“Kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, kehilangan...” @windawulsar EMPAT tahun kemudian, di Indonesia… Berlindung di bawah payung hitam di tengah hujan deras, Gibran melayukan langkah menuju nisan abu-abu di bagian Timur makam. Ia membawa sebuket bunga Mawar jenis dark crimson yang melambangkan rasa duka dan cinta yang pedih. Berdiri tegap sambil memandang lurus batu nisan dengan senyum samar di ujung bibir. “Maaf.” Hanya satu kata itu yang bisa Gibran ucapkan dibalik gemuruh hatinya. Mengalami kehilangan bukan suatu perkara yang mudah, dan Gibran sudah paham betul bagaimana rasanya. Sedih, kecewa, takut dan gelisah, semua perasaan negatif muncul menguasai dirinya. Beberapa orang bahkan dapat mengalami depresi akibat tekanan berbagai perasaan n

