Roy. Ia sangat tidak menyangka kalau Revan marah dan pergi begitu saja tanpa bicara pada ayahnya. Tuan Ardani punya alasan tersendiri kenapa ia tidak memberi tahu Revan tentang acara pertunangan Daniel dan Adel, karena Tuan Ardani lebih tahu keluarga Adel dari pada Revan.
Tuan Ardani kini mulai melihat semua barang- barang anaknya, ia melihat semua kartu dan juga ponsel milik Revan. Pria dewasa itu mulai mengambil ponselnya dan melihatnya dengan mata yang sedikit berkaca- kaca.
"Kamu harus tetap cari Revan sampai ketemu." ucap Tuan Ardani memberi perintah pada Roy.
"Siap bos."
Kemudian Roy pamit pergi keluar dari ruangan itu untuk kembali mencari dimana Revan berada.
Setelah Roy keluar kini Tuan Ardani mulai melihat- lihat barang milik Revan, ia mulai membuka ponsel Revan, didalam sana Tuan Ardani melihat semuanya tentang Revan. Tuan Ardani melihat kalau Revan sangat mencintai Adellia dan berniat untuk melamar kekasihnya, namun kenyataannya semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Adellia bertunangan dengan Daniel sahabatnya saat Revan bertugas di Luar Negeri, mereka sengaja memilih tanggal itu karena tahu Revan tidak ada di Indonesia, namun kenyataannya tugas Revan selesai lebih awal dari rencana, Revan bisa menyelesaikan masalah dengan waktu yang sangat cepat.
"Pantas saja kamu semarah ini Revan, Papa tahu kamu sangat mencintainya, tapi ini lebih baik untukmu." Tuan Ardani kini mengambil semua barang milik Revan, pria dewasa itu menaruh semuanya di dalam laci meja kerjanya.
Tuan Ardani hanya bisa berharap semoga Revan cepat pulang ke rumah. Ia merasa sangat bersalah pada anaknya karena ia tidak memberitahunya tentang acara pertunangan Adel dan Daniel.
Pria dewasa itu kini duduk memandangi foto dirinya dan anak laki-lakinya yang terpasang di dinding ruang kerjanya, mereka berdua kelihatan sangat tampan memakai jas berwarna hitam dan tersenyum bahagia. Tuan Ardani kini merindukan saat- saat mereka berdua tidak sesibuk sekarang, dulu saat perusahaan miliknya sukses ia dan Revan sangat kompak dalam berpikir, namun entah kenapa setelah Revan pacaran sama Adellia semuanya mulai berubah, anak laki-lakinya mulai sering pergi dengan Adellia.
Sekarang semua keadaan berbalik, perusahaan milik Tuan Ardani sering mengalami banyak masalah akhir- akhir ini. Pria dewasa itu hanya bisa pasrah dengan perusahaan yang ia miliki saat ini, namun ia tidak bisa diam saja saat Revan anaknya pergi, ia akan tetap mencari di mana Revan berada, karena Revan adalah harta satu- satunya yang ia miliki.
*****
Hembusan angin terasa sangat dingin, namun tak menurutkan langkah kaki Revan.
Laki-laki muda itu terus saja melangkah tanpa tujuan yang pasti, Revan melangkah dan terus melangkah mengikuti jalanan yang sepi hanya cahaya lampu jalan yang menemani dirinya saat ini.
Revan benar- benar tak punya tujuan hidup saat ini, ia sangat marah dan benci dengan kehidupannya saat ini, yang ada di pikiran Revan hanya ingin pergi jauh dari kehidupannya dan mencari ketenangan.
"Argh!" Revan mulai mengacak rambutnya dengan kedua tangannya, Revan masih terus saja berjalan tanpa henti. Hingga saat ia sampai di jalanan yang sangat sepi ada tiga orang dengan tubuh besar dan bertato di bagian lengan dan d**a. Ya mereka bertiga adalah preman yang sedang mabuk di tempat itu, saat melihat Revan lewat di depan mereka, preman itu langsung memberi kode pada kedua temannya untuk menghadang Revan.
Setelah mendapat kode dari temannya, mereka berdua langsung saja menganggukkan kepalanya ia segera berdiri dan berlari menyusul Revan yang tak jauh dari mereka.
Kedua preman itu langsung menghadang jalan Revan, mereka berdiri di depan Revan, namun tak di indahkan oleh laki-laki itu, Revan terus saja berjalan melewati dua preman yang ada di depannya dan tak menggubris mereka.
"Hei berhenti!" teriak salah satu preman itu saat Revan melewati mereka. Revan terus saja berjalan tanpa tujuan, pikiran laki-laki muda itu entah sedang kemana sekarang, hingga ia tak mendengar teriakan preman itu.
Revan terus berjalan namun dengan cepat kedua preman itu kembali menghadangnya, Revan berhenti saat kedua preman itu menghadangnya tepat di depannya saat ini.
"Mau kemana hah? Cepat berikan semua barang- barang mu, atau kamu mau mati!" preman itu mengancam Revan namun Revan tetap diam saja tak mengindahkan kedua preman itu.
Pereman itu kini menyuruh temannya untuk memeriksa saku yang ada di baju dan celana Revan, namun ia tidak menemukan apa- apa, hingga ia mulai memeriksa kantong depan celana Revan dan preman itu kini menemukan sebuah dompet berwarna coklat dan berisi beberapa lembar uang berwarna merah.
"Tampan dan kelihatan kaya, tapi uangnya cuma sedikit, payah." preman itu bergumam sendiri di saat membuka dompet milik Revan.
"Ayo cepat, mungkin dia tidak waras," ajak preman yang satunya.
Saat preman itu selesai mengambil uang Revan kini mereka mulai melangkah pergi meninggalkan laki-laki muda itu.
Revan mulai menyadari kalau kedua orang itu sudah mengambil uang miliknya, ia baru sadar kalau dompetnya mulai kosong dan tidak ada isinya.
"Hei kembalikan uangku!" teriak Revan pada kedua preman yang sudah berjalan beberapa langkah tak jauh darinya.
Kedua preman itu kini berhenti dan membalikkan tubuhnya kebelakang melihat Revan berjalan ke mereka.
"Kembalikan uangku!" Revan mengulurkan tangannya ke depan preman itu untuk meminta uangnya kembali.
"Uang, apa maksudmu?" preman itu marah pada Revan.
"Kau sudah mengambil uangku!" Revan tak mau kalah.
Buk!
Preman itu memberi satu pukulan ke kepala Revan, laki-laki itu nampak kesakitan. Revan tak mau kalah walaupun hati dan tubuhnya sakit karena penghianatan cintanya tapi ia berusaha untuk membalas preman- preman itu karena sudah mengambil uang miliknya.
Revan memukul dan menendang salah satu preman itu, ia terus berusaha membela dirinya sendiri walaupun Revan sedikit kewalahan karena dua preman itu terus menghajarnya habis- habisan, laki-laki muda itu kini lemah tak berdaya hingga ia tak sadarkan diri dan preman itu baru melepaskan dirinya.
Buk!
Revan terjatuh di jalanan dengan luka pukulan yang parah, kemeja laki-laki muda itu sudah bercampur dengan bercak darah yang keluar dari kepalanya akibat pukulan keras dari preman itu.
Laki-laki itu kini tak sadarkan diri di jalanan yang bahkan ia sendiri tidak tahu dimana.
*****